Gejolak Batin Saat Menemani Istri ke Toko Pakaian Dalam Wanita

Gejolak Batin Saat Menemani Istri ke Toko Pakaian Dalam Wanita underwear bikini belanja pakaian dalam terminal mojok.co

Gejolak Batin Saat Menemani Istri ke Toko Pakaian Dalam Wanita underwear bikini belanja pakaian dalam terminal mojok.co

Sebagai seorang suami, sudah sewajarnya jika saya harus selalu siap siaga menemani istri berbelanja. Mulai dari membeli kebutuhan dapur, sampai yang berhubungan dengan pakaian. Termasuk untuk belanja di toko pakaian dalam. Istri saya hampir selalu meminta saran soal mana warna dan jenis yang kiranya cocok untuk ia pakai.

Sejujurnya, saya tidak masalah sama sekali saat istri saya meminta masuk ke salah satu toko pakaian dalam untuk menentukan atau sekadar memberi saran, mana yang cocok untuknya. Hanya saja, saat melakukan hal tersebut, saya sering kali mendapat tatapan sinis dari para pembeli wanita lain.

Haduh. Mbak, Bu. Suwer. Saya masuk ke toko pakaian dalam khusus wanita pun karena berniat menemani istri. Bukan untuk melakukan hal aneh atau di luar batas kewajaran. Saya mengalami hal ini bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Bahkan, tiap kali saat menemani istri saya membeli atau memilih pakaian dalam.

Saya pun sudah mengutarakan hal tersebut kepada istri. Saya jadi nggak nyaman, nggak enak hati, sekaligus merasa diawasi oleh beberapa pelanggan wanita lain.

Dalam momen tersebut, yang ada dalam pikiran mereka mungkin kegiatan berbelanja pakaian dalam jadi nggak nyaman karena kehadiran saya di tempat pakaian dalam khusus wanita. Tiap kali saya merasakan hal tersebut, istri saya selalu meyakinkan dan mencoba menenangkan dengan berkata demikian.

“Udah, nggak apa-apa. Lagian, kamu kan suami aku dan nggak ngapa-ngapain. Kita pasangan sah, kok. Terus, apa yang kamu khawatirin? Memangnya salah kalau seorang suami ikut andil dalam memilih pakaian dalam buat istrinya?”

Sebetulnya, apa yang dikatakan istri saya ada benarnya juga, sih. Tapi, entah kenapa jadi ada perdebatan batin aja gitu. Lantas, saya malah bertanya kepada diri sendiri, “Ada peraturannya nggak, sih, laki-laki nggak boleh masuk ke toko pakaian dalam wanita?” Jika memang dilarang dan tidak diperbolehkan, seharusnya dari awal tidak diizinkan masuk oleh petugas atau pegawainya, kan. Terus, kenapa pengunjung atau pelanggan wanita lain menatap sinis, ya? Hiks.

Jika memang kehadiran laki-laki di toko pakaian dalam wanita berpotensi mengganggu kenyamanan pelanggan lain, mungkin bisa juga dipertimbangkan untuk menuliskan peraturan bahwa pengunjung laki-laki tidak diperkenankan untuk masuk. Ini hanya saran, lho. Bukan paksaan. Untuk meminimalisir tatapan sinis dan pemikiran negatif saja. Selebihnya, tentu saja menjadi kebijakan pihak terkait.

Lagi pula, saat mata saya melakukan eye-tracking, memperhatikan sana-sini, sekaligus melihat ragam model pakaian dalam sekaligus variasi warnanya, murni hanya sekadar membantu istri dalam memilih mana yang cocok. Nggak ada maksud lain. Suwer. Posisi saya juga selalu di sebelah istri. Nggak pernah jauh-jauh kalau lagi di toko pakaian dalam wanita.

Jujur saja, saya sendiri masih merasa canggung. Bahkan, saat masuk dan ikut memilih mana yang sekiranya cocok untuk istri, beberapa kali dan secara diam-diam saya keluar dari toko tersebut karena merasa nggak enak aja gitu. Di satu sisi ingin membantu istri agar bisa menentukan pilihan terbaik. Di sisi lain, ada gejolak batin yang sulit terelakkan saat para wanita menatap sinis layaknya saya seorang kriminal yang berniat macam-macam.

Kalau sudah kecarian, kebingungan, sampai akhirnya menemukan saya sedang di luar toko, istri saya pasti langsung akan menghampiri dan berkata, “Kamu ngapain di luar? Malu, ya? Atau takut dikira macem-macem? Tenang aja, kamu kan lagi sama aku. Nggak usah khawatir atau dikira akan ngelakuin yang aneh-aneh.”

Iya. Saya sampai harus diingatkan dan ditenangkan beberapa kali karena gejolak batin tersebut. Seakan ada beban moral. Jika memang tidak dan bukan suatu masalah, tentu saja dengan senang hati saya akan membantu istri dalam menemukan underwear terbaik. Namun, jika dirasa kurang baik dan memang ada norma sosial secara tidak tertulis yang mengatur bahwa seorang laki-laki sebaiknya tidak masuk ke toko pakaian dalam wanita, saya nggak akan memaksakan diri juga, sih. Biar tahu sama tahu dan nyaman satu sama lain.

Pada akhirnya, saya betul-betul nggak menyangka. Perkara membantu istri saat berbelanja kebutuhan sandang bisa serumit ini. Bahkan, sampai menghasilkan gejolak batin dan beban moral tersendiri. Hadeeeh.

Photo by Artem Beliaikin via Pexels.com

BACA JUGA Alasan Orang Tua Melarang Keinginan Anaknya untuk Ngekos dan artikel Seto Wicaksono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Exit mobile version