Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Genduren atau Kenduri dengan Berkat Mentahan, Kemudahan Sekaligus Kemerosotan

Bayu Kharisma Putra oleh Bayu Kharisma Putra
21 Februari 2021
A A
menu wajib berkat tahlilan mojok.co

menu wajib berkat tahlilan mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Saat SD, hape saya adalah Siemens C45. Hp yang belum polyphonic apalagi punya kamera. Berlanjut ke SMP, saya punya Hp Nokia yang sudah Java, punya kamera dan bisa download game di Waptrick. Berlanjut ke era SMK, saya masih pakai hape itu sampai kemudian punya BB, lalu smartphone, dan kini pakai smartphone bikinan Cina. Seiring berkembangnya teknologi, semakin banyak fitur dan kemudahan yang ditawarkan. Tapi, tanpa saya sadari, banyak hal buruk juga yang terjadi. Kecanduan dan terbuangnya waktu salah satunya. Hal yang sama, terjadi di banyak unsur kehidupan bermasyarakat. Seperti judul di atas, genduren dengan berkat mentahan juga salah satu kemajuan sekaligus kemunduran.

Genduren atau kenduri adalah semacam ngaji dengan doorprize. Namun, ngaji mentahan ini lain, doorprizenya berupa barang mentah, alias sembako. Walau kadang, masih ada yang diberi snack barang sebungkus. Bisa dibilang, genduren dengan oleh-oleh berkat mentahan adalah teknologi genduren modern.

Gerakan genduren mentahan ini muncul karena kekhawatiran makanan jadi mubazir. Memang kadang begitu, suka nggak kemakan. Walau sebenarnya kita tahu, tujuan utamanya adalah agar lebih ringkas dan cepat saja. Kalau soal biaya, mentahan justru lebih boros. Bayangkan saja, ada beras, telur, mi instan, gula, teh, kopi dan kadang masih ditambah snack.

Sependek pengamatan saya, genduren berkat mentahan, muncul pada 2000-an. Kakek saya pernah ngomong gini, “Kalau sekarang genduren kok mentahan, lama-lama nanti genduren amplopan muncul”. Dan benar saja, genduren mentahan muncul sebagai pembuka genduren amplopan. Di daerah saya, sudah mulai ada yang melakukan itu. Mengundang pihak-pihak semacam santri, ustaz, sampai ke anak yatim untuk kemudian memberi amplop berisi uang. Alias ngaji berbayar. Tentu lebih simple, tak perlu mengundang tetangga, tak perlu masak banyak-banyak, cukup ke ATM dan beli amplop kecil.

Mungkin akan lebih baik jika tanpa ada door prizenya, cukup doa bersama. Tapi, susah juga menghilangkan prosesi amal semacam itu. Berkat mentahan itu pun sebenarnya kurang genduren, genduren yang tak sejati. Sebab, pada dasarnya, genduren itu mengundang tetangga dan memasak dengan bantuan tetangga. Budaya begituan, muncul untuk melatih kerukunan, bukan cuma agar beramal tok. Ada banyak versi soal genduren ini. Ada yang bilang dari Hindu, dari budaya ini dan itu, banyak pokoknya. Yang pasti, genduren sendiri adalah prosesi syukuran dengan berdoa dan makan bersama, atau “mberkat” alias membawa pulang berkat berupa makanan.

Sebab berkat mentahan habis duit lebih banyak, akhirnya dianggap lebih fancy dan glamor. Tak ayal, banyak pihak ikut cara ini, tentu karena gengsi. Seperti yang terjadi di keluarga besar saya misalnya. Saat akan genduren, keluarga terbagi dalam dua kubu. Satu, kubu genduren konvensional dan satu lagi genduren berkat mentahan. Alasan dari kubu genduren konvensional untuk meneruskan tradisi. Yang mentahan, agar tak malu dengan tetangga, gengsi begitu. Namun, akhirnya diambil jalan tengah, tetap mentahan, agar lebih simple dan cepat. Hanya saja, snack agak dibanyakin, biar satu rumah kebagian.

Meski harus diakui, mentahan memang lebih bermanfaat dan tak takut jadi mubazir. Belum lagi saat ada orang meninggal dan harus genduren. Agar tak repot dan cepat, mentahan yang dipilih. Yang wagu adalah, jika genduren orang meninggal, berkat mentahan menjadi budaya wajib. Jadi, saat ada orang meninggal, dan yang jadil oleh-oleh justru berkat matengan (tidak mentahan), keluarga itu akan jadi olok-olok sekampung. Tak semua suka begitu, tapi namanya rerasan itu kayak oksigen, dibutuhkan untuk obrolan orang kampung.

Genduren mentahan memang sudah menjamur di mana-mana. Praktis, simple, cepat, mewah, namun mengesampingkan nilai gotong royong dan makna genduren itu sendiri. Semoga di masa depan, tak ada genduren voucher kuota internet, atau genduren diamond. Yang paling saya takutkan adalah, tak ada lagi genduren dan ngaji bersama lagi, semuanya online lewat gawai.

Baca Juga:

Tradisi Rewang di Desa: Gotong Royong yang Kini Jadi Ajang Pamer

Menjadi Haji Mabrur di Madura Itu Susah, Harus Berani Menentang Kultur yang Mengatur

BACA JUGA 5 Lauk yang Secara Misterius Selalu Ada di Berkat Tahlilan dan tulisan Bayu Kharisma Putra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 6 Januari 2022 oleh

Tags: budaya jawaHubungan Sosialtradisi
Bayu Kharisma Putra

Bayu Kharisma Putra

Hanya salah satu dari jutaan manusia yang kebetulan ditakdirkan lahir dan tumbuh di bentangan khatulistiwa ini. Masih setia memegang identitas sebagai Warga Negara Indonesia, menjalani hari-hari dengan segala dinamika.

ArtikelTerkait

Gimik Bentak-Bentakan Saat Ospek, Ketololan yang Diulang-ulang, Lebih Baik Dibuang ke Tong Sampah!

Gimik Bentak-Bentakan Saat Ospek, Ketololan yang Diulang-ulang, Lebih Baik Dibuang ke Tong Sampah!

11 April 2025
Arema Adalah Gerbang Perkenalan Saya dengan Bahasa Walikan dan Pisuhan Jawa Timur terminal mojok.co

Lima Filosofi Sederhana Orang Jawa yang Bisa Mendamaikan Hati

28 Agustus 2019
batak toba manulangi natua-tua mojok

Manulangi Natua-tua, Tradisi Balas Budi Orang Tua Suku Batak Toba

19 September 2020
bahasa di wakatobi pelestarian lingkungan sepak bola bajo club wakatobi poasa-asa pohamba-hamba mojok

Poasa-asa Pohamba-hamba, Semangat Gotong Royong ala Masyarakat Wakatobi

9 November 2020
Belakangan Ini Semua Media Sosial Terasa Toksik Kecuali Quora terminal mojok.co

Tidak Ada Paksaan Untuk Saling Follow di Media Sosial

21 Juni 2019
Sebagian Ibu-ibu Adalah Pencinta Kresek Hitam Garis Keras terminal mojok.co

Sebagian Ibu-ibu Adalah Pencinta Kresek Hitam Garis Keras

12 November 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Takjil Red Flag yang Bisa Membahayakan Kesehatan Pembeli terminal

5 Takjil Red Flag yang Bisa Membahayakan Kesehatan Pembeli

24 Februari 2026
Bakpia Kukus Tidak Layak Pakai Nama Bakpia Asli Jogja (Unsplash)

Bakpia Kukus Tidak Layak Menyandang Nama “Bakpia” karena Ia Bolu Kukus yang Mengaku sebagai Kuliner Asli Jogja

21 Februari 2026
Bayar STNK Sudah Bikin Pusing, Sekarang Mau Ditambah Parkir Setahun, Selalu Ada Cara Baru Nambah Beban Rakyat

Bayar STNK Sudah Bikin Pusing, Sekarang Mau Ditambah Parkir Setahun, Selalu Ada Cara Baru Nambah Beban Rakyat

22 Februari 2026
Sidoarjo Bukan Sekadar "Kota Lumpur", Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

Lupakan Teori Kuliner PNS, di Sidoarjo Kasta Tertinggi Warung Makanan Enak Ditentukan oleh Orang-orang Waktu Bubaran Pabrik

27 Februari 2026
Bukit Menoreh, Tempat Wisata Kulon Progo yang Bikin Kapok untuk Kembali Lagi Mojok.co

Bukit Menoreh, Tempat Wisata Kulon Progo yang Bikin Kapok untuk Kembali Lagi

22 Februari 2026
Flyover Kalibanteng: Labirin Aspal yang Lebih Ruwet daripada Alasan Putus Mantan Saya

Flyover Kalibanteng: Labirin Aspal yang Lebih Ruwet daripada Alasan Putus Mantan Saya

25 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri
  • Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO
  • Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah
  • Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya
  • Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali
  • Anak Muda Jadi Ketua RT: Antara Kerja Kuli, Keikhlasan, dan Dewasa Sebelum Waktunya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.