Flamboyan

flamboyan

flamboyan

Tentang flamboyan maka aku teringat dengan ucapan seseorang. “The ultimate of life is death” ujar salah seorang dosen yang baru beberapa hari lalu kutemui lalu memintanya secara sopan agar mau memberikan sedikit wejangannya di komisariat kami. Wejangannya memang tidak berapi-api sebagaimana biasanya senior-senior yang terlarut dalam romantisme masa lalunya—walaupun sempat beberapa kali melontarkan pernyataan provokatif yang berapi-api. Walau demikian, kalimat itu masih saja terngiang-ngiang hingga akhir bulan ini—saat orang-orang sudah mulai bersibuk ria menepis kerinduan mereka di kampung halaman masing-masing.

Beliau berujar bahwa diktum yang lahir dari mulut seorang Derrida tersebut merupakan proses metamorfosa panjang usahanya dalam mengais sisa-sisa kefanaan dalam kehidupan ini. Hingga selanjutnya diktum tersebut direproduksi ulang oleh Yuval Noah dalam bukunya Homo Deus sebagai salah satu sitiran bahwa terdapat satu hal yang nyata dalam kefanaan ini—yaitu kematian.

Ah, berbicara tentang kematian tampaknya menghantarkan kita pada krisis-krisis eksistensialime yang seringkali kita dengar pelbagai kajiannya oleh banyak filsuf atau bahkan sekedar pertanyaan ‘ruh’ yang dilontarkan dalam Alquran dan dibahas secara sistematis oleh Ibnu Qayyim Aljauzy. Dan pada akhirnya kita secara sadar akan menjawab dan mengarungi samudera pertanyaan itu dengan ketidaktahuan.

Pada mulanya hujan itu turun rintik-rintik lalu ia berembus tertiup angin, lalu hujan itu turun sangat derasnya. Ya, air mata yang hendak kubendung itu kini sudah tidak tertahan lagi maka biarkan aku sejenak menjadi pribadi yang melankolis bukan dramatis.

Aku tidak paham betul mengapa puisi Flamboyan yang dituliskan Pak SBY menjadi rima kesedihan dan ketegaran yang tidak berkesudahan. Aroma bunga Flamboyan seakan memancar pekat dari puisi tersebut. Aku mengira barangkali aroma itulah yang sempat membuat aku harus diam dan terduduk lama  memikirkan seluruh kenangan yang beliau tumpahkan kedalam puisi-puisi tersebut.

Tiba-tiba saja, hampir di seluruh status baik WhatsApp maupun Instagram beramai-ramai menuliskan kesedihan yang bermacam—jelasnya itu adalah kesedihan yang bisa kita kumpul dan sampaikan. Ada satu hal yang pada akhirnya kita perlu mengerti dan kita renungkan kembali bahwa di balik sosok laki-laki yang kuat dan tegar, terdapat sesosok wanita kuat yang menjadi sumber semangat hidupnya. Jikalau dulu kesan makna yang ditimbulkan oleh perlambang flamboyan memiliki konotasi negatif yang menarik—maka flamboyan hari ini adalah kekuatan, ketegaran, kedukaan, kesedihan yang beraduk campur menjadi satu.

Lalu, di beberapa berita daring, saya mencoba membaca pelbagai obituari yang dijejakkan di sana. Ada satu kisah yang semakin membuat mata saya semakin berkaca-kaca—tepatnya adalah surat yang dituliskan Ibu Ani kepada Pak SBY ketika beliau masih dirawat di Rumah Sakit. Kurang lebih seperti ini suratnya:

“Pepo, I always happy beside you. Thank you, Pepo. Coba buat lagunya, Po.

Ketika pertama ketahuan penyakit darah yang saya derita, saya bilang ‘Pepo, maafkan saya merepotkan Pepo.’ Spontan Pepo menjawab, ‘Maafkan Pepo yang tidak bisa menjaga Memo.

Suami-istri memang harus saling menjaga. I love you, Pepo.”

Untaian kalimat sederhana tersebut semakin membuat saya tersadar bahwa ‘cinta’ yang kita perjuangkan dalam ketentuan-ketentuan remaja tidak ubahnya hanyalah sebuah obsesi semata. Obsesi yang jika tidak dapat dikontrol keberadaannya hanya menimbulkan sikap-sikap depresan yang timbul sebagai akibat panjang obsesi impulsif tersebut.

Dari surat tersebut pula—kita ditunjukkan bahwa tawaran berpoligami menjadi tidak berkharisma dan romantis lagi. Sebab ada kesetiaan dan pengorbanan yang menjadi idealisme besar sebagai pondasi kita dalam memberikan kebermanfaatan serta melakukan perjuangan.

Tentu, saya tidak lagi dapat membayangkan bagaimana kesedihan dalam diri Pak SBY sebagai seorang negarawan hebat yang kini tengah dirundung oleh kesedihan sebab ditinggal oleh orang yang dicintainya. Dan sudah kewajiban kita sebagai warga negara yang baik untuk memberikan belasungkawa yang terdalam kepada Pak SBY serta mendoakan yang terbaik bagi almarhumah Ibu Ani—Al-Fatihah…

Terakhir, aku memaksa koridor-koridor keharibaan tentang kematian yang pernah ditutup agar dibuka kembali, sebab ‘yang nyata’ dari yang fana hidup sangat dekat dengan kita. Maka tidak salah jika Ibu Dosen yang memberikan sedikit wejangannya kepada kami sore itu, saat menjelang berbuka puasa, menyebutkan bahwa “the ultimate of life is death”. Sebab masih banyak ketidakpastian yang perlu kita hadapi dan kita ketengahkan.

#CriticalDailyReportase

Kuningan, 2 Juni 2019

Exit mobile version