Bagi orang yang sudah terbiasa, naik Transjakarta mungkin terasa sepele. Tinggal tap kartu, naik bus, duduk, lalu turun di halte tujuan. Tapi bagi pengguna pemula, pengalaman pertama naik Transjakarta bisa berubah jadi petualangan yang melelahkan, bahkan bikin nyasar.
Saya termasuk orang yang cukup sering berlalu-lalang menggunakan Transjakarta, baik untuk urusan kuliah, acara dan jalan-jalan di Jakarta. Dari pengalaman itu, pengguna pemula sebaiknya mengetahui beberapa hal mendasar agar perjalanan tetap aman dan, yang paling penting, sampai tujuan dengan selamat.
Arah perjalanan itu harga mati
Kesalahan paling umum pengguna baru Transjakarta adalah menganggap satu halte hanya punya satu arah. Padahal, banyak halte yang melayani dua arah perjalanan dengan jalur dan platform berbeda.
Akibatnya fatal. Anda bisa saja naik bus dengan nomor koridor yang benar, tapi arah yang salah. Jika ini terjadi, siap-siap waktu tempuh membengkak jauh lebih lama.
Kalau masih beruntung, halte berikutnya punya jalur dua arah sehingga Anda bisa turun dan menyeberang. Kalau tidak, opsinya tinggal dua: lanjut sampai jauh atau turun dan keluar halte. Dalam kondisi tertentu, naik ojek daring justru lebih masuk akal daripada memaksa berjalan kaki sambil kebingungan di jalanan kota besar yang tidak ramah pejalan kaki.
Naik Transjakarta tidak selalu berarti bebas macet
Bus Transjakarta sering dipromosikan sebagai solusi anti-macet. Itu tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Tidak semua rute Transjakarta punya jalur busway steril.
Ada koridor yang masih harus berbagi jalan dengan kendaraan lain. Motor dan mobil pribadi juga kerap menyusup ke jalur busway. Kalau sudah begini, perjalanan yang seharusnya singkat bisa molor tanpa ampun, apalagi kalau ada kecelakaan atau hujan deras.
Soal penempatan kursi
Bagi penumpang pria yang baru pertama naik Transjakarta, pihak Transjakarta menandai kursi bagian tengah ke depan dengan sekat sebagai area khusus wanita dan prioritas. Ingat ini baik-baik ya.
Sebaiknya kalian memilih duduk di bagian tengah ke belakang jika kalian tidak ingin pramusapa menegur atau penumpang lain melirik dengan tatapan tidak ramah. Kalau penuh, berdiri saja. Tidak ada ruginya berdiri sebentar daripada jadi bahan teguran.
Saldo kartu jangan pas-pasan
Transjakarta menerapkan sistem tap in dan tap out. Saldo minimum yang disarankan adalah Rp5.000. Tarif sekali jalan sekitar Rp3.500, tapi saldo harus cukup sejak awal untuk bisa tap in.
Pastikan juga selalu tap out. Kelalaian tap out bisa membuat kartu bermasalah di perjalanan berikutnya. Sebenarnya ini hal sepele, tapi sering dilupakan pengguna baru.
Tidak semua halte Transjakarta ramah fisik
Perlu diakui, Transjakarta belum menyediakan halte yang ramah bagi semua orang dengan gangguan otot atau persendian. Beberapa halte, terutama di Koridor 13, memiliki akses yang tinggi dan cukup melelahkan.
Jika kondisi fisik sedang tidak prima, sebaiknya pertimbangkan moda transportasi lain.
Ngomong-ngomong, Kalau bingung, tanyalah pramusapa. Mereka ada bukan untuk menghakimi, tapi membantu. Pepatah “malu bertanya sesat di jalan” sangat relevan di dunia per-TJ-an.
Cari rute alternatif Transjakarta
Sebenarnya, Transjakarta menghubungkan beberapa koridor dalam peta perjalanannya. Kalian bisa memanfaatkannya jika bosan menunggu dan ingin keliling kota menggunakan rute alternatif. Hal ini juga dapat mempersingkat perjalanan Anda jika bus yang ingin Anda naiki mengalami keterlambatan signifikan akibat kemacetan, gangguan cuaca dan membludaknya penumpang.
Menaiki Transjakarta sebenarnya sederhana. Yang bikin ribet biasanya bukan sistemnya, tapi kurangnya informasi dan kesiapan penumpang. Dengan memahami arah, rute, dan aturan dasar, Transjakarta bisa jadi transportasi murah, aman, dan cukup manusiawi untuk bertahan hidup di Jakarta. Selamat menikmati perjalanan dan jangan sampai nyasar.
Penulis: Faris Firdaus Alkautsar
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 5 Esai Terpopuler Mojok 2025: Sebuah Rekaman Zaman dan Keresahan Lintas Generasi
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
