Punya anak kecil itu menggemaskan. Setiap hari ada saja polah mereka yang bikin orang tua jadi nyengir. Tapi, tunggu sampai mereka melancarkan aksi Gerakan Tutup Mulut alias GTM. Beuh, tak ada lucu-lucunya sama sekali. Sungguh.
GTM di kalangan orang tua, terlebih ibu-ibu muda, bukanlah istilah yang asing lagi. GTM digunakan untuk menggambarkan kondisi anak yang menutup rapat mulut mereka tiap kali disuapi makan. Sekalinya mulut dibuka, makanan yang masuk tidak langsung dikunyah. Makanan hanya didiamkan lama sekali di dalam mulut. Kalau sudah begitu, orang tua mana yang tidak gemas?
Saking gemasnya, segala cara dilakukan agar anak mau membuka mulut. Mulai dari yang biasa-biasa saja seperti diajak makan sambil jalan-jalan di sekitar rumah, hingga memanfaatkan mainan sebagai sendok agar anak mau makan.
GTM anak dan kekhawatiran yang bisa dimengerti
Dua anak saya waktu masih kecil juga pernah melakukan gerakan tutup mulut ini. Kala itu, segala cara juga saya lakukan agar makanan bisa masuk.
Saya pernah pura-pura menyuapi satu per satu mainan demi anak mau buka mulut. Pernah pula nyuapin sambil berbusa-busa cerita soal apa saja. Maksudnya sih biar anak lengah karena keasyikan dengar cerita saya, trus tanpa sadar mereka membuka mulut. Banyak caralah pokoknya.
Itu sebabnya, kalau lihat ada video perjuangan ibu-ibu merayu anaknya supaya mau buka mulut, saya merasakannya juga. Pasti ibu-ibu itu merasa frustasi. Iya kan, Bu? Sama, saya juga dulu begitu. Sini-sini, kita gandengan bareng. Mari kita abaikan orang yang bilang kalau rasa frustasi yang dirasakan oleh emak-emak kala anaknya GTM itu lebay.
Lebay apaan? Ibu yang frustasi karena anaknya GTM itu bukan lebay. Itu adalah kekhawatiran yang sangat bisa dimengerti, sebagai bentuk cinta seorang ibu untuk buah hatinya. Ya kan kalau anak nggak mau makan, pasti ada perasaan takut mereka akan kekurangan nutrisi, terlambat tumbuh kembangnya, hingga jatuh sakit. Yang seperti itu kok dibilang lebay. No no, ya~
Tak ada usaha yang sia-sia
Sejujurnya, saya salut loh sama ibu-ibu yang usahanya luar biasa demi anak mau membuka mulut. Kalau bisa, ingin rasanya saya peluk mereka satu per satu sambil pukpuk pundaknya dan bilang, “Makkkk!! Kamu hebat banget, loh!”
Terutama, pada emak-emak yang seniat itu bikin kreasi menu makanan. Ada nasi dibentuk beruang, wortel potong bintang, hingga warna-warni piring yang menggugah selera. Nggak mudah loh bikin semua itu. Apalagi setelah itu harus lanjut dengan mendongeng, bernyanyi, hingga mondar-mandir berkeliling halaman demi membujuk si kecil makan. Salut bener dah pokoknya!
Padahal, segala daya dan upaya yang mereka lakukan belum tentu sukses bikin anak buka mulut. Tapi, para ibu ini menolak untuk menyerah. Hari ini gagal, besoknya cari cara lain lagi. Begitu seterusnya.
Dan apakah itu artinya usaha mereka sia-sia? Karena anak tetap saja GTM?
Kalau fokusnya ke hasil jangka pendek, jawabannya iya. Namun, coba lihat efek jangka panjangnya dong. Lewat kegagalan demi kegagalan yang dialami saat proses menyuapi anak itulah seorang ibu justru semakin memahami si anak. Apa yang mereka sukai, apa yang tidak disukai, suasana apa yang mereka sukai, dsb. Artinya apa, Bun? Terbentuklah ikatan batin yang kuat antara ibu dan anak. Wow, selamat, ya!
Ibu bahagia itu yang utama
Lebih lanjut soal GTM, berdasarkan pengalaman pribadi (dan saya yakin ibu yang lain juga setuju), ada yang lebih bikin gerah daripada anak yang enggan buka mulut. Yaitu, komentar julid dari ibu lain atau orang-orang sekitar.
Kalimat seperti, “Kok anaknya kurus banget? Nggak dikasih makan, ya?”, “Ibunya pasti nggak telaten nih kalau nyuapi”. Beuh … kalau ada yang komentar seperti itu, rasanya pengen ngoles sambal ke mulutnya. Belum tahu saja mereka betapa jungkir baliknya usaha bikin anak mangap.
Cara terbaik untuk melawan omongan-omongan itu adalah tidak memedulikannya. Sebab, semakin dipedulikan akan semakin stres. Ending-nya, muncul perasaan gagal sebagai seorang ibu yang akhirnya bikin uring-uringan. Padahal, anak membutuhkan kehadiran ibu yang bahagia.
Solusinya, dibikin santai saja, Bund. Yakin saja bahwa ibu bukanlah satu-satunya ibu di muka bumi yang anaknya GTM. Kalau saat ini anaknya memang lagi nggak mau makan, ya sudah, biarkan dulu. Ibunya saja yang makan duluan. Kalau perut ibu kenyang, pikiran jadi tenang, hati ikut riang. Energi positif pun akan memancar ke seisi rumah. Siapa tahu saat melihat ibu makan dengan lahap dan santai, si kecil justru terpancing untuk ikut mendekat dan mencicipi makanan dari piring ibunya.
Kalau hal itu tidak terjadi, nggak masalah. Toh, satu atau dua hari anak-anak menolak makan tidak serta-merta membuat tubuhnya langsung kekurangan gizi akut. Anggap saja ketika anak GTM, mereka itu sedang belajar mengenali sinyal tubuh dan emosi mereka sendiri.
Semangat ya ibu-ibu yang sedang berada di fase menyuapi anak. Pada akhirnya fase itu akan terlewati juga, kok.
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
