Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Ironi Kalimantan Timur: Berdiri di Atas Minyak, tapi Masak Pakai Kayu

Imran Ibnu oleh Imran Ibnu
16 Juni 2025
A A
Ironi Kalimantan Timur: Berdiri di Atas Minyak, tapi Masak Pakai Kayu

Ironi Kalimantan Timur: Berdiri di Atas Minyak, tapi Masak Pakai Kayu

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau kamu pernah ke desa-desa di Kalimantan Timur, mungkin kamu akan terkejut melihat pemandangan yang seharusnya tidak terjadi di tanah penghasil minyak: dapur berasap, kayu bakar menumpuk, dan ibu-ibu yang antri tabung gas melon.

Ironis? Sangat.

Kalimantan Timur adalah salah satu penghasil minyak dan gas terbesar di Indonesia. Daerah seperti Kutai Kartanegara, Balikpapan, dan Penajam Paser Utara menyimpan cadangan energi yang besar. Ladang-ladang migas sudah dieksploitasi sejak zaman Belanda, dan sampai hari ini masih jadi andalan ekspor nasional. Tapi kenyataannya? Warga di sekitar sumur minyak justru harus berebut tabung gas 3 kilogram yang entah kapan datangnya.

Negara kaya energi, tapi kami kekurangan BBM

Itulah suara-suara yang belakangan ini makin sering terdengar dari warga Kaltim. Bukan cuma soal gas elpiji, tapi juga krisis BBM yang makin akut. Antrean kendaraan di SPBU bisa mencapai puluhan meter. Sopir truk, nelayan, petani, bahkan tukang ojek, semua sama-sama bingung: di mana BBM yang katanya berlimpah itu?

“Setiap minggu, saya harus bangun jam 3 subuh cuma buat antri solar,” keluh Pak Taufik, sopir angkutan kayu di Kutai Barat. “Kadang dapat, kadang nggak. Padahal mobil saya nggak jalan kalau gak minum solar. Ini kerja atau judi?”

Begitu juga dengan para nelayan di PPU (Penajam Paser Utara) yang sering harus melaut tanpa kepastian bahan bakar. Mereka sudah terbiasa dengan sistem “nunggu jatah”, sebuah istilah halus dari kelangkaan yang terorganisir.

Gas elpiji: melon yang tak lagi manis

Krisis gas elpiji 3 kilogram di Kalimantan Timur bukan isu baru. Setiap bulan, selalu ada laporan tentang kelangkaan, harga yang melambung di tingkat pengecer, dan stok yang datang tak tentu waktu. Satu tabung gas yang seharusnya dijual Rp18.000 di agen resmi, bisa melonjak jadi Rp35.000, bahkan Rp40.000 di desa-desa pelosok.

Ibu Rina, warga desa di Samboja, mengatakan dia terpaksa kembali masak pakai kayu bakar karena sudah seminggu tidak mendapat gas. “Mau ke agen, habis. Mau beli di luar, mahal sekali. Kami ini tinggal di tanah minyak, tapi dapur kami pakai api dari ranting.”

Baca Juga:

Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

Pulau Maratua di Kalimantan Timur Indah, tapi Jarang Dilirik Wisatawan

Masalah makin pelik karena sebagian besar warga menggunakan gas subsidi 3 kg, yang hanya bisa dibeli jika ada stok dari Pertamina. Tapi distribusi gas sering tidak merata, bahkan kadang ada permainan nakal dari oknum pengecer yang menimbun untuk jual lebih mahal.

Ironi Kalimantan Timur: Krisis Energi di Tanah Kaya Energi

Ada sesuatu yang sangat salah di sini. Kalimantan Timur menyumbang kontribusi besar terhadap pendapatan negara dari sektor migas. Namun hasilnya tidak kembali secara adil ke masyarakat. Pembangunan kilang, pipa distribusi, bahkan pengolahan minyak mentah lebih banyak dilakukan di luar daerah. Kaltim hanya jadi tempat pengeboran—mengirim bahan mentah ke luar, lalu membeli hasil olahannya dengan harga tinggi.

Pertanyaannya: kenapa daerah penghasil harus ikut mengantre seperti daerah konsumen?

Masalah ini sebenarnya tidak murni karena keterbatasan stok nasional. Tapi karena lemahnya sistem distribusi, birokrasi subsidi yang rumit, dan minimnya kontrol terhadap rantai pasok di daerah. Di satu sisi, masyarakat dipaksa berhemat dan bergantung pada gas subsidi, tapi di sisi lain pengawasan terhadap mafia distribusi sangat lemah.

Ironi Balikpapan: Kota Minyak Tanpa BBM

Mari kita lihat contoh nyata: Kota Balikpapan. Kota ini dijuluki “Kota Minyak” sejak zaman kolonial karena adanya kilang besar milik Pertamina. Tapi coba datang ke Balikpapan hari ini. Setiap beberapa minggu, terjadi antrean panjang di SPBU, apalagi untuk solar. Bahkan ojek online dan kendaraan umum sering tidak bisa beroperasi penuh karena keterbatasan bahan bakar.

“Lucu ya, kilang minyaknya ada di sini, tapi buat beli bensin aja susah,” kata Ardi, tukang ojek di Balikpapan. “Kami ini kayak tikus yang mati di lumbung padi.”

Padahal kilang Balikpapan adalah salah satu yang terbesar di Indonesia. Namun, karena sistem distribusi dan kuota BBM ditentukan secara nasional, maka daerah penghasil pun tetap harus menunggu ‘jatah’ dari pusat. Kalau kuota habis, ya antre. Kalau tidak dapat, ya sabar.

Mengapa kelangkaan minyak dan gas di Kalimantan Timur bisa terjadi?

Salah satu alasan klasik yang sering dikemukakan pemerintah adalah soal “subsidi yang tidak tepat sasaran” dan “kuota yang terbatas”. Tapi sampai kapan rakyat kecil harus menanggung beban dari kebijakan yang tidak berpihak?

Kenapa tidak ada keberpihakan khusus untuk daerah penghasil? Kenapa pemerintah pusat begitu cepat menggelontorkan dana triliunan untuk proyek IKN, tapi lelet menata ulang sistem distribusi energi untuk rakyat Kaltim?

Di saat Kaltim memberi sumbangan besar untuk keuangan negara, justru masyarakat lokal harus menderita dengan energi yang makin langka dan mahal.

Solusi yang tak pernah sampai

Setiap kali kelangkaan terjadi, solusi pemerintah nyaris selalu sama: “Kami akan evaluasi distribusi”, “Akan ada tambahan kuota”, atau “Tunggu keputusan pusat.” Tapi di lapangan, tidak pernah ada perubahan yang signifikan.

Rakyat butuh tindakan nyata, bukan janji yang berulang. Rakyat ingin elpiji tersedia di warung-warung tanpa harus berebut. Juga, rakyat ingin BBM bisa diakses dengan adil tanpa harus antre seperti zaman perang.

Krisis energi di Kalimantan Timur bukan sekadar masalah logistik. Ini masalah keadilan. Ketika daerah yang menyumbang kekayaan negara justru terpinggirkan dalam distribusi, maka di situlah negara sedang gagal menjalankan amanatnya.

Negara hadir bukan sekadar untuk mengambil, tapi juga memastikan kesejahteraan. Kalau pusat bisa membangun jalan tol dan gedung kementerian di IKN, kenapa tidak bisa membenahi distribusi gas elpiji di desa-desa Kaltim?

Kaltim bukan meminta istimewa, tapi hanya ingin yang wajar: akses energi yang adil. Jangan sampai, di tanah yang kaya sumber daya, rakyat terus hidup dalam krisis. Jangan sampai, rakyat yang selama ini diam, akhirnya “naik minyak” karena dipaksa hidup dalam kesenjangan yang terus-menerus.

Waktu terus berjalan. Krisis ini bukan soal hari ini saja, tapi soal masa depan. Jika negara tidak segera menata ulang kebijakannya, maka kelangkaan bukan lagi hal aneh. Ia akan jadi kenyataan sehari-hari yang menyesakkan.

Dan saat itu tiba, kita hanya bisa bertanya: siapa yang sebenarnya menikmati kekayaan negeri ini?

Penulis: Imran Ibnu
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kopi Gerobak Keliling Tak Bisa Menggusur Pedagang Starling karena Kopi Starling Tetap Lebih Unggul

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 Juni 2025 oleh

Tags: gaskalimantan timurtambang minyak
Imran Ibnu

Imran Ibnu

Penulis magang dari belantara Borneo.

ArtikelTerkait

Bontang Kalimantan Timur, Kota Kaya Raya yang Kurang Hiburan Mojok.co

Bontang Kalimantan Timur, Kota Kaya Raya yang Miskin Hiburan

4 November 2023
Biaya Hidup di Kalimantan Timur Begitu Mahal bagi Perantau Jawa

Biaya Hidup di Kalimantan Timur Begitu Mahal bagi Perantau Jawa

2 Desember 2023
Pulau Maratua di Kalimantan Timur Indah, tapi Jarang Dilirik Wisatawan

Pulau Maratua di Kalimantan Timur Indah, tapi Jarang Dilirik Wisatawan

7 Agustus 2024
Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

1 April 2026
3 Makanan Khas Kalimantan Timur yang Diklaim Malaysia sebagai Makanan Khasnya

3 Makanan Khas Kalimantan Timur yang Diklaim Malaysia sebagai Makanan Khasnya

6 Agustus 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kembaran Bukan Purwokerto, Jangan Disamakan

Iya Saya Tahu Purwokerto Itu Kecamatan Bukan Kota, tapi Boleh Nggak Kita Santai Saja?

28 Maret 2026
Mimpi Lulusan S2 Mati di Jakarta, Masih Waras Sudah Syukur (Unsplashj)

Culture Shock Fresh Graduate yang Mengadu Nasib di Jakarta: Baru Sampai Langsung Ditipu Driver Ojol, Ibu Kota Memang Lebih Kejam daripada Ibu Tiri!

26 Maret 2026
Jakarta yang Keras di Dalam Ingatan Arek Surabaya (Unsplash)

Meski Keras dan Bisa Kejam, Faktanya Jakarta Bisa Bikin Rindu. Tapi Maaf, Saya Memilih Tidak Lagi Merantau dan Pulang ke Surabaya

27 Maret 2026
3 Alasan Stasiun Jombang adalah Tujuan Paling Rasional Menuju Malang Barat dibanding Stasiun Malang Kota

3 Alasan Stasiun Jombang Adalah Tujuan Paling Rasional Menuju Malang Barat dibanding Stasiun Malang Kota

29 Maret 2026
Kalau Penulis Buku Bermasalah, Pembacanya Ikut Berdosa Juga atau Tidak?

Kalau Penulis Buku Bermasalah, Pembacanya Ikut Berdosa Juga atau Tidak?

29 Maret 2026
Pesimis pada Honda Beat Karbu Berubah Respek karena Bisa Awet 12 Tahun Tanpa Rewel Mojok.co

Pesimis pada Honda Beat Karbu Berubah Respek karena Bisa Awet 12 Tahun Tanpa Rewel

27 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Siswa Terpintar 2 Kali Gagal UTBK SNBT ke UB, Terdampar di UIN Jadi Mahasiswa Goblok dan Nyaris DO
  • “Side Hustle” Bisa Hasilkan Hingga Rp500 Juta per Bulan Melebihi Gaji Kerja Kantoran, tapi Bikin Tersiksa karena Tidak Pernah Berhenti Bekerja
  • Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi
  • Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal
  • Backpackeran Naik KA Eksekutif Jogja-Jakarta Demi Menyembuhkan Luka, Malah Dibuat Kesal dengan Kelakuan Norak Penumpangnya
  • Terpaksa Naik Super Air Jet karena Tiket Murah, tapi Malah Dibikin “Plonga-plongo” karena Kelakuan Sok Asik Awak Kabin

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.