Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Ironi Derbi Mataram: Didramatisasi Kisah Priayi Keraton Jogja-Solo biar Seolah Ada Kebencian

Dicky Setyawan oleh Dicky Setyawan
12 September 2020
A A
derbi mataram persis solo psim mojok

derbi mataram persis solo psim mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Membaca tulisan Mas Gusti Aditya tentang doktrin kebencian suporter di bumi Mataram menggerakan saya untuk turut mengomentari kisruh antarsuporter trah Mataram, khususnya perseteruan PSIM Jogja dan Persis Solo. Walau tidak sekota dan seprovinsi, pertandingan ini sampai dijuluki Derbi Mataram mengingat kedua kota ini berasal dari rahim yang sama, sama-sama penerus dinasti Mataram Islam yang terbelah oleh Perjanjian Giyanti 1755. Lalu adakah kaitan kedua klub ini merivalkan diri dengan masing-masing keraton? Mari saya jabarkan.

Jika diuraikan benang merahnya, kebencian suporter PSIM dengan Persis sejatinya lahir dari dua tragedi balas-membalas, yaitu Tragedi Kandang Menjangan 1998 sebagai awal kebencian suporter PSIM terhadap suporter Arseto yang diteruskan hingga Persis Solo kini.

Sebaliknya, suporter Solo menjadikan Tragedi Mandala Krida 4 Juni 2000 sebagai alasan kebencian mereka. Alasan klasik bagi suporter Indonesia untuk merivalkan diri, sama halnya dengan balas-membalas suporter Persib dan Persija.

Yang menjadi ironi, pada perkembangannya perdebatan kedua suporter merembet keluar konteks. Kedua suporter mendramatisir narasi sejarah masing-masing keraton (Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta) sebagai micin tambahan seolah tragedi dua tahunan lalu sebagai garam masih belum cukup untuk sajian Derbi Mataram.

Membaca timeline sebelum pertandingan kedua tim ini saya serasa membaca ringkasan Babad Tanah Jawa dan Wikipedia. Misalnya, suporter PSIM menarasikan aib Kasunanan Surakarta yang di awal berdirinya cenderung manut dengan perintah VOC. Sementara suporter Persis menarasikan kepahlawanan priayi asal Solo utamanya Raden Mas Said sebagai salah satu tokoh yang paling keras menentang penjajah untuk membalas olok-olokan suporter PSIM. Polanya seperti itu, berputar-putar saling menampilkan keburukan dan kebaikan masing-masing kerajaan. Lucu!

Narasi ini merembet hingga keluar lingkup kedua suporter. Orang luar Jogja dan Solo, bahkan media pun, tergiring asumsi liar bahwa Derbi Mataram adalah derbi paling panas di Indonesia sebagai kepanjangan perseteruan dua trah Mataram. Padahal kalau kita bicara kaitan keraton terhadap kebencian masing-masing tim, kita akan melihat fakta sebaliknya.

Heroisme kedua tim ini terangkum dalam buku Pustaka Sepak Bola Surakarta. Dalam peresmian Stadion Sriwedari, Sunan Pakubuwono X mengundang PSIM Jogja sebagai lawan tanding Persis Solo dalam laga bertajuk Piala Sunan. Perjumpaan Persis dan PSIM juga terjadi di pembukaan acara-acara adat keraton seperti Sekaten. Kedua suporter saling berdampingan, tidak ada kebencian. Sebaliknya, justru Belanda yang dibuat kalang kabut melihat romantisnya dua tim ini.

Puncaknya ketika itu tim besutan Belanda, NIVB, mengajak tanding tim lokal besutan pribumi Persis Solo. Sebelum pertandingan, pamflet sudah disebar sementara tiket sudah terjual, ujug-ujug NIVB membatalkan pertandingan sepihak. Ternyata laga ekshibisi ini hanya siasat Belanda untuk mempermalukan tim pribumi kala itu supaya kehilangan simpati dari pendukungnya.

Baca Juga:

Sate Cak Ali: Titik Kumpul Suporter Persis Solo, Tempat Paling Nyaman untuk Kembali

Surat Terbuka untuk Yuli Sumpil dari Fans Persis Solo yang Pernah Mengagumi Arema

Tak kehilangan akal, Persis Solo mengundang tim pribumi lain PSIM Jogja untuk menggantikan NIVB kala itu. Bak gayung bersambut, PSIM mengiyakan, padahal PSIM dalam keadaan yang tidak siap. Ibu Soeratin (istri ketua PSSI) dan Ibu Sahir (istri ketua PSIM) sampai harus blusukan ke pasar demi mencari pemain yang kala itu bekerja sebagai tukang sate, tukang cukur, dan lain-lain. Semua dipersiapkan dalam waktu yang singkat dan PSIM sampai di Solo tepat waktu. Berkat PSIM, Persis Solo tak harus menanggung malu oleh siasat Belanda lewat NIVB-nya.

Persis Solo dan PSIM Jogja pula yang turut menginisiasi terbentuknya PSSI. Romantisme Persis dan PSIM berlanjut pada 1936 kala kedua tim didaulat mewakili tim PSSI untuk bertanding melawan Winner Sports Club, kesebelasan asal Austria.

Sayang, kisah heroisme ini jarang diangkat ketika kedua tim bersua. Padahal kisah di atas jelas ada kaitan langsung antara keraton dan kedua tim. Kebalikannya, sejarah yang tidak ada kaitannya selalu dibawa untuk memupuk kebencian yang sebenarnya baru lahir karena dua tragedi dua puluh tahunan lalu.

Entahlah, mungkin kebencian lebih mendongkrak animo atau sebenarnya kedua suporter mekso membawa sejarah yang tidak ada kaitannya dengan sepak bola, supaya pertandingan ini terkesan sarat dengan sejarah kebencian layaknya Kerajaan Spanyol dengan Real Madrid dan rakyat Katalan dengan Barcelona.

Sebagai pihak yang netral, tak bisa bohong bahwa darah saya masih mendidih termakan gengsi ketika menyaksikan laga ini. Hanya gengsi, selebihnya tak perlu membumbui dengan narasi sejarah perseteruan masing-masing keraton yang tidak ada kaitannya. Persis Solo dan PSIM Jogja tidak lahir sebagai tangan panjang perseteruan trah Mataram sesudah Perjanjian Giyanti, Persis Solo dan PSIM Jogja lahir sebagai manifestasi penyatuan dua trah Mataram dalam melawan penjajah. Bersatulah!

Sumber gambar: Akun Twitter @soloposdotcom.

BACA JUGA Bully yang Dialami Adik Saya dan Surat Cinta Terbuka Untuknya dan tulisan Dicky Setyawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 12 September 2020 oleh

Tags: derbi matarampersis solopsim
Dicky Setyawan

Dicky Setyawan

Pemuda asal Boyolali. Suka menulis dan suka teh kampul.

ArtikelTerkait

Surat Terbuka untuk Yuli Sumpil dari Fans Persis Solo yang Pernah Mengagumi Arema (Unsplash)

Surat Terbuka untuk Yuli Sumpil dari Fans Persis Solo yang Pernah Mengagumi Arema

3 Februari 2023
Mataram Is Love, Menyambut Sejuk Persaudaraan Fans PSIM, PSS, dan Persis Solo (Unsplash.com)

Mataram is Love, Menyambut Sejuk Persaudaraan Fans PSIM, PSS, dan Persis Solo

4 Oktober 2022
Sate Cak Ali: Titik Kumpul Suporter Persis Solo, Tempat Paling Nyaman untuk Kembali

Sate Cak Ali: Titik Kumpul Suporter Persis Solo, Tempat Paling Nyaman untuk Kembali

17 Maret 2025
Menyatukan Air Mata untuk Tragedi Kanjuruhan, Memeluk Rival Menyudahi Pertikaian (Foto ini milik: @Dicki66)

Menyatukan Air Mata untuk Tragedi Kanjuruhan, Memeluk Rival Menyudahi Pertikaian

5 Oktober 2022
liga 2 judi bola shin tae-yong konstitusi indonesia Sepakbola: The Indonesian Way of Life amerika serikat Budaya Sepak Bola di Kampung Bajo: Bajo Club dan Sejarahnya yang Manis terminal mojok.co

Liga 2 Indonesia, Kompetisi Sepak Bola Paling Seru di Dunia

23 September 2021
Solo Tembus Jogja Apakah Hanya Kekerasan yang Akan Kita Wariskan Kelak (Unsplash.com)

Solo Tembus Jogja? Apakah Hanya Kekerasan yang Akan Kita Wariskan Kelak?

25 Juli 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Malang, sebab Selalu Dilatih dengan Menghindari Jalanan Berlubang!

Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Malang, sebab Selalu Dilatih dengan Menghindari Jalanan Berlubang!

11 Januari 2026
Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

16 Januari 2026
5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo Mojok.co

5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo

15 Januari 2026
Bukan Malang, Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Banyuwangi. Tak Hanya Jalanan Berlubang, Truk Tambang pun Dilawan

Bukan Malang, Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Banyuwangi. Tak Hanya Jalanan Berlubang, Truk Tambang pun Dilawan

15 Januari 2026
MR DIY Tempat Belanja yang Lebih Nyaman, Lengkap, dan Worth It ketimbang Miniso

MR DIY Tempat Belanja yang Lebih Nyaman, Lengkap, dan Worth It ketimbang Miniso

11 Januari 2026
Alasan Lupis Legendaris Mbah Satinem Jogja Cukup Dikunjungi Sekali Aja Mojok.co

Alasan Lupis Legendaris Mbah Satinem Jogja Cukup Dikunjungi Sekali Aja

16 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • 2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup
  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.