Kalau punya 100 miliar, ide bisnis apa yang ideal untuk Semarang? Jawabannya adalah rumah kesejahteraan anjing. Izinkan saya bercerita.
Jujur saja, kalau kaya mendadak, saya sama sekali nggak kepikiran ide bisnis yang lumrah. Bikin kafe estetik, buka franchise minimarket, atau ikut-ikutan jadi investor startup teknologi yang ujung-ujungnya bakar duit nggak menarik buat saya.
Kok rasanya ngapain gitu bikin bisnis buat manusia?
Manusia di muka bumi ini sudah terlalu banyak. Egois pula. Mereka hobi merusak alam, bikin polusi, dan sering amnesia kalau planet ini bukan cuma milik mereka. Iya, mereka sering lupa kalau banyak makhluk lain yang menghuni bumi ini, yang nasibnya jauh lebih malang. Contohnya adalah anjing.
Binatang setia itu sering menjadi pelampiasan ego manusia. Banyak orang memelihara anjing cuma pas masih lucu-lucunya. Giliran renta atau sakit, mereka dengan tega membuangnya begitu saja.
Belum lagi, nggak sedikit pula oknum yang mengonsumsinya. Fenomena ini banyak saya lihat di Kota Semarang.
Melihat kenyataan pahit itu, tekad saya bulat. Kalau Tuhan kelak menitipkan rezeki 100 miliar, saya dengan penuh kesadaran akan mendedikasikan seluruh harta itu untuk membangun kerajaan bisnis yang berfokus penuh pada satu hal, menjamin kesejahteraan anjing-anjing. Sebuah ide bisnis yang nggak bakal ada di kepala kamu.
Ide bisnis khusus makanan anjing di Semarang
Ide bisnis ini pertama kebayang di kepala mewujud kepada produksi makanan segar khusus anjing yang diracik berbasis terapi. Alasannya sederhana. Banyak anjing yang punya masalah kesehatan khusus. Mulai dari alergi parah sampai butuh menu pemulihan pasca-operasi yang nggak boleh asal.
Rencananya, makanan homemade ini bakal dibuat secara personal dan disesuaikan langsung dengan profil genetik si anjing.
Ahli gizi hewan akan menimbang dan memeriksa semua resep. Kami akan mengemasnya secara rapi dalam wadah vacuum pack estetik, lalu mengirimkannya secara eksklusif langsung ke rumah-rumah klien VIP yang punya anjing ras berharga fantastis.
Maklum, ini memang ide bisnis yang secara sadar dibikin buat meraup cuan dari kantong para sultan berdompet tebal di Semarang.
Jadi, saya akan menyulap dapur rumah saya menjadi pusat logistik makanan sehat anjing. Buat mewujudkan dapur impian para anjing elite ini, modal awal minimal 30 miliar.
Kenapa mahal? Karena semua aspek berasal dari hitungan matang secara medis. Supaya tiap suapan makanan benar-benar menjamin kesehatan anjing, bernutrisi tinggi, dan jauh dari ancaman obesitas.
Pusat rehabilitasi anjing dengan vibes villa, ide bisnis yang mungkin terdengar gila
Ide bisnis saya yang berhubungan dengan anjing tidak berhenti di makanan. Langkah berikutnya, saya mau mengalokasikan 35 miliar buat menyulap sebuah rumah menjadi pusat pemulihan khusus anjing. Khususnya, bagi yang sudah sepuh atau habis cedera.
Biar makin totalitas, wajib ada kolam renang khusus anjing untuk latihan dan bersenang-senang. Dan tentu saja airnya nggak pakai klorin yang bikin pedih mata mereka.
Saya juga akan bikin ruang fisioterapi dan akupuntur khusus anjing. Maklum, anjing yang lagi sakit atau mentalnya down karena trauma butuh tempat tenang.
Bukan suasana dengan bau obat menyengat dan penuh suara gonggongan seperti di klinik hewan. Lewat konsep ide bisnis rehabilitasi ala rumahan yang homey, anjing-anjing tadi bisa mendapat perawatan medis yang serius, tapi tetap kami membungkusnya dengan kehangatan.
CSR saya adalah rumah pensiunan bagi anjing senior di Semarang
Meskipun ide bisnis ini bentuknya cuma usaha rumahan, urusan tanggung jawab sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR) tetap nggak boleh setengah-setengah. Inilah fungsi 35 miliar sisanya. Yaitu membangun rumah pensiunan eksklusif bagi anjing-anjing senior di Semarang
Di tempat peristirahatan ini, para anjing senior bakal menikmati masa tua selayaknya orang have. Mereka tidur di atas kasur memori ortopedi, alunan musik klasik menemani, lengkap dengan pengawasan perawat hewan siaga 24 jam penuh.
Jadi, lewat ide bisnis ini, uang 100 miliar rupiah nggak cuma numpang lewat saja. Tapi, lewat perencanaan semacam ini, saya jadi tahu persis di mana harus menaruh nurani
Kalau kelak semesta tiba-tiba berbaik hati menjatuhkan durian runtuh sebesar itu, biarkan orang-orang di luar sana sibuk membangun dinasti bisnis demi memuaskan ambisi manusia yang nggak ada matinya.
Ide bisnis saya cukup memilih jalan lain yang lebih senyap. Membangun surga kecil bagi makhluk-makhluk berbulu yang selama ini cuma bisa mencintai tanpa syarat, tapi justru paling sering disia-siakan.
Lagipula, selama hidup, saya belum pernah sekalipun digigit anjing. Kalau sama manusia? Wah, rasanya sudah kenyang betul saya merasakannya.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
