Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Hal-hal yang Terjadi Sepanjang Perjalanan Covid-19 di Indonesia

Kurniawan Ivan Prasetyo oleh Kurniawan Ivan Prasetyo
7 Desember 2020
A A
Hal-hal yang Terjadi Sepanjang Perjalanan Covid-19 di Indonesia Terminal Mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Tidak terasa pandemi Covid-19 di Indonesia hampir berusia 1 tahun. Apabila diibaratkan sebagai manusia, tentu di usia tersebut belum bisa berbuat banyak, kecuali makan, nangis, dan berak. Tapi hal tersebut nampaknya tidak berlaku bagi si kecil Covid-19. Meski Covid-19 di Indonesia baru akan merayakan ulang tahun pertamanya Maret mendatang, jutaan nyawa telah berhasil ia hantarkan ke peristirahatan terakhir. Sedari kecil Covid-19 memang sudah aktif ya, Bund?

Di usianya yang masih belia, tidak diketahui secara pasti Covid-19 terdaftar di catatan sipil mana. Akta kelahirannya pun banyak dipertanyakan. Namun yang pasti, Covid-19 sudah berkeliaran di Tiongkok sana sejak November 2019. Hal tersebut dibuktikan dengan terkonfirmasi positifnya seorang penduduk Hubei yang berusia 55 tahun. Semenjak kasus tersebut, sejumlah kasus positif Covid-19 dilaporkan setiap harinya oleh otoritas Tiongkok. Hingga pada tanggal 31 Desember 2019, Tiongkok menyampaikan laporan kepada organisasi kesehatan dunia, yakni WHO, mengenai sejumlah kasus Pneumonia baru di Wuhan. Dari sinilah masyarakat mencatat Covid-19 merupakan putra daerah Wuhan.

Seiring berjalannya waktu, Covid-19 nampaknya mulai akrab dengan kerumunan massa. Diperkirakan momentun persebaran Covid-19 dimulai ketika libur atau mudik tahun baru Imlek. Pada momen tahun baru Imlek tersebut, ribuan bahkan jutaan warga Tiongkok banyak melakukan perjalanan ke luar daerah hingga ke luar negeri. Covid-19 pun nampaknya tidak mau ketinggalan untuk ikut bertamasya menuju ke berbagai negara. Akhirnya, satu demi satu negara menyampaikan bahwa sejumlah warganya terpapar virus Covid-19.

Di Indonesia, kasus pertama Covid-19 menimpa 2 warga Depok, Jawa Barat, usai melakukan kontak dengan warga negara Jepang. Perlahan persebaran virus ini merangsek ke sejumlah wilayah kepulauan Nusantara. Tidak peduli warga kota, warga desa, pejabat negara, orang dewasa, lansia, hingga remaja memiliki potensi yang sama terpapar Covid-19.

Terdapat sejumlah hal menarik seputar perjalanan Covid-19 di Indonesia. Inilah hal-hal menarik semenjak kedatangan Covid-19 di Indonesia.

Disambut gelak tawa pemerintah Indonesia

Masih segar dalam ingatan kita celotehan Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia, yang mengatakan bahwa virus Covid-19 sulit masuk ke Indonesia karena proses perizinannya susah. Saya masih belum bisa menangkap di mana letak lucunya jokes tersebut. Kalimat tersebut justru terdengar seperti satire bagi birokrasi pemerintahan. Dalam kesempatan tersebut sebenarnya Bahlil tidak sedang menyoroti perkembangan kasus Covid-19 di dunia, tetapi sulitnya investor asing untuk masuk ke Indonesia.

Saya kembali teringat bahwa reformasi birokrasi memang belum terealisasikan. Bukan hanya perizinan asing, untuk mendapat pelayanan publik pun terkadang kita harus dihadapkan dengan sejumlah persyaratan administrasi yang rumit serta berbelit-belit. Belum lagi kalau ada “bandit” yang suka minta uang pelicin. Kalau masalah investor asing, memang perlu adanya proteksi.

Selain celotehan Kepala BKPM tersebut, ternyata sejumlah pejabat negara mempunyai selera humor yang teramat payah. Sebut saja Luhut Binsar Pandjaitan, yang ketika ditanyai seputar virus Covid-19, eh malah jawabnya ke mobil Corolla. Begitu juga Airlangga Hartarto (Menteri Perekonomian) yang lagi-lagi mengatakan kalau virus ini sulit masuk tanah air karena izinnya susah.

Baca Juga:

Depok Jawa Barat Lebih Terkenal daripada Daerah Bernama Depok Lain karena Hal-Hal Ajaibnya

Sultan Minta Atraksi Malioboro Dihentikan Demi Cegah Kerumunan di Tengah Lonjakan Covid-19

Tetapi plot twist-nya tetap ada pada Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, yang mengatakan Covid-19 nggak bakal masuk ke Indonesia karena masyarakat kita yang kerap menyantap nasi kucing. Sialnya, justru Menhub Budi Karya divonis positif Covid-19. Untungnya beliau sudah sembuh sekarang.

Selanjutnya, aksi joget TikTok ala Menkopolhukam, Mahfud MD, juga mendapat reaksi yang beragam dari masyarakat. Sebenarnya, mengampanyekan hidup sehat memang penting untuk menangkal virus Covid-19. Namun, dengan berjoget ala TikTok, tindakan Menkopolhukam Mahfud MD tetap dinilai kurang tepat. Seharusnya justru melalui TikTok kita membuat konten untuk mengampanyekan protokol kesehatan di tengah kondisi pandemi.

Beradaptasi dengan korupsi

Siapa bilang dengan adanya pandemi, praktik korupsi bakal mati? Sebaliknya, dengan adanya pandemi, ruang-ruang baru bagi korupsi kian terbuka. Hal tersebut disebabkan oleh kucuran anggaran yang seharusnya diperuntukan untuk penanganan Covid-19, malah diselewengkan untuk menumpuk kekayaan.

Pada bulan April, terjadi pemotongan bantuan warga yang dilakukan oleh oknum RT di Desa Talok, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang. Dana bansos yang seharusnya diperoleh warga sebesar Rp 600 ribu per KK disunat Rp 100 ribu per KK oleh oknum RT. Berkaca dari fenomena tersebut, praktik korupsi telah masuk ke dalam ranah pemerintahan terkecil, yakni tingkat RT.

Berita teranyar mengenai OTT KPK yang berujung pada ditetapkannya Menteri Sosial, Juliari Batubara, sebagai tersangka ikut menyemarakkan perjalanan Covid-19 di Indonesia. Dilansir kompas.com, Mensos Juliari diduga menerima suap sekitar Rp 8,2 miliar dalam pelaksanaan paket bansos sembako periode pertama.

Minimnya transparansi serta pengawasan dari masyarakat menyebabkan praktik korupsi mampu berkolaborasi dengan pandemi. Sebenarnya hal tersebut tidak mengherankan, mengingat korupsi juga merupakan pandemi. Bedanya, apabila Covid-19 merupakan pandemi yang diakibatkan oleh virus, korupsi adalah pandemi yang diakibatkan oleh kemerosotan moral para pemangku jabatan.

Sulitnya menghindari kerumunan

Budaya srawung yang telah mengakar kuat dalam masyarakat Indonesia nampaknya memang susah untuk dihilangkan, atau setidaknya dikurangi. Hal tersebut sebenarnya tidak masalah, mengingat sejumlah manfaat dari srawung itu sendiri. Srawung bermakna kumpul atau pertemuan antara lebih dari satu orang. Tujuan dari srawung yakni untuk bercerita, bertukar pikiran, hingga berbagi keresahan dengan dibalut nuansa kekeluargaan.

Namun di tengah pandemi seperti saat ini, srawung dengan tidak memperhatikan protokol kesehatan justru menimbulkan klaster baru persebaran Covid-19. Di Indonesia sendiri terdapat sejumlah klaster besar persebaran Covid-19, seperti klaster asrama haji Surabaya, klaster perusahaan di kota Semarang, klaster ijtimak Gowa, klaster Secapa TNI AD Bandung, dan masih banyak lagi.

Yang mengherankan, meski sudah terdapat contoh klaster persebaran Covid-19, masyarakat Indonesia nampaknya tidak takut untuk kembali berkumpul dengan jumlah yang besar tanpa memperhatikan protokol kesehatan. Bahkan belum lama ini terjadi kerumunan massa dalam skala yang besar dalam rangka penyambutan Habib Rizieq Shihab. Yah semoga saja hal tersebut tidak menimbulkan klaster baru. Lucu rasanya di tengah kegembiraan penyambutan Imam Besar FPI malah muncul klaster Covid-19.

Pesta demokrasi saat pandemi

Pro kontra seputar pemilihan kepala daerah di tengah pandemi menjadi topik pembicaraan menarik untuk kita ikuti. Bagi mereka yang pro, dengan adanya kepala daerah baru diharapkan dapat menekan laju persebaran Covid-19 di tiap daerah. Bagi mereka yang kontra, dengan adanya pilkada serta kampanye jelas bakal memunculkan klaster baru persebaran Covid-19. Namun, nampaknya pemerintah tetap akan melaksanakan pilkada serentak di sejumlah daerah. Meski sudah diperingatkan NU, Muhammadiyah, MUI, dan sejumlah pihak maupun masyarakat.

Sebenarnya sangat disayangkan keputusan melanjutkan pilkada yang barangkali terkesan memaksakan di masa pandemi ini. Akan jauh lebih efektif apabila anggaran pilkada yang sedemikian besar dialihkan untuk penanganan Covid-19, mulai dari pencegahan hingga pengobatan. Namun sekali lagi, pilkada itu prioritas!

Melihat situasi yang seperti ini, golput nampaknya bisa dijadikan alternatif pilihan. Semisal di daerah kalian ada 2 paslon, maka golput adalah yang nomor 3. Hal tersebut juga tidak bisa disalahkan, mengingat barangkali memang banyak dari masyarakat yang enggan ke TPS lantaran takut terpapar Covid-19.

Bagaimanapun, di tengah usia yang hampir menginjak 1 tahun, selalu teriring doa bagimu, Covid-19. Bukan lagu Selamat Ulang Tahun dari Jamrud yang akan kami dendangkan, namun lagu Sayonara yang sering diputar di sejumlah kafe untuk “mengusir” pelanggan. Bukan kado boneka yang dibungkus kotak dengan balutan kertas kado yang akan kami beri, tapi vaksin dari beberapa peneliti yang sudah teruji. Bukan pula doa semoga panjang umur yang akan kami atur, tapi doa agar engkau cepat kabur.

BACA JUGA Mengenang Hoegeng, Polisi Jujur yang Pernah Disebut Gus Dur dan tulisan Kurniawan Ivan Prasetyo lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 7 Desember 2020 oleh

Tags: covid-19
Kurniawan Ivan Prasetyo

Kurniawan Ivan Prasetyo

Pernah menjadi mahasiswa dan buruh part time di Jogja

ArtikelTerkait

Saya Bersyukur Tidak Terlahir di Negara India

2 Mei 2021
penyintas covid-19 pandemi menanyakan kabar mojok

Ketika Menanyakan Kabar Bukan Lagi Sekadar Basa-basi di Masa Pandemi

28 Juli 2021
Honor Pemakaman Covid-19 untuk Pejabat Itu Bukan Salah Sasaran, Cuma Cacat Nalar dan Nurani terminal mojok.co

Honor Pemakaman Covid-19 untuk Pejabat Itu Bukan Salah Sasaran, Cuma Cacat Nalar dan Nurani

27 Agustus 2021
emas logam mulia tabungan bank ekonomi stabilitas mojok

Demam Emas Bisa Jadi Ancaman Pemulihan Ekonomi

12 Oktober 2020
laporcovid-19 vaksinasi covid-19 vaksin nusantara indonesia lepas pandemi ppkm vaksin covid-19 corona obat vaksin covid-19 rapid test swab test covid-19 pandemi corona MOJOK.CO

Rapid Test: Tes Cepat yang Logikanya Bikin Saya Malah Bingung

6 Juli 2020
Pertamina Foundation Bagikan 50 Laptop ke 32 SD untuk Muluskan PJJ terminal mojok.co (1)

Pertamina Foundation Bagikan 50 Laptop ke 32 SD untuk Muluskan PJJ

3 Desember 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

9 Rekomendasi Mobil Bekas di Bawah 100 Juta Terbaik untuk Pemula Berkantong Cekak

Cari Mobil Bekas Murah buat Lebaran? Ini Motuba di Bawah 60 Juta yang Terbukti Nggak Rewel

14 Maret 2026
Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya Mojok.co

Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya

16 Maret 2026
Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co

Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini

19 Maret 2026
Lulus Kuliah Mudah Tanpa Skripsi Hanya Ilusi, Nyatanya Menerbitkan Artikel Jurnal SINTA 2 sebagai Pengganti Skripsi Sama Ruwetnya

Kritik untuk Kampus: Menulis Jurnal Itu Harusnya Pilihan, Bukan Paksaan!

19 Maret 2026
Ulukutek Leunca, Makanan Sunda Paling Nggak Normal dan Rasanya Bikin Pusing Pendatang  Mojok.co

Ulukutek Leunca, Makanan Sunda Paling Nggak Normal dan Rasanya Bikin Pusing Pendatang 

13 Maret 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

13 Tahun Bersama Honda Spacy: Motor yang Tak Pernah Rewel, sekaligus Pengingat Momen Bersama Almarhum Bapak

18 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku
  • Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik
  • Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya
  • Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi
  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Terlalu Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.