Hewan Peliharaan, Korban Pandemi yang Terlewatkan

Hewan Peliharaan, Korban Pandemi yang Terlewatkan terminal mojok

Setidaknya sejak awal tahun lalu, saya menyadari ada yang berubah di perumahan tempat saya tinggal. Ketika sedang ngopi sembari menikmati semilir angin sore di teras, saya menyaksikan ternyata jumlah kucing yang melintas di depan rumah saya lebih banyak dari biasanya.

Kucing-kucing ini, setelah saya amati berhari-hari setelahnya, bukanlah kucing jalanan biasa. Saya cukup hafal dengan kucing-kucing jalanan yang berkeliaran di sekitar rumah saya, dan kucing-kucing yang belakangan ini berbeda. Beberapa di antara mereka punya bulu lebat yang sebenarnya terlihat indah jika rutin dirawat dan dibersihkan. Jelas, mereka bukan kucing lokal.

Sebagai orang yang lumayan sering berbagi kelebihan dan sisa makanan kepada kucing-kucing jalanan, peningkatan jumlah ini sulit luput dari perhatian saya. Dari kalung yang melingkar di leher mereka, jelas bahwa kucing-kucing ini adalah hewan peliharaan seseorang. Tapi bulu mereka yang tampak dekil, perilakunya yang tampak liar, dan selalu berkeliaran hingga malam hari, membuktikan sebaliknya. Apa mungkin kucing-kucing ini lari dari pemiliknya?

***

Kira-kira sebulan lalu, saya mendapati seekor anjing tidur di depan pagar rumah saya. Kondisinya amat mengenaskan, kurus kering dan terlihat luka sobek di wajahnya, yang mungkin disebabkan oleh pertengkaran dengan anjing jalanan lainnya. Yang paling menyiksa dirinya adalah luka parah di bantalan kakinya, memaksa anjing ini untuk berjalan hanya dengan tiga kaki.

Dalam beberapa hari, ia berkeliaran di depan rumah saya dan selalu tidur di depan rumah. Agak dilematis bagi saya untuk menolongnya, karena selain kulitnya yang entah budukan atau terkena parasit lain, juga ada resiko tergigit jika ingin merawat luka-lukanya yang cukup parah.

Sejujurnya, saya tidak pernah berurusan dengan anjing sebelum ini. Apalagi masih kentalnya stigma dalam lingkungan agama, cukup menjauhkan saya dari segala urusan mengenai anjing. Namun, rasa tak tega mendesak saya untuk mendekati anjing penuh luka ini.

Dalam beberapa hari setelahnya, saya dan istri memberinya makan dan obat, juga membiarkannya tidur di teras rumah kami. Karena kondisinya tak kunjung membaik, akhirnya kami menghubungi rumah sakit hewan yang kemudian datang menjemputnya untuk dirawat. Syukur, ada tetangga yang bersedia membantu membiayai pengobatannya.

Belakangan saya ketahui, berdasarkan informasi para tetangga, bahwa anjing ini sebelumnya kami kenali sebagai Jiro (bukan nama sebenarnya), anjing kecil yang setiap sore dilepas pemiliknya untuk bermain-main di gang kami. Kondisinya yang begitu memprihatinkan membuat kami sulit mengenalinya.

Sebagai anjing peliharaan, Jiro tidak punya cukup kemampuan untuk hidup liar di jalanan. Konflik dengan anjing-anjing jalanan tentu sulit dihindari. Tubuhnya yang mungil jelas bukan tandingan anjing jalanan yang besar-besar itu. Hal ini pula yang menyebabkannya kesulitan memperoleh makanan.

Usut punya usut, ternyata Jiro sengaja dilepas oleh pemiliknya. Si pemilik, karena telah diberhentikan oleh hotel tempatnya bekerja beberapa bulan setelah pandemi berlangsung, tak sanggup lagi membiayai pakan dan perawatan anjingnya sehari-hari.

Ternyata, hal senada pula yang menyebabkan bertambah banyaknya populasi kucing jalanan di lingkungan kami. Kucing-kucing cantik yang belakangan berkeliaran di di gang kami itu dulunya merupakan hewan peliharaan milik beberapa warga di perumahan seberang. Menurut kesaksian satpam perumahan yang sempat berbincang dengan salah seorang pemiliknya, kucing-kucing ini bukannya lari dari rumah, melainkan memang dengan sengaja dibiarkan lepas oleh pemiliknya.

Alasannya kurang lebih sama. Sebagian pemilik kucing ini kehilangan pekerjaannya, sementara lainnya tak sanggup lagi merawat kucingnya karena karena usahanya sepi, sehingga nyaris tak ada pemasukan. Singkatnya, mereka mesti menentukan prioritas yang dirasa lebih patut diutamakan.

Saat pertama mengetahui kenyataan ini, ada rasa kesal dan dongkol kepada mereka yang menelantarkan hewan peliharaannya. Namun, setelah saya pikir berulang kali, perasaan saya justru semakin campur aduk.

Di satu sisi, tidak sepantasnya hewan peliharaan ditelantarkan begitu saja di jalanan. Mengadopsi hewan peliharaan idealnya merupakan komitmen untuk merawat dan memberi perhatian kepada makhluk yang kita putuskan menjadi teman bagi kehidupan kita. Intensitas komitmen ini mestinya nyaris setara—jika sulit dikatakan sama—dengan merawat anak sendiri.

Setidaknya begitulah orang-orang terdekat saya memperlakukan hewan peliharaan mereka. Kematian hewan peliharaan adalah peristiwa yang dianggap sama menyedihkannya dengan kematian anggota keluarga, yang kehadirannya selalu kita dambakan dengan penuh cinta dan perhatian.

Di sisi lain, situasi saat ini memang terlampau sulit. Para pemelihara hewan tadi pada akhirnya harus memilih antara memberi makan keluarga atau hewan peliharaannya. Dan pilihan seperti ini bukanlah perkara mudah. Betapa pun buruknya keputusan ini, sulit untuk tidak membayangkan bahwa mereka juga merasakan kesedihan mendalam ketika mesti melepas hewan peliharaan kesayangannya.

Mencari orang yang mau mengadopsi mestinya bisa jadi pilihan. Sayangnya, di masa serba susah dan tak jelas ini, tidak mudah untuk menemukan orang yang ingin mengadopsi hewan peliharaan. Jika akhirnya ada, tentu butuh waktu yang tak sedikit, padahal roda kehidupan mesti tetap berputar.

Ini semua semakin membuktikan bahwa kemampuan memiliki hewan peliharaan saat ini adalah sebuah kemewahan. Pandemi ternyata tidak hanya memakan korban manusia yang berinteraksi dalam pola-pola sosial-ekonomi, namun juga berimbas kepada hewan-hewan peliharaan yang telantar ini. Kasih sayang terhadap hewan peliharaan, pada titik tertentu, akhirnya mesti mengalah dengan kebutuhan para pemiliknya untuk bertahan hidup.

Bagi saya sendiri, memelihara hewan, apalagi di masa-masa seperti ini amat tidak memungkinkan. Ini bukan sekadar tentang komitmen finanial yang sulit saya penuhi, melainkan saya juga tidak punya cukup kelonggaran emosional jika suatu saat hewan peliharaan saya sakit atau bahkan mati dalam pengawasan saya. Sejauh ini, cukup bagi saya untuk memberikan sisa atau kelebihan makanan bagi kucing-kucing dan anjing-anjing jalanan ini, sebagai ekspresi solidaritas sesama makhluk yang sedang berjuang di kehidupan yang keras.

***

Kucing-kucing peliharaan yang telantar telah menambah populasi kucing jalanan di lingkungan tempat tinggal saya. Dan populasi yang telah membengkak ini sepertinya masih akan berlipat ganda, seiring berkawin-mawinnya mereka. Salah satunya bahkan melahirkan lima anaknya di kardus bekas yang saya sediakan di teras rumah. Syukurnya, nasib kelima anak kucing itu cukup mujur.

Tetangga sebelah, yang kebetulan sudah lama mendamba untuk memelihara kucing, meminta bayi-bayi kucing ini beserta induknya untuk dipelihara. Mereka adalah sepasang suami istri yang memang belum ingin punya keturunan, sehingga punya cukup kelonggaran finansial untuk memelihara bayi-bayi kucing ini. Dan berkat ketelatenan mereka, kelima kucing itu sekarang sudah tumbuh besar dan sehat.

Melihat kucing-kucing itu dipelihara dengan baik membuat hati saya lebih lega. Rumah sakit hewan juga baru saja mengabari kondisi Jiro yang semakin membaik. Ketika kabar-kabar duka belakangan lebih sering terdengar, sedikit berita baik—meskipun sederhana—menjadi amat penting untuk disyukuri.

BACA JUGA Panleukopenia: Mimpi Buruk Para Pemilik Kucing.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
Exit mobile version