Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Hidup di Desa Terkadang Tak Lebih Baik ketimbang Hidup di Kota, Bahkan Bisa Jadi Lebih Buruk

Muhammad Mundir Hisyam oleh Muhammad Mundir Hisyam
2 November 2023
A A
Hidup di Desa Terkadang Tak Lebih Baik ketimbang Hidup di Kota, Bahkan Bisa Jadi Lebih Buruk

Hidup di Desa Terkadang Tak Lebih Baik ketimbang Hidup di Kota, Bahkan Bisa Jadi Lebih Buruk (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Mungkin artikel tentang hidup di desa sudah banyak ditulis dan dimuat di Terminal Mojok. Tapi saya rasa sangat perlu untuk menuliskan beberapa hal tentang kehidupan di desa yang tampaknya belum ada di artikel-artikel tersebut. Bahkan beberapa di antaranya bisa jadi adalah fenomena baru di desa yang tidak menyenangkan, yang bisa membuat saya ingin pindah saja.

Seperti yang sudah banyak dibicarakan bahwa desa menjadi salah satu tempat yang adem, indah, tentram, dan dipenuhi orang-orang ramah. Katanya.

Itu benar, tapi saya kira lebih cocok jika diucapkan waktu bapak saya masih remaja. Kalo untuk sekarang, hidup di desa jauh dari apa yang Anda bayangkan, terutama Anda yang hidup di perkotaan. Cuplikan-cuplikan FTV tentang kehidupan di desa yang sering ditayangkan pun menurut saya sudah tidak relevan jika merepresentasikan kehidupan desa beserta orang-orangnya sekarang.

Sound system menjadi polusi paling tinggi di desa

Desa-desa di daerah saya sekarang sedang gemar dengan sound system (pengeras suara). Pasti kalian juga sudah sering mendengar berita-berita mengenai fenomena baru ini. Saat ini, komunitas-komunitas sound system merebak di mana-mana dan dianggap menimbulkan polusi suara. Sebab, mereka memainkan musik dengan sangat kencang. Terlebih jika ada acara-acara perayaan seperti karnaval budaya, karnaval sound system, hajatan, atau bahkan masyarakat yang memiliki sound system sendiri di rumahnya.

Fenomena baru ini sangat terasa di desa saya. Anda boleh percaya boleh tidak, rumah saya diapit oleh orang-orang yang punya sound system. Sehingga hampir setiap hari atau paling tidak lima kali dalam seminggu pasti terjadi polusi suara di tempat saya. Pagi, siang, sore, bahkan malam. Mereka saling bergantian menyalakan musik dengan volume tinggi tanpa ada tujuan yang jelas. Sungguh ini sangat mengganggu!

Meski mereka berhenti ketika azan berkumandang dan katanya bentuk menghargai, tapi tetap saja itu sudah membuktikan bahwa tingkat toleransi antartetangga di desa sangat jauh mengalami penurunan.

Menghargai kok pas azan doang. Logika patah bawah.

Saya bisa memaklumi apabila memang mereka sangat menyukai musik dan sound system. Hanya saja, tidakkah lebih baik mereka cukup memainkannya untuk didengar sendiri, tanpa mengganggu tetangga yang bahkan tak peduli apa hobi mereka?

Baca Juga:

Sales: Pekerjaan yang Tidak Pernah Dicita-Citakan, tapi Sulit untuk Ditinggalkan

Punya Rumah di Desa dengan Halaman Luas Itu Malah Menjadi Sumber Keresahan, Hidup Jadi Nggak Tenang

Hidup berkubu

Tidak tahu kenapa, menurut saya, masyarakat desa sekarang, meskipun bertetangga, mereka juga berkubu-kubu. Orang-orang desa di tempat saya sering berkumpul untuk bergunjing yang anehnya mereka membicarakan tetangga lain dengan alesan yang tidak jelas. Jika Anda bertanya kenapa saya berani berbicara seperti itu, ya karena korbannya adalah ibu saya.

Mudah banget iri dengan tetangga lain

Sifat iri di tetangga sudah umum kita ketahui. Misalnya, iri karena tetangga lainnya membeli barang baru, atau sebut saja kasus yang masih sering muncul di media, yaitu kasus Masriah, di Sidoarjo. Seorang wanita yang setiap hari membuang kotoran di depan rumah tetangganya karena diduga rumah tersebut adalah rumah adiknya yang sudah sejak lama diincar, tapi malah dibeli korban. Sangat aneh bukan?

Dan yang akan saya ceritakan kali ini tidak kalah anehnya dengan kasus Masriah.

Keluarga saya secara perekonomian ada di kelas menengah ke bawah. Oleh sebab itu, kami masih cukup sering menerima bantuan sosial dari pemerintah. Di satu sisi hal tersebut sebenarnya cukup membantu bagi kami, tetapi di sisi lain malah membuat kami jengkel karena banyak tetangga kami iri.

Jika mereka waras, seharusnya mereka sadar bahwa kemampuan mereka jauh di atas kami sehingga mereka tidak perlu iri. Celakanya, yang terjadi justru sebaliknya. Simpelnya tuh mereka iri dengan kemiskinan. Itu aneh!

Agar mereka tidak lagi iri, ibu saya selalu membagikan bantuan sosial yang kami terima. Misalnya saja beras 10 kg yang dibagi di balai desa, oleh ibu saya setengahnya diberikan kepada tetangga meski kami tahu mereka SANGAT AMAT mampu membelinya. Dan sebenarnya saya jengkel dengan hal tersebut. Tapi apalah daya hidup di desa yang seperti ini.

Banyak banget sales penipu

Banyak banget sales di desa. Mungkin karena kesadaran pendidikan di desa yang masih rendah hal tersebut sering dimanfaatkan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Para sales mampu menipu orang-orang desa, terlebih ketika mereka mengaku sebagai orang yang sudah bekerja sama dengan pemerintah.

Saya ingat, salah satu contohnya saat ada dua orang sales datang ke rumah kemudian meminta untuk bertemu ibu saya dan menyodorkan lembaran yang berisikan data-data tidak jelas. Seraya bertanya-tanya kepada ibu saya soal ada berapa tabung gas (LPG) di rumah saya, tabung gas yang 3 kg atau berapa, apakah ibu saya penerima bantuan sosial, dan lain sebagainya. Awalnya saya menganggap mereka adalah petugas dari pemerintah, karena membawa lembaran data-data dan bertanya soal bantuan sosial.

Tidak lama kemudian mereka memeriksa kondisi LPG di dapur. Mereka lalu memberikan edukasi seputar LPG, hingga akhirnya menawarkan produk regulator LPG lalu katanya akan memberikan harga khusus bagi penerima bantuan sosial. Namun, ibu saya menolak dan orang tersebut marah lalu pergi begitu saja tanpa pamit.

Selain itu, masih banyak sales yang mengenalkan dirinya seolah-olah adalah petugas dari pemerintah. Seperti yang pernah terjadi juga, sales obat jentik-jentik nyamuk yang sangat mengharuskan kami membelinya, penjual foto presiden, penjual obat kolesterol, dan lain-lain.

Jika saya perhatikan, targetnya adalah ibu-ibu rumah tangga di desa yang mudah sekali mereka tipu dengan modus menjadi petugas pemerintah. Korbannya? Ya banyak.

Hidup di desa dan kota sama saja, sama-sama neraka

Setidaknya itulah bagaimana rasanya hidup di desa yang sebenarnya. Inilah hidup di desa yang sesungguhnya, yang media sosial kerap sembunyikan. Dengan banyaknya artikel serupa, menjadi bukti bahwa anggapan hidup di desa jauh lebih tenang rasanya sudah tidak berlaku lagi. Bisa saja ternyata Anda yang hidup di kota merasakan kehidupan bertetangga yang jauh lebih baik.

Pada intinya, hidup di desa tak lagi jadi tolok ukur kenyamanan. Hidup di desa atau kota, menurut saya sama saja. Jika tetanggamu brengsek, ketua RT brengsek, ya tak ada bedanya desa dan kota: sama-sama neraka.

Penulis: Muhammad Mundir Hisyam
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Percayalah, Ketua RT yang Beres Adalah Sebenar-benarnya Kunci Kebahagiaan Rumah Tangga

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 November 2023 oleh

Tags: bansosDesahidup di desapenipusalestetangga
Muhammad Mundir Hisyam

Muhammad Mundir Hisyam

Perenung andal.

ArtikelTerkait

Dilematis Saat Bertemu Sales di Mal: Dicuekin Salah, Didengerin Juga Salah terminal mojok.co

Dilema Saat Bertemu Sales di Mal: Dicuekin Salah, Didengerin Juga Salah

27 November 2020
penipuan di mal berkedok hadiah barang elektronik mojok

Pengalaman Saya Jadi Korban Penipuan Berkedok Hadiah di Mal

1 Mei 2020
Begini Rasanya Bertetangga dengan Kandang Kambing Terminal Mojok

Begini Rasanya Bertetangga dengan Kandang Kambing

6 Februari 2022
Sales, Ujung Tombak Sebuah Perusahaan, Juga Profesi yang Mulia MOJOK.CO

Sales, Profesi Mulia, Ujung Tombak Sebuah Perusahaan

23 Juli 2020
2 Stereotip Umum yang Keliru tentang Perumahan Syariah

4 Hal yang Harus Diperhatikan sebelum Memutuskan Mengambil Perumahan

20 Desember 2022
Sebelum Paylater Mempermudah Belanja dan Meneror Kehidupan, Mindring Jadi Jawaban para Pencinta Belanja di Pelosok Jawa (Pixabay.com)

Sebelum Paylater Mempermudah Belanja dan Meneror Kehidupan, Mindring Jadi Jawaban para Pencinta Belanja di Pelosok Jawa

6 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi Mojok.co

Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi

16 Januari 2026
Angka Pengangguran di Karawang Tinggi dan Menjadi ironi Industri (Unsplash) Malang

Warga Karawang Terlihat Santai dan Makmur karena UMK Sultan, padahal Sedang Berdarah-darah Dihajar Calo Pabrik dan Bank Emok

12 Januari 2026
Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

17 Januari 2026
4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata

4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata

16 Januari 2026
Stasiun Slawi, Rute Tersepi yang (Masih) Menyimpan Kenangan Manis

Stasiun Slawi, Rute Tersepi yang (Masih) Menyimpan Kenangan Manis

15 Januari 2026
Terlahir sebagai Orang Tangerang Adalah Anugerah, sebab Saya Bisa Wisata Murah Tanpa Banyak Drama

Terlahir sebagai Orang Tangerang Adalah Anugerah, sebab Saya Bisa Wisata Murah Tanpa Banyak Drama

14 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.