Jauh sebelum Trump banyak tingkah, sebelum harga plastik merangsek, saya sudah mengantisipasi harga plastik naik. Sudah hampir setahun, saya biasa membawa wadah sendiri saat belanja ke pasar tradisional. Saya membawa wadah plastik yang ada tutupnya seperti tempat makan. Tak jarang, wadah-wadah plastik tersebut juga saya dapatkan bekas dari membeli makanan. Bukan murni beli sendiri semuanya.
Nggak semua belanjaan saya wadahi. Yang biasa saya wadahi masih sebatas tahu, ikan, ayam, dan kue jajanan pasar untuk sarapan aja. Selebihnya, saya masih menerima kantong plastik dari pedagang.
Nggak hanya bawa wadah, saya juga bawa tas belanja sendiri. Ada beberapa item belanjaan yang saya tolak untuk pakai kantong plastik. Biasanya bakal saya satukan dengan kantong plastik yang sudah ada, atau tinggal saya masukkan saja di tas belanja yang saya bawa.
Awalnya, pedagang memandang sebelah mata
Harus diakui, nggak semua pedangan langsung paham ketika diminta menaruh barang dagangannya yang saya beli di wadah. Selain itu, belanja pakai wadah memang agak ribet. Nggak sat set kayak pakai plastik. Terlebih kalau lagi banyak yang beli. Ya dulu orang belum tahu dan pasti nggak akan mengira harga plastik naik segila ini.
Makanya kalau sekiranya pakai wadah bakal merepotkan, saya nggak ngotot menolak plastik. Fleksibel aja. Setidaknya, saya sudah ada usaha untuk mengurangi pemakaian plastik. Apalagi, kantong plastik di rumah sudah sangat menumpuk.
Terbiasa bawa wadah, pedagang langganan saya sudah hafal kebiasaan saya. Bahkan, mereka kerap membantu kalau saya agak kerepotan. Tapi perkara nggak mau pakai plastik, kadang pedagang yang merasa nggak enakan. Takut saya kerepotan membawa dengan tangan kosong. Setelah saya tunjukkan kantong belanja bawaan saya, mereka baru mengiyakan.
Lain pedagang, lain reaksi pembeli lainnya
Melihat saya menenteng wadah saat antre belanja, ada yang memuji. “Iya ya, seharusnya pakai wadah begitu biar bisa langsung masuk kulkas”, kurang lebih begitu katanya. Tapi meski beberapa kali dapat respon positif, nggak ada yang saya lihat membawa wadah sendiri seperti saya.
Dapat respon bernada julid juga pernah saya dapat. “Ih rajin amat”, respon seorang ibu-ibu saat saya sedang antre beli ayam sambil pegang wadah. Terdengar menyebalkan sih, tapi biarkan saja. Banyak keuntungan yang saya dapat dengan pakai wadah, apalagi pas beli ayam. Darah ayam nggak rembes ke mana-mana.
Plastik mahal, pedagang ketar-ketir, tapi pembeli santai aja
Pas tahu harga plastik naik, saya bahkan bawa plastik sendiri dari rumah. Plastik bekas-bekas belanja. Meski bawa tas belanja, tapi untuk kasus belanja di pasar tradisional, kadang plastik tetap dibutuhkan karena lebih efisien.
Saya juga kan nggak mungkin bawa wadah banyak-banyak, apalagi saya tipe yang belanja sekaligus untuk seminggu ke depan. Bisa gempor. Nggak dipungkiri, bawa wadah itu makan tempat di tas belanja.
Sejak harga plastik naik, kebiasaan saya membawa wadah dan menolak plastik, terasa lebih diapresiasi. Saya juga rasanya senang banget, meskipun bantuan saya terkesan sepele. Tapi, nggak semua pembeli berpikiran seperti saya.
Saya perhatikan, kebanyakan pembeli nggak peduli dengan kenyataan kalau harga plastik lagi naik 40%-50%. Beli jagung di pedagang A diplastiki, beli bayam di pedagang B diplastiki berbeda. Padahal kalau dijadikan satu semuanya, kantong plastiknya muat.
Bahkan mbak-mbak warung Madura dekat rumah saya cerita, ada pembeli yang cuma beli satu snack tapi minta plastik. Padahal, untung satu snack beda tipis dengan cost sebuah kantong plastik kecil. Kalau nggak diberikan nanti keluar jurus andalan dari pembeli yang berbunyi, “Ah cuma plastik doang kok pelit banget”.
Curcol pedagang soal naiknya harga plastik
Bukan cuma mbak warung Madura yang mengeluh soal plastik, tapi pedagang kue jajanan pasar langganan saya juga. Kata dia, harga plastik naik 2 kali lipat. Tapi mau bagaimana, namanya juga risiko jualan.
Senada, pedagang ayam dan ikan langganan saya juga mengeluh. Bukan mahal aja, tapi plastik juga mulai langka. Pernyataan tersebut seolah dibenarkan dengan tutupnya toko plastik di pasar tradisional tempat biasa saya belanja.
Meski naiknya harga plastik merugikan pedagang, tapi sebenarnya bisa menjadi momentum untuk mendorong pengurangan pemakaian plastik. Sampah plastik di bumi ini sudah kelewat banyak kan. Sayangnya, banyak orang yang terkesan nggak mau tahu. Apalagi, bagi mereka yang nggak merasakan langsung dampaknya. Nanti giliran isu mikroplastik naik lagi, baru deh pada sok jadi aktivis bahaya plastik.
Penulis: Arsyindah Farhan
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Plastik Kresek Harus Dijual Mahal
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
