Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Hidup Itu Fana, yang Abadi Adalah Jalan Rusak di Indonesia

Bachtiar Mutaqin oleh Bachtiar Mutaqin
2 September 2021
A A
jalan rusak tanah vertisol mojok bupati sumenep

jalan rusak tanah vertisol mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Hidup itu fana, yang abadi adalah proyek perbaikan jalan. Tapi, sebenarnya, apa penyebab jalan rusak begitu cepat di Indonesia?

“DUUUAAKKKK!! Bwajingaaan!”, suara yang berasal dari pengendara sepeda motor di depan saya ini, sebut saja Fulan, terdengar ketika kami secara tidak sengaja beriringan melintasi Jalan Kapten Haryadi di dekat lokasi kantor Buku Mojok.

Rupanya roda sepeda motornya nggak sengaja menghajar jalanan yang retak dan berlubang. Buat yang belum tahu, jalan yang menghubungkan Jalan Kaliurang KM 9 dan Jalan Palagan ini adalah salah satu contoh jalan di Jogja yang akan membuat para pengendara bergoyang tanpa iringan musik saat melintasinya.

Kejadian yang dialami oleh Si Fulan tersebut tentu jamak ditemukan di Indonesia dan mungkin juga pernah kalian alami sendiri. Kalau motornya masih baru dan kondisinya bagus, efeknya mungkin cuma kaget. Tapi, coba bayangin kalau yang terdampak adalah kendaraan yang bodi motornya udah banyak kabel ties. Selain pengendaranya jadi ndredeg, juga bisa terdengar suara perkusi dari motor yang bergetar.

Pertanyaannya sekarang adalah: apa penyebab jalan rusak, meski baru saja kelar dibikin? Dan ini juga berlaku pada bangunan.

Tenang, saya nggak akan ngomongin atau mbahas tentang pemilihan kualitas material yang buat dibilang jelek saja belum bisa masuk kategori. Lha gimana, dugaan tersebut sepertinya sudah menjadi rahasia umum dan sering dibahas kan ya? Jadi mari kita lewati saja ulasan tentang hal tersebut.

Sekarang mari pelan-pelan kita diskusikan penyebab jalan rusak dari perspektif keilmuan geografi saja ya. Here we go.

Pertama, tentang karakteristik tanah. Jadi ada salah satu tipe tanah yang namanya vertisol. Kalau di Indonesia, tanah vertisol ini biasanya berkembang pada wilayah yang jenis batuannya berasal dari hasil proses aktivitas gunung api atau vulkanik. Kalian tahu sendiri kan kalau Indonesia saat ini punya lebih dari 130 gunungapi aktif? Udah cocok banget lah itu buat perkembangan tanah vertisol.

Baca Juga:

UT, Kampus Terbaik Tempat Mahasiswa Tangguh yang Diam-diam Berjuang dan Bertahan Demi Masa Depan

5 Hal yang Menjebak Pengendara di Jalan Parangtritis Jogja, Perhatikan demi Keselamatan dan Kenyamanan Bersama

Masih belum kebayang bentuknya? Gini, jadi kalau kalian lagi tadabur alam, tanah vertisol dapat dikenali dari teksturnya yang dominan liat dan warnanya yang hitam kecoklatan hingga hitam kemerahan. Yang jadi “masalah” adalah: tanah vertisol ini mempunyai sifat kembang-susut yang unik karena ia didominasi oleh partikel liat.

Ia bakalan mengembang pas lagi banyak kandungan airnya atau ketika musim hujan, dan bakalan menyusut hingga retak, pecah, bahkan mengeras saat musim kemarau atau pas kondisi kering. Gimana, terdengar familiar nggak ciri-ciri yang saya sebutkan barusan? Hayo, apa coba namanya dalam bahasa lokal di daerah kalian masing-masing?

Sekarang kalian tinggal bayangin aja kalau ada jalan atau bangunan yang dibangun di atas kondisi tanah dengan karakteristik tersebut. Apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa intensitas kembang-susut tanahnya biasanya tidak merata dari satu titik dengan titik lainnya pada lokasi yang sama.

Akibatnya tentu sudah dapat kita duga. Jalan dan bangunan bakalan cepat retak dan rusak atau jalanannya bakalan bergelombang. Oleh karena itu, biasanya untuk tanah tersebut perlu perlakuan khusus sebelum dilakukan pembangunan di atasnya, seperti pengerasan tanah maupun pembuatan saluran drainase yang memadai pada permukaan tanah di sekitarnya.

Kedua, terkait dengan gerakan tanah. Kalem, saya nggak akan mbahas tentang gerakan aktivis reformasi 4.0 yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tapi, ini lebih tentang tanah yang… bergerak. Bhaaa…

Jadi kalau dalam keilmuan geografi, kami mengenal ada beberapa tipe gerakan tanah. Salah satunya adalah rayapan (creep). Tentu saja creep yang bakalan kita bahas nggak ada kaitannya dengan Thom Yorke dan komplotannya itu ya.

Rayapan tanah biasanya terjadi saat kondisi kering dengan kecepatan yang sangat lambat. Kalau di Pegunungan Serayu Utara misalnya, ada penelitian yang menyebutkan bahwa kecepatannya antara 24-40 cm per tahun. Kalau dibagi jumlah hari dalam setahun, ya sekitar 1 mm lah per harinya. Yah namanya juga rayapan kan, kalau terjadinya cepat ya nanti jadi sprint dong.

Selain karakteristik tanah tadi, keberadaan fenomena rayapan pada suatu wilayah juga bisa menjadi salah satu penyebab kenapa jalan dan bangunan jadi cepat rusak. Memang sih, karena saking lambatnya, kita mungkin nggak bakal menyadari kejadiannya kalau tidak jeli mengamati kondisi sekitar. Kalau dalam Bahasa Jawa, pinter iku jalaran saka niteni.

Adanya rayapan pada suatu wilayah biasanya dapat dikenali dari beberapa ciri, seperti jalan dan tembok bangunan yang retak-retak padahal kualitas material sudah pakai numero uno dan tidak pernah ada histori kejadian gempa. Selain itu, penanda lainnya adalah di wilayah tersebut banyak pepohonan, tiang listrik, atau struktur bangunan lain yang miring padahal seharusnya atau normalnya ia tegak lurus.

Di Amerika Serikat, fenomena rayapan bertanggung jawab atas kerusakan struktur jalan dan bangunan dengan kerugian yang mencapai empat miliar dolar per tahunnya. Kalau dikonversi ke Rupiah dengan kurs 14.000, udah mencapai 56 triliun per tahun bosque. Bisa buat nggaji UMR untuk 2,2 juta warga DIY selama setahun penuh. Kraaayyy…

***

Jadi gitu kira-kira. Karakteristik tanah dan keberadaan rayapan adalah salah dua penyebab jalan rusak dalam waktu singkat dan bangunan kalau dilihat dari perspektif keilmuan geografi.

Nah sekarang kalau ternyata tanahnya sudah oke dan nggak ada indikasi rayapan, tapi jalan dan bangunan masih aja cepet rusak padahal baru dibangun atau diperbaiki, kalian udah tahu to kira-kira apa penyebabnya?

Betul, takdir. Mana mungkin pembangunan jalannya dikorupsi. Indonesia loh ini, nggak ada korupsi.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 September 2021 oleh

Tags: Geografijalan rusakpatahanpilihan redaksirayapantanah vertisol
Bachtiar Mutaqin

Bachtiar Mutaqin

Bapak-bapak yang malas mandi.

ArtikelTerkait

E-meterai Cara Halus Pemerintah “Merampok” Duit dan Waktu Pelamar CPNS 2024 Mojok.co

E-meterai Cara Halus Pemerintah “Merampok” Duit dan Waktu Pelamar CPNS 2024

4 September 2024
5 Kebohongan tentang Kota Semarang yang Telanjur Dipercaya

5 Kebohongan tentang Kota Semarang yang Telanjur Dipercaya

18 Agustus 2022
Ketemu Monyet hingga Kuliner Pinggir Jurang, Hal-hal yang Wajar di UNNES, tapi Nggak Lumrah di Kampus Lain Mojok.co alasan masuk unnes

Ketemu Monyet hingga Kuliner Pinggir Jurang, Hal-hal yang Wajar di UNNES Semarang, tapi Nggak Lumrah di Kampus Lain

5 September 2025
Memahami Sultan Ground: Keistimewaan Jogja yang Ruwet dan Penuh Intrik tamansari

Prabu Yudianto Menceritakan Dukanya Saat Tinggal di Tamansari Jogja: Bisa Diusir Kapan Saja

10 April 2023
5 Tipe Dosen yang Nggak Cocok Jadi Dosen Pembimbing Skripsi. Mahasiswa Lebih Baik Menghindarinya demi Lulus Tepat Waktu Mojok.co

5 Tipe Dosen yang Nggak Cocok Jadi Dosen Pembimbing Skripsi. Mahasiswa Lebih Baik Menghindarinya demi Lulus Tepat Waktu

18 Mei 2024
5 Provinsi di Indonesia yang Paling Tidak Bahagia terminal mojok.co

5 Provinsi di Indonesia yang Paling Tidak Bahagia

4 Januari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata

4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata

16 Januari 2026
Nestapa MUA Spesialis Wisuda: Berangkat Subuh demi Menutup Mata Panda, Pulang Kena Tawar Harga yang Nggak Ngotak

Nestapa MUA Spesialis Wisuda: Berangkat Subuh demi Menutup Mata Panda, Pulang Kena Tawar Harga yang Nggak Ngotak

16 Januari 2026
5 Camilan Private Label Alfamart Harga di Bawah Rp20 Ribuan yang Layak Dibeli Mojok.co

5 Camilan Private Label Alfamart Harga di Bawah Rp20 Ribu yang Layak Dibeli 

13 Januari 2026
Jalan Dayeuhkolot Bandung- Wujud Ruwetnya Jalanan Bandung (Unsplash)

Jalan Dayeuhkolot Bandung: Jalan Raya Paling Menyebalkan di Bandung. Kalau Hujan Banjir, kalau Kemarau Panas dan Macet

17 Januari 2026
UT, Kampus Terbaik Tempat Mahasiswa Tangguh yang Diam-diam Berjuang dan Bertahan Demi Masa Depan

UT, Kampus Terbaik Tempat Mahasiswa Tangguh yang Diam-diam Berjuang dan Bertahan Demi Masa Depan

19 Januari 2026
5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo Mojok.co

5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo

15 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.