Dua belas tahun bukanlah waktu yang singkat untuk apapun. Termasuk untuk memiliki dan mengendari sebuah kendaraan. Namun, hal itu tidak berlaku pada kawan saya. Dia mampu merawat Honda Beat karbu hingga 12 tahun tanpa rewel.
Teman saya ini bukan mekanik. Bukan juga orang yang ngulik dan ngobrolin motor sampai larut malam. Itulah yang membuat saya makin kagum. Dia hanya pekerja media yang mobilitasnya tinggi, sibuk, dan tidak punya banyak waktu untuk urusan teknis.
Lalu, bagaimana bisa dia mengendarai motor yang sama selama belasan tahun? Itu semua murni ketelatenan yang membuatnya bisa bertahan dengan motor yang terkenal rewel ini.
Ragu pada Honda Beat karbu karena stereotipe yang telanjur menempel
Teman saya membeli Honda Beat karbu berwarna merah hitam keluaran 2012. Dia membelinya pada 2014 sebagai tangan ketiga. Dia tidak pernah menyesal membelinya, walau bukan motor baru, teman saya bilang motor ini tidak pernah mogok hingga detik ini.
Kenyataan ini jelas bertolak belakang dengan reputasi Honda Beat karbu selama ini. Honda Beat karbu punya reputasi yang setengah-setengah di kalangan pengguna motor. Bukan karena performanya buruk, tapi karena ia lahir di era yang sudah mulai ditinggalkan. Ketika Beat injeksi mulai masuk dan semua orang beralih ke teknologi yang lebih modern, Beat karbu pelan-pelan jadi motor yang dipandang sebelah mata.
Akan tetapi, semua stereotipe negatif itu berhasil dipatahkan oleh kawan saya. Bahkan, kawan saya pernah melakukan perjalanan ke Pangandaran dan Puncak dengan motor ini tanpa kendala berarti.
Rahasia betah naik Honda Beat karbu
Kalau kamu berharap ada tips mekanis yang canggih di balik ketahanan Beat karbu teman saya, bersiaplah kecewa.
Rahasianya sederhana sampai terasa membosankan. Ganti oli setiap tiga bulan sekali. Servis CVT dan karburator setiap enam bulan sekali. Ganti oli gardan setiap dua tahun. Itu saja. Tidak ada modifikasi, tidak ada perlakuan khusus, tidak ada ritual aneh.
Hasilnya adalah motor tangan ketiga yang masih berjalan tanpa drama di usianya yang ke-14. Mesin anteng, tidak ada bunyi aneh, dan tidak pernah sekali pun membuat pemiliknya repot di pinggir jalan.
Yang menarik, justru kedisiplinan itulah yang membedakan Beat karbu teman saya dengan motor-motor seusianya. Biasanya motor seperti itu sudah lama masuk bengkel besar atau dijual murah karena kondisinya memburuk. Bukan soal motornya lebih bagus dari yang lain. Tapi, karena pemiliknya tidak pernah menunda servis dengan alasan sibuk atau lupa.
Karbu vs injeksi perdebatan yang tidak perlu
Banyak orang langsung mencoret Beat karbu begitu melihat teknologinya yang dianggap ketinggalan zaman. Injeksi lebih irit, lebih mudah dirawat, tidak perlu setel karbu. Semua itu benar.
Akan tetapi, banyak orang lupa satu keunggulan karbu: lebih mudah diperbaiki di mana saja. Kalau motor injeksi bermasalah, butuh alat scan khusus untuk mendeteksi kerusakan. Karbu? Mekanik bengkel pinggir jalan manapun bisa menanganinya. Di kota kecil, di jalur mudik, di tempat yang jauh dari bengkel resmi, itu bukan keunggulan kecil.
Teman saya tidak pernah menghadapi situasi darurat itu karena motornya tidak pernah mogok. Tapi, setidaknya dia tahu, kalau suatu saat itu terjadi, tidak akan susah mencari bantuan.
Tangki kecil adalah satu-satunya keluhan
Dua belas tahun bersama Beat karbu, satu-satunya keluhan teman saya tetap sama dari dulu: tangkinya kecil.
Untuk motor harian dalam kota itu tidak terlalu masalah. Tapi, begitu dibawa perjalanan jauh, kebiasaan ngisi bensin lebih sering dari motor lain memang tidak bisa dihindari. Itu bukan cacat fatal, tapi cukup untuk jadi pengingat bahwa tidak ada motor yang sempurna. Di luar itu, tidak ada keluhan lain yang berarti selama 12 tahun.
Pengalaman teman saya bersama Honda Beat karbu selama 12 tahun tanpa rewel membuat saya sadar untuk tidak meremehkan Beat karbu atau motor lawas lain. Tidak melulu soal motornya, faktor pemilik juga berperan penting atas kenyamanan dan keawetan motor
Penulis: Daffa Andarifka Syaifullah
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
