Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Luar Negeri

Hal-hal Nggak Biasa di Jerman yang Bikin Orang Indonesia Kaget: Selai Berry buat Cocolan Ayam sampai Anjing Boleh Masuk Metro

Lia Widyastuti oleh Lia Widyastuti
26 Juli 2023
A A
Hal-hal Nggak Biasa di Jerman yang Bikin Orang Indonesia Kaget: Mulai dari Selai Berry buat Cocolan Ayam sampai Anjing yang Jadi Penumpang di Metro

Hal-hal Nggak Biasa di Jerman yang Bikin Orang Indonesia Kaget: Mulai dari Selai Berry buat Cocolan Ayam sampai Anjing yang Jadi Penumpang di Metro (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saat berkunjung ke suatu negara, pernah nggak sih menemukan hal-hal aneh yang bikin kalian terheran-heran? Saya jamin pasti pernah, bahkan mungkin sering. Begitu juga dengan pengalaman saya baru-baru ini saat pergi ke Jerman. Meski sebelum pergi saya sudah mencari informasi mengenai “do’s and don’ts” Negeri Panzer, tetap saja saya menemui hal-hal yang menurut saya nggak biasa sebagai orang Indonesia.

Mal dan toko di Jerman tutup pada hari Minggu

Biasanya di itinerary, saya meletakkan jadwal belanja pada dua hari sebelum jadwal kepulangan, begitu juga yang saya lakukan saat pergi ke Jerman. Malam hari sebelum jadwal belanja, saya sudah excited. Rasanya nggak sabar menunggu pagi.

Apesnya, esok harinya saat tiba di lokasi pusat perbelanjaan, tokonya tutup. Saya dan suami kaget melihat mal dan toko yang tutup. Ada renovasi atau gimana sih kok tutup semua?

“Pak, piye iki? Kok malnya tutup?”

Suami saya meringis kuda dan bilang, “Kayaknya kita salah, deh.”

“Salah gimana?” tanya saya.

“Ini kan hari Minggu. Semua mal dan toko di Jerman tutup. Maaf, aku lupa ngecek hari, cuma lihat tanggal aja pas bikin itinerary,” jawab suami.

Kami berdua baru ingat kalau di Jerman ada peraturan Ladenschlussgesetz atau Shop Closing Law. Di Jerman, pada hari Minggu dan hari libur nasional lainnya, mal dan toko “wajib” tutup. Yang boleh buka hanya apotek, toko roti, restoran, toko di stasiun, atau pom bensin. Sedangkan pada hari kerja (Senin-Sabtu), mal dan toko tutup jam 8 malam.

Baca Juga:

Tidak Ada Sampah di Jerman: Tren Bagi-bagi Barang Bekas di Jerman, Upaya Paling Efektif untuk Sustainability

4 Hal yang Biasa di Jerman, tapi Luar Biasa di Indonesia

Padahal di Indonesia, yang namanya Sabtu-Minggu atau hari libur nasional berarti hari belanja nasional. Ya, kan?

Jadi, kalau kalian berkunjung ke Jerman, hati-hati meletakkan jadwal belanja di itinerary. Jangan sampai lupa kayak kami, ya.

Selai berry sebagai cocolan ayam

Kebetulan waktu itu pesawat saya mendarat siang hari waktu Jerman. Setelah melakukan check in di hotel dan beristirahat sejenak, saya dan suami pergi keluar untuk mencari makan siang.

Untuk makan siang, saya pengin mencicipi kuliner Jerman. Akhirnya pilihan saya jatuh pada chicken schnitzel. Semacam chicken katsu kalau di makanan Jepang, alias ayam tepung tanpa tulang kalau di Indonesia.

Beberapa saat menunggu, akhirnya pesanan saya datang juga. Begitu pesanan datang, mata saya terpaku pada cocolan warna merah yang disajikan di wadah saus. Saya coba icip-icip pakai ujung garpu.

Lho, kok rasanya manis? Apa ini? Kok kayak selai buah?

Saya mencoba mengorek-ngorek saus itu lagi. Ternyata memang selai buah, soalnya masih ada butiran-butiran kecil semacam buah berry yang rasanya manis.

Walah, gimana ini rasanya? Mosok ayam tepung dicocol sama selai manis? pikir saya. Saya hanya bisa menggaruk-garuk kepala sambil membayangkan. Kalau di Indonesia, chicken schitzel ini bakalan wenak pol kalau dicocol dengan sambal terasi tomat yang pedas atau sambal matah.

Sudahlah, besok-besok jangan pesan menu ini lagi, begitu pikir saya.

Besoknya saat makan siang, saya coba memesan grilled chicken alias ayam bakar. Waktu pesanan datang, kok selai buah kemarin nangkring lagi di piring saya. Tapi akhirnya saya makan juga daripada kelaparan meski di mulut rasanya nano-nano.

Yah, mungkin bagi orang Jerman, cocolan ayam berupa selai berry manis ini cocok disandingkan dengan menu utama yang gurih. Namun di lidah Jawa saya, cocolan ini kok rasanya kurang pas.

Pengalaman ini hampir mirip waktu saya pertama kali mencicipi pisang goreng sambal roa. Rasa manis ketemu pedas lumayan unik di lidah saya. Untungnya saya suka makanan pedas, makanya pisang goreng sambal roa terasa enak-enak aja di lidah saya. Beda banget sama ayam dengan cocolan selai berry ini.

Gara-gara pengalaman itu, saya jadi penasaran dengan selai berry dan mencari informasinya. Ternyata nama buah yang dijadikan cocolan itu adalah lingonberry.

Buah lingonberry ini sebenarnya populer dalam dunia kuliner Swedia, namun akhirnya merambah juga ke dunia kuliner Jerman sebagai saus atau cocolan khususnya untuk menu daging-dagingan. Jadi, kalau kalian nanti berkunjung ke Jerman, jangan kaget saat menemukan selai lingonberry ini, ya.

Random ticket check dan anjing di metro

Setiap kali berkunjung ke sebuah negara, biasanya saya selalu mencoba transportasi umum di sana. Waktu pergi ke Jerman, saya dan suami ingin mencoba naik kereta metro di Berlin. Setelah membeli tiket di mesin tiket, kami langsung menuju eskalator yang membawa kami ke peron bawah tanah.

“Lho, Pak, kok ini nggak ada gate-nya? Nggak ada acara tap-tap tiket pula?” tanya saya.

“Ndak, di sini memang nggak ada gerbangnya. Nanti di peron ada mesin validasi tiket. Kita stempelkan tiketnya di sana.” jawab suami saya.

“Oalah, berarti sebenernya nggak beli tiket yo nggak apa-apa, Pak. Wong nggak ada gate-nya, nggak ada petugas juga!”

“Hush, ngawur aja. Kalau kena random ticket check dendanya 60 euro, lho!”

“Aku pikir kalau nggak ada petugasnya kita bisa curang dan naik kereta gratisan. Hehehe…”

“Kamu pikir ini Indonesia?” sahut pak suami.

“Hehehe…” kami berdua pun cekikikan.

Sampai di peron, kami menuju mesin validasi berwarna kuning untuk menstempel tiket. Setelah itu, seperti biasa saya selalu minta pak suami untuk memotret saya sambil menunggu kereta. Akhirnya kereta yang kami tunggu tiba, kami pun segera masuk ke dalam gerbong.

Meski saya dan suami mau turun di dua stasiun berikutnya, saya pengin merasakan pengalaman duduk di dalam metro Jerman. Maka begitu melihat kursi kosong, kami segera duduk. Kebetulan kami dapat tempat duduk saling berhadapan.

Beberapa menit setelah duduk di dalam kereta, saya baru ngeh kalau ada benda hitam besar di samping kaki saya yang bergerak-gerak. Awalnya saya pikir itu adalah tas milik orang yang duduk di sebelah pak suami. Namun setelah saya perhatikan, lahdalah ternyata itu anjing besar berwarna hitam. Bahkan ukuran badan anjing itu lebih besar daripada pemiliknya.

Anjing hitam itu punya bulu panjang sekali sampai menutupi matanya. Makanya saya pikir itu tumpukan barang. Ternyata di Jerman, anjing boleh naik metro, toh.

Setelah turun di dua stasiun berikutnya, saya coba mencari informasi tentang aturan membawa binatang peliharaan dalam transportasi umum di Jerman. Rupanya di Jerman, anjing termasuk binatang peliharaan yang boleh dibawa naik kereta. Anjing yang ukurannya kecil atau masih bisa dipangku nggak perlu membeli tiket alias gratis. Tapi, kalau anjingnya besar, pemilik anjing harus membelikan tiket tambahan.

Begitulah pengalaman saya bertemu hal-hal nggak biasa di Jerman. Memang cukup mengejutkan bagi orang Indonesia, apalagi kalau baru pertama kali main ke Negeri Panzer. Meski begitu, pengalaman di atas menjadi pengalaman berharga yang bisa terus saya kenang.

Penulis: Lia Widyastuti
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Mengenal Au Pair dan Alasan Saya Tinggal di Jerman.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 Juli 2023 oleh

Tags: jermankebijakan jerman
Lia Widyastuti

Lia Widyastuti

Saya adalah seorang guru BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) yang hobi jalan-jalan.

ArtikelTerkait

3 Program Unggulan yang Bisa Mengantarmu Tinggal di Jerman. Bekerja dan Belajar di Negara Asing Bukan Hal Mustahil

Tidak Ada Sampah di Jerman: Tren Bagi-bagi Barang Bekas di Jerman, Upaya Paling Efektif untuk Sustainability

10 Oktober 2023
toni kroos adidas adipure11pro real madrid jerman mojok

Toni Kroos dan Adidas Adipure 11Pro Mengajarkan bahwa Nyaman Itu Sederhana

9 April 2021
Pengalaman Kerja Menjadi Perawat Panti Jompo di Jerman, Belajar Menjadi Manusia dan Memahami Hal-hal yang Asing di Kepala

Pengalaman Kerja Menjadi Perawat Panti Jompo di Jerman, Belajar Menjadi Manusia dan Memahami Hal-hal yang Asing di Kepala

5 September 2023
Merek Cap Lang, Produk Asal Jerman yang Dikira Brand Lokal

Merek Cap Lang, Produk Asal Jerman yang Dikira Brand Lokal

6 Juli 2023
3 Program Unggulan yang Bisa Mengantarmu Tinggal di Jerman. Bekerja dan Belajar di Negara Asing Bukan Hal Mustahil

3 Program Unggulan yang Bisa Mengantarmu Tinggal di Jerman. Bekerja dan Belajar di Luar Negeri Bukan Hal Mustahil

2 September 2023
Kutukan yang Membayangi Prancis di Piala Dunia 2022

Kutukan yang Membayangi Prancis di Piala Dunia 2022

15 November 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan Mojok.co

Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan

1 Februari 2026
5 Barang Indomaret yang Sebenarnya Mubazir, tapi Terus Dibeli Pelanggan Mojok.co

5 Barang Indomaret yang Sebenarnya Mubazir, tapi Terus Dibeli Pelanggan

31 Januari 2026
Sisi Gelap Mahasiswa Timur Tengah- Stempel Suci yang Menyiksa (Unsplash)

Sisi Gelap Menjadi Mahasiswa Timur Tengah: Dianggap Manusia Suci, tapi Jatuhnya Menderita karena Cuma Jadi Simbol

5 Februari 2026
Stasiun Plabuan Batang, Satu-Satunya Stasiun Kereta Api Aktif di Indonesia dengan Pemandangan Pinggir Pantai

Bisakah Batang yang Dikenal sebagai Kabupaten Sepi Bangkit dan Jadi Terkenal?

1 Februari 2026
Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

31 Januari 2026
Oleh-Oleh Khas Wonosobo yang Sebaiknya Kalian Pikir Ulang Sebelum Membelinya Mojok.co

Wonosobo Memang Cocok untuk Berlibur, tapi untuk Tinggal, Lebih Baik Skip

3 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi
  • Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam
  • Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.