Imlek 2026 Menjadi Kenangan Manis akan Usaha Simbah Menurunkan Kasta Dodol sebagai Upaya Berterima Kasih kepada Rezeki

Imlek 2026 Kenangan Simbah Mensyukuri Dodol sebagai Rezeki (Wikimedia Commons)

Imlek 2026 Kenangan Simbah Mensyukuri Dodol sebagai Rezeki (Wikimedia Commons)

Hari ini Imlek 2026. Saya membayangkan banyak keluarga keturunan Tionghoa yang saat ini sedang berkumpul. Mereka duduk satu meja, makan bersama, lalu saling berbagi angpao.

Vibes Imlek 2026 tidak hanya terasa di rumah-rumah keturunan Tionghoa. Tapi, merembes sampai ke ruang-ruang publik. Pusat perbelanjaan mendadak penuh ornamen merah dan emas.

Kebetulan, semalam saya lewat di dekat Klenteng Tek Hay Kiong Kota Tegal. Klenteng ini konon katanya klenteng tertua di kota ini. Dan kalian tahu? Sepanjang jalan menuju kawasan itu, hiasan merah menyala mendominasi, lengkap dengan lampion-lampion yang tergantung rapi. Cantik sekali.

Saya memang tidak merayakan Imlek 2026, tapi setidaknya, berkat hari raya ini, pagi saya jadi lebih santai. Saya bisa jogging dulu, drakoran, trus lanjut ngetik sambil ngopi. Aihh, nikmat sekali. 

Coba ada dodol yang menemani, pasti lebih afdal. Setelah diingat-ingat lagi, sudah lama betul saya tidak makan dodol. Padahal dulu, setiap imlek, makanan manis yang satu ini tidak pernah absen di rumah.

Baca juga: 7 Makanan Khas Imlek yang Punya Makna dan Harapan Baik

Imlek 2026 dan kisah camilan bernama dodol

Tidak ada dodol di Imlek 2026 kali ini. Kalau saya ingat lagi, sudah lama kami tidak makan camilan manis ini. Dulu, keluarga saya bisa makan dodol tiap Imlek bukan karena punya tetangga keturunan Tionghoa

Tetangga kami asli Jawa semua. Bukan pula sengaja membeli karena sedang momennya. Gila aja. Keluarga kami tidak sekaya itu sampai gabut beli dodol buat camilan.

Cuma, dulu itu bos ibu saya seorang keturunan Tionghoa. Itu sebabnya, setiap momen Imlek, ibu saya dapat jatah dodol dari bosnya. Tapi, jangan membayangkan ibu saya bekerja di perusahaan gede, ya, yang setiap pagi rapi jali trus pakai lanyard ala-ala mbak SCBD. Nggak. Ibu saya kerja di toko baju, kok.

Di Imlek 2026 kali ini, kalau saya ingat lagi, dodol pemberian bos ibu saya bukan yang murahan. Kelihatan kok dari kemasan dan rasanya yang eksklusif. Kelihatan banget mahalnya. Masalahnya, di rumah kami, makanan mahal belum tentu cocok di lidah. Ndeso pancen.

Dodol yang tidak laku 

Saya jadi ingat kali pertama makan burger. Sekitar tahun 90-an, salah satu teman mentraktir saya burger.

Kawan saya ini orang berada. Di hari ulang tahunnya, dia mentraktir kawan-kawannya makan burger. Alih-alih menghabiskannya sampai suapan terakhir, saya malah berhenti di suapan pertama. 

Lidah saya menolak. Kombinasi roti, ketemu daging sama asin-asin keju sungguh tak masuk di lidah saya. “Makanan apa ini?” Batin saya memberontak kala itu. Kalau sekarang sih, sudah lain cerita. Sudah suka. 

Balik soal dodol. Kalian tahu? Dodol itu seringnya berakhir nahas. Ya, kami memang memakannya, tapi cimit-cimit. Gimana, ya? Camilan ini terlalu manis, terlalu eksklusif, dan berat bagi lidah kami yang terbiasa dengan bongkrek, gembus, dan boled ini.

Sampai akhirnya, masuklah simbah saya sebagai pahlawan utama dalam drama ini. Di Imlek 2026 kali ini saya jadi mengenang kebiasaan unik itu.

Jadi, simbah akan mengiris dodol itu tipis memanjang. Lalu, simbah menaburkan parutan kelapa dengan tambahan garam. Terakhir, simbah mengukus “adonan” itu.

Kalau ada kasta camilan, dodol ala simbah saya ini akan turun kasta paling bawah. Bukan lagi camilan mewah, tapi dodol dengan cita rasa kearifan lokal. Anehnya, setelah diperlakukan tidak lazim, si dodol malah jadi rebutan. Itulah yang malah saya kenang di Imlek 2026 kali ini.

Baca juga: Persahabatan Aneh dengan Anak Cina Membawa Saya ke Pecel Lele di Bawah Jembatan Janti yang Menjadi “Pelarian” bagi Orang Jawa

Dari manis jadi gurih-asin

Sampai Imlek 2026 sekarang, saya nggak habis pikir. Dari mana simbah punya ide itu. Mungkin, itu cara simbah mensyukuri rezeki yang datang. Kalau nggak habis dimakan, kan mubazir. 

Maka, apakah ini semua karena insting atau pengalaman? Atau memang generasi dulu punya kreativitas yang lahir dari keterbatasan? Entahlah.

Yang jelas, lucu juga kalau di Imlek 2026 kali ini saya mengingat lagi. Manisnya dodol yang oleh etnis Tionghoa mencerminkan harapan akan kehidupan yang manis. Nah, di tangan simbah saya, justru rasanya jadi gurih-gurih asin. Seolah, simbah ini pengin bilang kalau, “Hidup itu jangan cuma manis. Nanti eneg.”

Tapi, menulis untuk Imlek 2026 begini kok tiba-tiba bikin saya jadi mikir, ya. Apakah garis hidup saya yang tidak selalu manis ini ada kaitannya dengan laku simbah mencampur dodol dengan parutan kelapa asin? 

Buktinya, hidup saya tidak melulu manis, tapi ada gurih-asinnya. Ada momen bahagia karena dapat rezeki tidak terduga, tapi ada juga momen di mana obat sakit kepala jadi teman cerita.

Dan andai dulu simbah tidak pernah mencampur dodol dengan parutan kelapa asin, mungkinkah hidup saya saat ini jadi full manis, semanis dodol?

Hahaha… Canda dodol~

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA 5 Hal yang Saya Nikmati sebagai Seorang Muslim Saat Tahun Baru Imlek

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version