Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Gibran, Dinasti Politik, dan Kustini Sri Purnomo yang Diragukan di Pilkada Sleman 2020

Muhammad Damar Muslim oleh Muhammad Damar Muslim
3 Agustus 2020
A A
Daripada Blusukan Daring, Gibran Rakabuming Mending Lakukan Hal yang Lebih Wangun kaesang pilkada jokowi terminal mojok.co

Daripada Blusukan Daring, Gibran Rakabuming Mending Lakukan Hal yang Lebih Wangun kaesang pilkada jokowi terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Awalnya adalah dengung saja saya kira. Namun, dengung itu berasal dari sumber suara yang gaungnya memang luar biasa. Tidak lain, tiada bukan adalah politik dan dinamika yang terjadi di dalamnya. Menjelang Pilkada 2020 yang konon serentak, isu dinasti politik mengemuka. Menggaungkan nama Gibran, Jokowi, hingga Kustini Sri Purnomo di Pilkada Sleman.

“Merdeka! Merdeka! Merdeka!” Gibran berteriak-teriak di depan sebuah gedung. Saya lupa nama gedungnya. Mimik mukanya memang lebih sangar ketimbang Jokowi. Jika Jokowi lebih priyayi, Gibran lebih seperti tukang gelut yang disukai banyak orang. Eits, maknanya bukan negatif. Namun, artinya, Gibran lebih galak dan terlihat siap bertarung.

Keputusan PDIP untuk memunji Gibran di atas pundaknya memang “kontroversial”. Dan kontroversi inilah yang nabrak banyak sosok menjelang Pilkada 2020 nanti. Di atas sudah saya sebut nama Kustini Sri Purnomo. Nanti saya jelaskan di bawah.

Sebelumnya, saya ingin menjelaskan kontroversi yang bikin gaung nama Gibran begitu nyaring. Pertama-tama adalah karena sikap PDIP yang aneh banget. Sebelum Gibran mendaftar calon walikota, DPC PDIP sudah punya calon. Namanya Achmad Purnomo dan Teguh Prakosa.

Kalau melihat posisi kader di dalam partai, Gibran nggak bisa dong dijadikan calon. Kita seharusnya tahu, salah satu syarat pengajuan calon melalui penjaringan internal adalah sudah terdaftar sebagai kader minimal 3 tahun. Gibran? Ha baru resmi beberapa bulan. Kartu anggotanya masih kinyis-kinyis.

Gibran maju bukan lewat jalur semestinya di dalam partai. Sudah, akui saja, ini fakta, kok. Achmad Purnomo, kader PDIP sejak lama, yang lebih berhak. Sayang, di tikungan terakhir, Achamd ditikung oleh Gibran. Dari sini saja, tidak hanya gaung yang terdengar, tetapi sudah berisik. Terutama media-media itu.

Tapi, yah, di dalam politik, terkadang “garis keturunan” itu mengalahkan mereka yang sudah bekerja keras dan “nrimo ing pandum”. Terkadang, politik terlalu lentur kayak karet kolor yang udah usang.

Mulai sejak itu, narasi dinasti politik mulai membahana. Semua berkat Gibran. Coba kamu bandingkan kencangnya pemberitaan ketika Mas Martabak Enak itu maju sama ketika Pilkada Klaten atau Banten. Terasa bedanya, kan? Gaungnya lebih keras ketika ada nama anak Jokowi di sana. Narasinya lebih enak untuk digoreng media.

Baca Juga:

Isu Ijazah Jokowi Palsu Adalah Isu Goblok, Amat Tidak Penting, dan Menghina Kecerdasan, Lebih Baik Nggak Usah Digubris!

Rumah Pribadi Jokowi di Solo Memang Cocok Jadi Destinasi Wisata Baru

Nah, oleh karena itu, majunya Kustini Sri Purnomo yang diusung oleh PDIP sebagai calon bupati menjadi sorotan. Kustini Sri Purnomo sendiri berpasangan dengan Danang Maharsa, kader PDIP. Kok bagi saya, Kustini Sri Purnomo seperti ketiban pulung. Nggak ikut makan Nangka, eh ikut kena getahnya.

Memang, sih, kita nggak bisa begitu saja menampik posisi Kustini Sri Purnomo sebagai istri Sri Purnomo. Pak Sri ini adalah Bupati Sleman, yang sudah menjabat selama 3 periode. Jagoan betul. Hehe….

Setelah suami, lalu istri. Isu dinasti politik mulai jadi bahan omongan warga Sleman. Gimana tidak, di circle saya yang masih kalah besar dibanding lingkar bunderan UGM itu, istilah dinasti politik dan nama Kustini Sri Purnomo sudah sering jadi bahan obrolan. Seru juga, apalagi yang ngobrolin blas nggak paham politik. Jatuhnya cuma mengekor apa kata media.

Banyak media di Indonesia sendiri memandang kalau dinasti politik itu buruk. Katanya, kalau dinasti politik itu sudah pasti korupsi. Itu minimal. Lanjutannya masih ada kolusi dan nepotisme. Namanya juga satu paket. Orang banyak lalu kayak paduan suara, mengekor “apa kata media”.

Saya nggak tahu dan enggan juga berburuk sangka. Apakah Kustini Sri Purnomo memang sedang melanggengkan dinasti politik di Sleman? Atau, namanya jadi bahan obrolan hanya karena banyak orang jadi aware sama dinasti politik karena Gibran saja?

Kalau mau so called “adil”, mbok jangan bawa-bawa Gibran. Bandingin saja dengan Bantul. Tonggo ndeso. Ingat nggak, para ahli cocoklogi, ketika Pilkada Bantul yang ada pertarungan “istrinya bupati”, udah ikut berkomentar? Sudah aware dan jadi gethem-gethem sama dinasti politik? Atau, sekarang ini cuma sekadar melu-melu saja?

Kalau mau adil, kenapa nggak bikin ramai Pilkada Klaten beberapa tahun yang lalu? Saya kira, ramainya ya kayak “udan tekek”, hujan ketika cuaca panas. Hujan bentar, lalu berhenti, tapi bikin gerah minta ampun. Isunya tuh kayak nggak jadi isu nasional. Eh, sekalinya jadi obrolan negara ketika Bupati Klaten “ada main” sama hand sanitizer. Dih, gitu amat. Hehehe….

Lain ladang lain belalang. Gibran beda dengan Kustini Sri Purnomo (Sleman), beda pula dengan Sri Surya Widati (Mantan Bupati Bantul, istri Idham Samawi). Tidak ada manusia yang mau dibanding-bandingin, lho. Apalagi usaha membanding-bandingkan itu berawal dari sekadar “ikut-ikutan saja”, tanpa mau memahami latar belakang si calon.

Takutnya, kalau sudah nggak suka sejak awal, siapa pun yang maju di Pilkada Sleman 2020, pasti terlihat jelek. Ha mbok yakin. Kalau sudah begitu, yang ada cuma gelut, saling merendahkan, black campaign. Nggak ada lagi ruang untuk diskusi dan berdebat secara sehat. Semua hanya karena “ikut-ikutan saja”.

BACA JUGA Makan Gorengan Kustini Sambil Nyeplus Lombok Rawit atau tulisan lainnya dari Muhammad Damar Muslim.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 3 Agustus 2020 oleh

Tags: gibranJokowiKSPKustini Sri PurnomoPilkada 2020Pilkada Slemanpolitik dinasti
Muhammad Damar Muslim

Muhammad Damar Muslim

Mahasiswa paruh waktu. Waktu penuhnya buat kamu.

ArtikelTerkait

politainment

Melihat Politainment Ala Jokowi

14 Oktober 2019
perppu

Penerbitan Perppu KPK Hak Prerogatif Presiden

2 Oktober 2019
jokowi dan prabowo

Pesan Tersirat Pertemuan Jokowi dan Prabowo dan Nasib Para Pendukungnya

15 Juli 2019
kata cepat dalam pidato jokowi sidang tahunan mpr 2020 mojok.co

Maksud Kata ‘Cepat’ yang 17 Kali Disebut Jokowi di Pidato Sidang Tahunan MPR

18 Agustus 2020
Ilustrasi Fakta di Balik Kontroversi Perdagangan Miras di Sleman (Unsplash)

Fakta di Balik Kontroversi Perdagangan Miras di Sleman: Siapa yang Seharusnya Bertanggung Jawab?

1 November 2024
puan maharani dpr Pak RT mojok

Puan Maharani atau Tidak Sama Sekali: Kegalauan PDIP yang Rasional

10 Oktober 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Pertanyaan yang Dibenci Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Mojok.co jurusan PAI

Saya Tidak Ingin Menjadi Guru walaupun Memilih Jurusan PAI, Bebannya Tidak Sepadan dengan yang Didapat!

11 Januari 2026
4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata

4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata

16 Januari 2026
Kelurahan Batununggal dan Kecamatan Batununggal: Nama Mirip dan Sama-sama di Bandung, tapi Takdirnya Berbeda Mojok.co

Kelurahan Batununggal dan Kecamatan Batununggal: Nama Mirip dan Sama-sama di Bandung, tapi Takdirnya Berbeda

15 Januari 2026
Pengalaman Menginap di Hotel Kapsul Bandara Soekarno Hatta (Unsplash)

Pengalaman Menginap di Hotel Kapsul Bandara Soekarno-Hatta, Hotel Alternatif yang Memudahkan Hidup

11 Januari 2026
Nasib Warga Dau Malang: Terjepit di Antara Kemacetan Kota Wisata dan Hiruk Pikuk Kota Pelajar

Nasib Warga Dau Malang: Terjepit di Antara Kemacetan Kota Wisata dan Hiruk Pikuk Kota Pelajar

17 Januari 2026
Menerima Takdir di Jurusan Keperawatan, Jurusan Paling Realistis bagi Mahasiswa yang Gagal Masuk Kedokteran karena Biaya

Menerima Takdir di Jurusan Keperawatan, Jurusan Paling Realistis bagi Mahasiswa yang Gagal Masuk Kedokteran karena Biaya

14 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.