Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

iPusnas Justru Bikin Saya Malas Baca Buku karena Antrean Peminjamnya sampai Ribuan!

Tiara Uci oleh Tiara Uci
20 November 2023
A A
iPusnas Justru Bikin Saya Malas Baca karena Antrean Peminjamnya sampai Ribuan!

iPusnas Justru Bikin Saya Malas Baca karena Antrean Peminjamnya sampai Ribuan!

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau ada orang yang mengatakan minat baca masyarakat Indonesia rendah sekali, barangkali mereka harus download aplikasi iPusnas dan mencoba pinjam buku di sana. Percayalah, kalian bakal syok mendapati betapa susahnya meminjam buku di iPusnas lantaran antreannya sangat panjang. Bahkan berdasarkan pengalaman saya, untuk meminjam satu judul buku (baca: e-book) antreannya bisa sampai ribuan orang!

Bagi yang belum tahu, iPusnas adalah aplikasi perpustakaan digital milik Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Aplikasi iPusnas sudah dilengkapi eReader dan fitur media sosial sehingga penggunanya dapat terhubung dan berinteraksi satu sama lain. Saat ini, aplikasinya bisa diunduh dan diinstal pada laptop dan smartphone (iOS maupun Android).

iPusnas solusi kaum mendang-mending yang ingin membaca buku

Kurang lebih ada 891.397 judul buku dengan format e-book di iPusnas yang bisa kita pinjam secara gratis. Hal tersebut jelas sangat membantu masyarakat miskin dan kaum mendang-mending yang haus akan bacaan, tapi uang di kantong pas-pasan.

iPusnas juga bermanfaat bagi orang-orang di luar Pulau Jawa atau daerah lain yang nggak memiliki toko buku. Lho, memang ada ya daerah di Indonesia yang nggak memiliki toko buku dan perpustakaan? Banyak, Gaes. Di daerah 3 T (terdepan, terpencil, tertinggal) umumnya susah mencari sumber bacaan. Di sisi lain, mayoritas masyarakat yang hidup di daerah 3T tetap memiliki smartphone. Jadi, kehadiran iPusnas akan sangat berguna bagi mereka, asalkan disosialisasikan dengan benar.

Meminjam buku di iPusnas sebenarnya juga nggak ribet, kok. Semua orang yang bisa menggunakan smartphone harusnya bisa meminjam buku (e-book). Syarat agar bisa meminjam buku hanya perlu mendaftar atau membuat akun iPusnas dengan cara memasukkan email yang masih aktif dan mengisi data diri. Proses pendaftarannya nggak sampai lima menit. Setelah memiliki akun, kita langsung bisa meminjam buku dan mengakses semua fitur iPusnas.

Daftar tunggu (antrean) terlalu banyak untuk satu judul e-book

Tidak ada yang sempurna di muka bumi ini. Pepatah tersebut juga berlaku untuk aplikasi iPusnas. Meskipun tujuan dibuatnya iPusnas bagus, untuk mendorong warga Indonesia gemar membaca dan mendapatkan informasi yang berkualitas secara gratis. Namun, kalau aplikasinya nggak dipantau dan terus dikembangkan, ide yang bagus justru berakhir menjadi sesuatu yang menjengkelkan.

Saya sendiri sudah beberapa kali dibuat jengkel oleh iPusnas dan masalahnya selalu sama, yaitu waktu tunggu (antrean) yang terlalu lama untuk satu judul e-book. Saking lamanya, saya sampai badmood dan akhirnya malas membaca.

Sebenarnya saya sudah beberapa kali meminjam e-book di iPusnas dan antre dengan pengguna lainnya. Namun pengalaman yang terakhir ini benar-benar nggak ngotak dan menjengkelkan sampai saya langsung kepikiran menuliskannya di Terminal Mojok dan berharap pengelola iPusnas membacanya.

Baca Juga:

iPusnas, Aplikasi Perpustakaan Nasional Gratisan yang Sering Bikin Patah Hati

Goa Jatijajar, Objek Wisata di Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi

Mau pinjam e-book tapi waiting list-nya sampai 8.230 orang!

Jadi begini, saya sedang ingin membaca bukunya Sakae Tsuboi yang berjudul Twenty-Four Eyes. Saya kemudian mencari judul buku tersebut di aplikasi iPusnas dan menemukannya. Nggak pakai pikir panjang, saya langsung klik judul bukunya dan berencana meminjam untuk dibaca. Sayangnya, stok bukunya ternyata 0 (kosong) lantaran buku tersebut masih dipinjam pengguna lain.

Takut kehabisan bukunya, saya pun melihat jumlah waiting list atau orang lain yang juga menunggu giliran meminjam e-book karya Sakae tersebut. Dan, betapa terkejutnya saya saat mendapati ada 8.354 orang yang masuk dalam daftar antrean. Berikut saya lampirkan screenshootnya:

Antrean panjang pinjam buku di iPusnas (Dokumentasi Pribadi)
Antrean panjang pinjam buku di iPusnas (Dokumentasi Pribadi)

Seingat saya, durasi peminjaman di iPusnas adalah 7 hari dan dapat diperpanjang 1 kali. Jika dalam waktu 7 hari kita belum menyelesaikan e-book yang dipinjam, e-book tersebut otomatis kembali ke koleksi (rak digital) iPusnas. Kalau kita masih mau membaca e-book tersebut, kita perlu melakukan perpanjangan atau peminjaman kembali.

Mari kita asumsikan setiap peminjam e-book Sakai selesai membaca dalam 7 hari, jika antrian tunggunya adalah 8.354 orang, maka saya harus menunggu selama 58.478 hari. Kalau satu tahun ada 365 hari, artinya saya harus menunggu selama 22 tahun untuk bisa membaca buku Sakai tersebut. Yang benar saja, bukannya semangat membaca, yang ada saya badmood, Gaes.

Ketimbang stres dan mengganggu saya secara psikologis, akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku tersebut di toko buku Gramedia. Bagi orang yang hidup di Surabaya seperti saya mudah saja menemukan buku tersebut di Gramedia atau toko buku lainnya.

Masalahnya akan berbeda bagi pengguna iPusnas yang hidup di Labuha, Maluku Utara, misalnya. Boro-boro bisa mendapatkan buku fisiknya, Gramedia saja nggak ada di sana. Sementara kalau mau pesan online, ongkirnya jelas mahal. Bisa-bisa lebih mahal ongkir ketimbang harga bukunya. Pilihan yang masuk akal akhirnya ya pasrah dan nggak jadi membaca buku.

Saran untuk iPusnas: perbanyak jumlah copy e-book

Saya punya saran untuk pengelola iPusnas yang membaca artikel ini. Sebaiknya jumlah copy e-book per judul ditambah untuk buku-buku yang banyak diminati oleh pengguna iPusnas. Saya rasa nggak sulit kok mendata buku apa saja yang paling banyak dibaca karena semuanya sudah tercatat di aplikasi iPusnas. Ya kecuali kalau aplikasi ini dibuat sekadar agar pemerintah kita terlihat melek digital dan peduli literasi warganya.

Hal lain yang perlu diperhatikan oleh iPusnas adalah stok e-book baru. Entah kenapa, iPusnas nggak update dengan buku (e-book) terbaru. Selain itu, rata-rata e-book di iPusnas adalah buku-buku keluaran KPG (Kompas Gramedia) dan buku-buku arus utama. Untuk buku dari penerbit lainnya jarang sekali ada. Padahal zaman sekarang ini banyak juga lho penerbit yang mengeluarkan buku versi e-book.

Sampai saat ini di HP saya masih ada aplikasi iPusnas. Namun, kalau dua masalah di atas nggak diperbaiki oleh pihak terkait, rasanya lama-kelamaan pengguna iPusnas bukannya bertambah tapi malah berkurang.

Pada akhirnya, jika pemerintah mengatakan warganya malas membaca, ada baiknya introspeksi terlebih dahulu. Barangkali bukan rakyat yang malas baca, Pak/Bu, tapi fasilitasnya yang nggak ada.

Penulis: Tiara Uci
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Rekomendasi Buku Bagus yang Tersedia di iPusnas.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 November 2023 oleh

Tags: Baca Bukubuku digitale-bookipusnasLiterasiPerpustakaanpilihan redaksipinjam buku
Tiara Uci

Tiara Uci

Alumnus Teknik Mesin Universitas Negeri Surabaya. Project Manager perusahaan konstruksi di Surabaya. Suka membaca dan minum kopi.

ArtikelTerkait

Hindari Modus Penipuan Lowongan Kerja dengan 3 Tips Ini! Terminal Mojok.co

Hindari Modus Penipuan Lowongan Kerja dengan 3 Tips Ini!

25 Juli 2022
Bali Zoo Bali, Kebun Binatang untuk yang Mampu-mampu Aja Mojok.co

Bali Zoo, Kebun Binatang untuk yang Mampu-mampu Aja

22 April 2025
Bertahun-tahun Merantau di Kediri Bikin Saya Sadar, Nggak Semua Orang Cocok Hidup di Daerah Ini Mojok.co surabaya

Kediri yang Lupa Ingatan: Tingkat Kegemaran Membaca Rendah, padahal Sejarah Kediri Erat dengan Literasi

23 September 2024
Tips untuk Sineas agar Filmnya Tembus 6 Juta Penonton kayak KKN di Desa Penari Terminal Mojok.co

Tips untuk Sineas agar Filmnya Tembus 6 Juta Penonton kayak KKN di Desa Penari

17 Mei 2022
Membandingkan Perjalanan Jogja-Banyuwangi: Naik Kereta Api Sri Tanjung Lebih Aman, Naik Bus Sama dengan Setor Nyawa

Membandingkan Perjalanan Jogja-Banyuwangi: Naik Kereta Api Sri Tanjung Lebih Aman, Naik Bus Sama dengan Setor Nyawa

26 Oktober 2023
Tulangan Sidoarjo: Daerah Perbatasan yang Nyaman, Cocok Jadi Tempat Pensiunan Mojok.co

Tulangan Sidoarjo: Daerah Perbatasan yang Nyaman, Cocok Jadi Tempat Pensiunan

16 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi Mojok.co

Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi 

5 Februari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

1 Februari 2026
4 Menu Mie Gacoan yang Rasanya Gagal, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Menyesal seperti Saya

Tips Makan Mie Gacoan: Datanglah Pas Pagi Hari, Dijamin Rasanya Pasti Enak dan Nggak Akan Kecewa

1 Februari 2026
Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali Mojok.co

Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali

6 Februari 2026
Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat Mojok.co

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.