Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Gerakan #Blacklivesmatter dan Benih Rasisme yang Jarang Kita Sadari

Rofii Zuhdi Kurniawan oleh Rofii Zuhdi Kurniawan
8 Agustus 2020
A A
#blacklivesmatter rasisme papua kyrie irving mojok

#blacklivesmatter rasisme papua kyrie irving mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Gerakan #Blacklivesmatter yang diawali oleh terbunuhnya George Floyd semakin masif digalakkan melalui berbagai media. Gerakan #Blacklivesmatter menyadarkan kita semua tentang betapa jahatnya rasisme. Pada peradaban kita hari ini, rasisme memang tidak seeksplisit abad 18-20, namun rasisme masih banyak diperlihatkan lewat beberapa hal secara implisit.

Akibatnya, rasisme masih tertanam kuat di dalam alam bawah sadar. Rasisme secara implisit mampu menyelinap ke dalam pikiran, tanpa kita sadari secara pasti waktu masuknya. Ia tiba-tiba mengendap ke dalam alam bawah sadar dan siap meletus sewaktu-waktu dalam perilaku keseharian.

Tak usah jauh-jauh kita membahas tentang Amerika Serikat, di Jogja saja rasisme sudah semakin marak tanpa kita sadari. Lihatlah perilaku para pemilik kos yang menolak memberikan tempat tinggal sementara atau kos bagi mahasiswa asal Papua ataupun Indonesia timur. Mirisnya, para pemilik kos tersebut didukung oleh banyak masyarakat maupun instansi di Yogyakarta dengan dalih mewajarkan ketakutan warga asli karena banyak pendatang, utamanya dari Indonesia timur sering berbuat onar. Padahal, mungkin kerusuhan banyak juga yang didalangi oleh etnis lain, selain orang Indonesia timur, hanya saja tidak diberitakan seheboh apabila pelakunya orang Indonesia timur.

Lihat saja klitih, apakah ada pelaku yang berasal dari Indonesia timur? Tentu anda tahu jawabannya. Lantas, di mana mulainya penanaman pikiran rasis  secara implisit tersebut. Rasanya semua itu bermula dari media, mulai dari iklan hingga film.

Sebelum maraknya gerakan #Blacklivesmatter, banyak iklan yang terang-terangan melakukan diskriminasi terhadap orang kulit hitam. Dalam iklan Nivea, terlihat seorang wanita berkulit hitam tengah mengoleskan produk losion Nivea. Kemudian warna kulitnya berbuah menjadi lebih terang dan cerah.

Iklan produk Dove pun melakukan hal serupa, terdapat seorang model berkulit hitam yang kemudian berubah menjadi putih setelah memakai produk tersebut. Iklan tersebut dikecam karena berbau rasis.

Diskriminasi terhadap orang kulit hitam  banyak terjadi dalam film Indonesia yang mengambil tema Papua. Beberapa di antaranya adalah Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (2003); Denias, Senandung di Atas Awan (2006); Lost in Papua (2011); Di Timur Matahari (2012); Cinta dari Wamena (2013); Tanah Mama (2015); dan Epen Cupen (2015). Dalam semua film tersebut orang papua dianggap sebagai sosok yang primitif, bodoh, dan suka berbuat kerusuhan. Sebuah anggapan yang tidak jauh berbeda dengan pandangan orang Belanda terhadap pribumi pada zaman penjajahan. Sebuah anggapan khas kolonial yang menganggap yang dijajah perlu dijadikan beradab seperti yang menjajah. Padahal, belum tentu yang tradisional itu tidak beradab, apa yang dianggap bodoh oleh masyarakat tradisional mungkin malah lebih bermanfaat bagi kelestarian alam.

Tak cukup hanya dalam film dan iklan, tayangan televisi juga sering menampilkan betapa bodohnya orang di luar pulau Jawa. Tengok saja tayangan “Ethnic Runaway” di Trans TV yang melanggengkan stereotipe primitif terhadap suku-suku tertentu. Kearifan lokal mereka acap kali dipandang sebagai kebodohan bagi para bintang tamu dalam tayangan tersebut. Ada juga tayangan “Keluarga Minus” yang menegaskan bahwa eksploitasi terhadap orang Papua dapat diciptakan melalui kelucuan-kelucuan dari keluguan para karakter di sitkom.

Baca Juga:

Culture Shock Orang Jakarta Ketika Pertama Kali ke Jayapura, Ternyata Nggak Terpelosok seperti dalam Bayangan

Sisi Gelap Kerja di Korea Selatan: Gaji Besar tapi Hak-hak Lain Tergadaikan  

Kelucuan tersebut digambarkan melalui citra sikap primitif dan kepercayaan terhadap animisme oleh para pemainnya. Hal tersebut seolah dijadikan bahan lelucon yang menghibur. Padahal, secara tidak sadar kelucuan yang rasis turut melanggengkan stigma terhadap orang Papua. Identitas Papua dalam sitkom menjadi semacam olok-olok yang menghibur. Belum lagi diskrimasi yang dialami Tara Basro dalam dunia hiburan. Menurut dia, pada medium 2010-an awal banyak penolakan terhadap dirinya terjadi karena warna kulit coklat miliknya.

Syukurlah, ada gebrakan dari #Blacklivesmatter yang membuat beberapa iklan berubah total. Banyak iklan mulai menyisipkan kata-kata “cocok untuk semua warna kulitmu”, “tak masalah apapun warna kulitmu”. Dunia perfilman juga sudah menerima Tara Basro yang bahkan menobatkannya sebagai salah satu aktris terbaik di negeri ini. TransTV pun sepertinya ingin menebus dosa rasisnya di masa lalu. Kali ini mereka mengorbitkan Maria Christy Anastasia sebagai host Insert, seorang wanita berkulit hitam nan eksotis.

Sayangnya di tingkat masyarakat, rasisme seperti diskriminasi yang dilakukan para pemilik kos di Yogyakarta malah semakin banyak. Belum lagi diskriminasi kos dengan label kos khusus muslim yang makin marak terjadi. Pada tayangan komedi pun kita malah mengalami penurunan, jika dahulu komedi dibalut secara cerdas oleh Warkop DKI, Srimulat, dkk, sekarang banyak komedian yang menghibur dengan cara mengolok-olok fisik seseorang. Toh, memang tidak gampang menghapuskan rasisme. Namun alangkah baiknya jika kita memulai dari diri sendiri terlebih dahulu untuk memeluk semua manusia sebagai manusia, tanpa membeda-bedakannya.

BACA JUGA Panduan Mengawali Pembicaraan Bagi Kalian yang Pengin Ngechat Gebetan Duluan dan tulisan Rofi’i Zuhdi Kurniawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 8 Agustus 2020 oleh

Tags: #Blacklivesmatterpapuarasisme
Rofii Zuhdi Kurniawan

Rofii Zuhdi Kurniawan

Mahasiswa S2 yang menjalani perjalanan belajar antara Yogyakarta dan Jakarta, sambil mengumpulkan pengalaman dan sudut pandang dari setiap persinggahan.

ArtikelTerkait

merah putih

Merah Putih Tetap Berkibar di Papua

2 September 2019
siapa di balik insighID

Siapa di Balik InsightID: Manipulasi Platform untuk Manipulasi Informasi

8 Oktober 2019
papua

Kerusuhan Menyengsarakan Masyarakat: Damailah Papua

2 September 2019
Begini Rasanya Jadi Orang Batak Keturunan Jawa Berwajah Timur terminal mojok

Begini Rasanya Jadi Orang Batak Keturunan Jawa Berwajah Timur

23 Maret 2021
6 Stereotipe Papua yang Benar-benar Keliru

6 Stereotipe Papua yang Benar-benar Keliru

7 Agustus 2022
gereja katolik indonesia gereja katolik papua konferensi waligereja indonesia mendiamkan kekerasan di papua pembunuhan pendeta yeremia intan jaya mojok.co

Mengapa Gereja Katolik Indonesia Mendiamkan Kekerasan pada Umatnya di Papua?

11 Desember 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stasiun Klaten Stasiun Legendaris yang Semakin Modern

Stasiun Klaten, Stasiun Berusia Satu Setengah Abad yang Terus Melangkah Menuju Modernisasi

16 Maret 2026
Pertama Kali Mencicipi Swike: Makanan Berbahan Dasar Kodok yang Terlihat Menjijikan, tapi Bikin Ketagihan Mojok.co

Katak dalam Soto, Ternyata Swike: Pengalaman yang Membuat Saya Kini Tak Mudah Percaya dan Meragukan Segalanya

21 Maret 2026
5 Kasta Kursi KA Probowangi yang Menentukan Nyaman Tidaknya Perjalanan Mudikmu

5 Kasta Kursi KA Probowangi yang Menentukan Nyaman Tidaknya Perjalanan Mudikmu

15 Maret 2026
Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi (Unsplash)

Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi

19 Maret 2026
5 Kasta Penunggang Yamaha NMAX Dari Hina sampai Berbahaya

5 Kasta Penunggang Yamaha NMAX, dari yang Hina sampai yang Paling Berbahaya

22 Maret 2026
Kapok Naik Bus Harapan Jaya Surabaya-Blitar, Niat Bepergian Nyaman Berakhir Berdesakan karena Sopir Maruk Angkut Penumpang Sebanyak-banyaknya Mojok.co

Kapok Naik Bus Harapan Jaya Surabaya-Blitar, Niat Bepergian Nyaman Berakhir Berdesakan karena Sopir Maruk Angkut Penumpang Sebanyak-banyaknya

20 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.