Dahulu saya pikir uang bulanan mahasiswa akan lebih banyak habis untuk buku, fotokopi, dan kebutuhan kuliah lain. Ternyata saya keliru. Di samping kebutuhan kampus, duit saya banyak tersedot untuk perawatan motor di bengkel. Ini semua karena saya kuliah di UNNES Gunungpati dan sehari-hari melewati turunan Trangkil yang curam itu.
Perasaan ini mungkin relate dengan banyak mahasiswa UNNES lain. Sejak hari pertama kuliah di sana, saya sadar pengeluaran untuk perawatan motor akan besar. Kampas rem bakal sering aus mengingat turunan di sana nggak masuk akal.
Bagi yang belum tahu, turunan Trangkil adalah jalan yang panjang dan curam. Saking berbahayanya, tangan kanan saya otomatis siaga di rem. Sementara tangan kiri sibuk memastikan bahwa kopling motor masih aman. Setiap turun, ada suara decit tipis yang bikin jantung ikut bergetar. Perasaan waswas dan deg-degan lewat turunan ini terasa makin ekstrem ketika sudah mepet jam masuk kelas.
Kampas rem menguras uang bulanan pas kuliah di UNNES Gunungpati
Dibanding suku cadang otomotif lain, ganti kampas rem mungkin tidak seberapa. Namun, bagi mahasiswa yang sehari-hari bergantung pada duit bulanan, ganti kampas rem bisa mengobrak-abrik keuangan. Dan, sayangnya, itulah yang saya alami selama kuliah di UNNES Gunungpati.
Persoalan rem kampas biasanya dimulai dari rasa menekan atau menarik rem yang semakin dalam. Setelahnya, suara gesekan rem yang bikin waswas. Setelah itu, bengkel akan berkata dengan santai kalau kampas rem sudah tipis. Sementara dompet mulai bergetar mendengar itu.
Sebenarnya, kampas rem motor bisa awet kalau sehari-hari tidak bekerja keras. Dengan kata lain, saya tidak boleh banyak ngerem ketika melewati turunan Trangkil yang mana itu sama saja membahayakan diri sendiri. Bisa sih lewat jalan lain, tapi akan memakan waktu dan bensin.
Di sinilah saya belajar bahwa hidup mahasiswa memang soal memilih jenis tekor.
Turunan Trangkil mengajarkan manajemen keuangan
Pengalaman berkali-kali ganti kampas rem mengarjakan saya untuk mulai menyisihkan duit untuk spare part motor. Poin yang tidak pernah saya pikirkan atau bayangkan sebelumnya. Dengan membuat budget khusus saya berharap bisa menabung untuk hal-hal lain. Sebab, selama ini, duit saya selalu bocor untuk keperluan motor.
Ini adalah pilihan terbaik daripada memilih rute lain atau tidak lewat turunan Trangkil untuk ngampus. Saya bisa lebih hemat waktu dan energi, secara psikologis bisa lebih tenang ketika sampai di kelas. Bukankah ketenangan macam ini begitu penting ketika kuliah?
Setelah menjalani beberapa waktu, ternyata begini ya rasanya jadi mahasiswa UNNES Gunungpati. Selain kuliah dan keperluannya yang memusingkan, ternyata saya juga harus berpikir ulang untuk banyak hal lain, termasuk bengkel motor. Kalian mahasiswa yang sehari-hari lewat jalur ini, apakah merasakan hal yang sama?
Penulis: Ramanda Bima Prayuda
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
