Pengalaman pertama kali menginap di hotel kapsul dekat Stasiun Tugu Jogja. Nyaman sih, tapi nggak cocok untuk berlama-lama

Pengalaman pertama kali menginap di hotel kapsul dekat Stasiun Tugu Jogja. Nyaman sih, tapi nggak cocok untuk berlama-lama Mojok.co

Pengalaman pertama kali menginap di hotel kapsul dekat Stasiun Tugu Jogja. Nyaman sih, tapi nggak cocok untuk berlama-lama (unsplash.com)

Seumur hidup saya belum pernah merasakan rebahan di dalam hotel kapsul. Walau bukan hal baru dalam dunia travelling, belum pernah sekalipun saya mencoba bermalan di penginapan mungil yang hanya muat untuk satu orang ini. 

Selama ini saya berpikir, apa enaknya tidur di dalam ruangan yang cuma muat sebadan doang? Selain itu, kita harus bergabung bersama pengguna lain walaupun beda unit. Namun, pemikiran ini berubah ketika beberapa waktu lalu saya berkesempatan pergi ke Jogja dan menginap di hotel kapsul dekat Stasiun Tugu. 

Saya naik KA Bogowonto dan tiba di Stasiun Tugu Jogja dini hari, 01.30 WIB. Di waktu itu begitu sulit mencari penginapan bebas jam check-in dengan harga murah dan mudah dijangkau. Lalu, seorang teman merekomendasikan hotel kapsul dekat stasiun yang bisa check-in kapan saja dengan harga Rp100.000-an per-malam. Nah, ini yang saya cari.

Hotel kapsul hanya berjarak 1 kilometer dari Stasiun Tugu Jogja. Lokasinya strategis di pinggir jalan raya dan dekat dengan minimarket ataupun tempat makan. 

Kesan pertama saya, sebenarnya penginapan ini tidak mirip kapsul, lebih mirip kotak tidur bertingkat yang memiliki password pembuka pintu di setiap unitnya. Dan, pengalaman pertama kali menginap di hotel kapsul atau sleepbox dekat Stasiun Tugu Jogja akan saya rangkum di sini.

#1 Hotel kapsul nyaman untuk seorang introvert seperti saya

Konsep hotel ini bisa disebut sharing ruangan bersama tamu lain. Setiap lorong memiliki sekitar 10 bilik tidur bertingkat. Sebagai seorang yang suka sendiri, tempat ini cukup nyaman untuk saya. Ketika sudah masuk ke dalam ruang tidur, saya seperti menemukan ketenangan. Tidak perlu berinteraksi dengan siapapun. FYI, satu ruang hotel kapsul ini hanya diperuntukkan untuk 1 orang ya.

Saya bebas melakukan apapun di dalam, seperti baca buku, nonton, dan tidur tanpa ada gangguan. Rasanya seperti hidup dalam kedamaian. Lelah setelah perjalanan jauh pun sirna. 

Ada satu hal yang membuat saya agak canggung sebenarnya, yaitu kamar mandi bersama jadi mirip kamar mandi kos-kosan. Setiap lantai disediakan satu kamar mandi. Untung waktu itu agak sepi, jadi tidak antri. Selain itu, interior kamar mandinya sudah modern dan bersih pula.

#2 Bebas jam check in, resepsionis 24 jam standby

Salah satu masalah klasik wisatawan yang datang ke Jogja yaitu sampai tujuan dini hari. Mau tidur di stasiun menunggu pagi ya melelahkan. Mau nongkrong di kafe 24 jam sampai terang kok kayaknya gabut. 

Mau check in di hotel biasa terlalu banyak syarat. Nah, untungnya ada hotel kapsul dekat Stasiun Tugu ini bebas jam masuk dengan resepsionis 24 jam. Jadi bisa langsung bobok cantik dengan kasur yang nyaman.

Waktu itu saya datang jam 2 subuh, tapi wajib check in sehari sebelumnya. Praktis banget, bisa chat lewat WhatsApp. Ketika sudah sampai, petugas resepsionis langsung mengurus kamar dan saya bisa langsung rebahan tanpa harus menunggu lama. 

Bagi saya, fleksibilitas check in ini merupakan fitur paling nyaman untuk wisatawan yang kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh. Ya untuk sekedar meluruskan punggung, bolehlah.

#3 Tidak untuk staycation, hanya cocok untuk istirahat sebentar

Jika agendamu ke Jogja hanya ingin staycation sambil nonton Netflix lalu pesan makanan online, saya tidak menyarankan untuk memilih hotel kapsul. Sebaiknya tidak memaksakan diri untuk untuk rebahan terlalu lama dalam bilik mungil ini. 

Kasur hotel kapsul ini memang empuk. Selain itu ada meja, cermin, AC yang adem, bikin betah tidur seharian. Namun, sebaiknya kamu memilih hotel pada umumnya saja. Penginapan kapsul ini konsepnya dibuat untuk transit saja, meluruskan punggung, memulihkan energi, lalu langsung check out untuk menjelajah Jogja seharian. 

Lagipula, penginapan ini tidak memiliki jendela agar kamu bisa menikmati cityview sambil tiduran dalam selimut hangat. Saya pun merasa sumpek kelamaan di dalam kotak tidur itu. Saat matahari mulai muncul, saya langsung keluar hotel untuk cari sarapan dan kopi pagi.

Menghabiskan waktu di dalam sini membuat saya merasa seperti diisolasi. Meskipun begitu, lelah saya terbayarkan sih dengan harga yang ramah kantong, apalagi buat kaum mendang-mending seperti saya ini.

Jika datang ke Jogja lagi atau mungkin ke kota lain, saya akan cari penginapan semacam ini lagi sih. Cukup worth it untuk mengistirahatkan tubuh sebelum berkeliling kota. Kalau kamu gimana? Sudah pernah belum menginap di hotel kapsul?

Penulis: Rachelia Methasary
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Trauma menginap di hotel murah Cikarang yang lebih cocok jadi tempat uji nyali daripada tempat bermalam.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version