Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Film

Film Pengkhianatan G30S/PKI Memang Layak Diputar dan Ditonton Saban Tahun

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
30 September 2021
A A
Pengkhianatan G30S/PKI

Pengkhianatan G30S/PKI

Share on FacebookShare on Twitter

Dulu ibu saya pernah bilang, “Segala sebab, selalu ada akibat, lantas ada gunanya.” Memang, ketika itu blio sedang menjelaskan konsep tanggung jawab. Seiring berjalannya usia, problem dan pertanyaan saya perihal sebab-akibat-kegunaan pun bertambah. Selain mobil SMK, apakah pembuatan film Pengkhianatan G30S/PKI ada gunanya?

Saya nggak mungkin bertanya pertanyaan-pertanyaan itu kepada ibu saya. Lantaran alasan pertama, blio menangis ketika membaca prank Agus Mulyadi kepada seluruh simpatisan Jokowi ketika blio ultah. Dan yang kedua, ibu saya salah satu penikmat film yang saya sebut pertama tadi. “Karena filmnya lama, enak buat tidur,” kata blio di sela-sela saya sambil ngampet ngguya-ngguyu.

“Durasi film India aja kalah lama,” begitu kata blio. Duh, untung ibu saya kini hidup di zaman rezim Pak Jokowi yang selalu menerima perbedaan pendapat, sekaligus menampung dengan legowo segala protes dari rakyat. Sebab itu saya senang ketika ibu saya menasbihkan diri sebagai Jokower Garis Keras.

Blio tertidur ketika nonton itu bukan karena filmnya membosankan lho ya. Sama sekali nggak. Ibu saya ini ketika SMA dulu, blio sekolah nyambi jualan es apolo dan kerupuk pasir di sekolahnya. Makanya, ada jeda dari sekolah yang diperuntukan nonton film berdurasi 4,5 jam, ya jelas sebab itu blio nggak menyia-siakan kesempatan itu untuk tidur. Eh, istirahat, maksud saya.

Gini lho, bukan karena pembuatan film yang durasinya ngalahin Endgame (nggak ada after movie-nya pula) itu sia-sia lho ya. Nggak sama sekali. Gendheng po sinema yang diproduksi Perum Perusahaan Film Negara (PPFN) pada 1984 ini flop. Biarkan Arsenal dengan belanja besarnya musim ini saja yang flop, film ini nggak mungkin.

Dikutip dari Tirto, dalam Majalah Tempo (1988) melaporkan, film ini menghabiskan biaya Rp800 juta dan menjadi film termahal di Indonesia pada dekade 1980-an. Persetan dengan yang menyebut bahwa film Pengkhianatan G30S/PKI adalah propaganda orba, yang jelas film ini amat layak untuk ditampilkan ke layar kaca saban musim karena pertama, lebih dramatik ketimbang film aksi lainnya.

Coba lihat saja film yang lahir dari Marvel Cinematic Universe atau DC Extended Universe. Ayolah hanya anak-anak usia sebelas tahun ke bawah yang sudi nonton film-film begituan. Contohlah film Pengkhianatan G30S/PKI; dialog natural, cerita bersumber sejarah yang sudah teruji klinis, dan tokoh-tokoh protagonis bagaikan Tuhan yang layak disembah. Sungguh film yang non-fiksi sekali, kan?

Dan belakangan ini, stasiun televisi sudi memutar film wangun ini. Wah, sineas Indonesia sungguh diberkahi dengan privilese macam ini. Para sineas harus mencontoh bagaimana cara membuat film yang mempengaruhi alam bawah sadar penikmatnya dengan dramatik yang termuat di dalamnya.

Baca Juga:

Menonton Film Eksil sebagai Cucu Jenderal Zaman Orde Baru Bikin Hati Saya Remuk Tak Berbentuk

Starbucks, Jangan Manfaatkan Loyalitas Penggemar Kpop, Kami Tidak Selemah Itu!

Masa, sih, kalian nangis hanya karena kisah haru dalam film Laskar Pelangi? Coba deh sekali saja melihat dramatisasi Harto dalam menyelamatkan Indonesia dalam kebejatan komunis. Saya jamin kalian bakal berterima kasih karena—setidaknya—sekali dalam seumur hidup nonton film yang penuh dengan twist nyah-nyoh macam ini.

Kedua, tokoh-tokoh yang kaya akan derita dan berakhir sebagai legenda. Film-film superhero belakangan ini, apanya yang keren? Lihat saja MCU dan DCEU yang nggak becus mengelola tokoh-tokoh utamanya.

Ambil contoh, lihat saja betapa klemar-klemer-nya Iron Man. Lantas betapa pesakitannya Superman yang kadang kala masih bingung dia ini superhero atau alien yang mak mbedunduk kerja di Metropolis.

Mbok ya o contoh tokoh Harto dalam film ini. Dalam penggambaran di film ini, Harto menjelma bak lelananging jagad. Sudah otaknya yang cemerlang, kiat-kiat yang brilian, pun langkah-langkah yang ngosak-ngasik dalam panggung politik patut dijadikan percontohan film-film lain semisal mau mengambil penokohan meta dan sulit dikalahkan.

Ha gimana nggak sulit dikalahkan, 32 tahun jhe. Itu pun kudu nunggu Indonesia hancur dulu.

Aksi heroik Harto yang ngosak-ngasik ini patut ditiru jutaan rumah produksi semisal mau garap film bertemakan super-human atau super-hero. Mereka setidaknya harus melihat dengan seksama dan membedah secara total film Pengkhianatan G30S/PKI dengan hati-hati.

Kalau bisa ya dibuat kelas-kelas diskusi atau bedah film gitu lah. Judulnya, “Memetakan Peran Meta Tokoh Suharto dalam Film Pengkhianatan G30S/PKI.” Tenang, saya jamin nggak bakalan digeruduk oleh aparat kok. Yang digeruduk aparat kan film-film sebelah yang judulnya serem-serem.

Ketiga, film Pengkhianatan G30S/PKI ini hiburan sekali. Dulu, ketika saya kecil, nonton Wiro Sableng itu udah asyik sekali walau nggak ngerti jalan ceritanya. Yang penting gayeng, ada silat, juga ada adegan terbang-terbangnya. Nah, begitu halnya dengan film Pengkhianatan G30S/PKI ini.

Memang sih dalam film Pengkhianatan G30S/PKI nggak ada adegan terbang dan silat. Tetapi, ada adegan-adegan yang nggak kalah menarik untuk disaksikan muda-mudi masa kini. Lho, kapan lagi nonton film yang dialognya begitu mendayu selain film Dilan 1990?

“Darah itu merah, Jendral!” Lihat saja, struktur kalimat dan tingkat tekannya sama seperti Iqbaal Ramadhan sedang memerankan tokoh Dilan dan nembung ke Milea, “Iqra, Milea!” sambil memberikan TTS yang sudah terisi. Penuh dengan diksi, semiotik, dan istilah-istilah njlimet lainnya pokoknya terkandung dalam film ini.

Kurang milenial apa? Nggak usah ragu lah menonton dan memutar film ini saban tahun. Toh Orde Baru sudah mati, sama halnya dengan PKI. Walau keturunan Orde Baru masih ada—dan selalu—senantiasa ada, sih, dalam bursa politik dari tahun ke tahun.

Tapi, eksisnya inang-inang Orde Baru yang masih mondar-mandir di bursa politik itu nggak masalah. Yang penting keturunan PKI sudah binasa sampai akar-akarnya. Itukan yang paling penting? Ayolah, orang-orang yang hilang secara misterius dan dibunuh dengan keji, pelanggaran HAM dan segala tetek bengeknya, nggak sepenting dengan traumatik goblok atas kebangkitan PKI yang kumat tiap bulan September.

Mari, jangan takut lagi nonton film ini. Kalau bisa sih jangan hanya bulan September doang, mbok menowo selo ya putar saja non-stop tiap saat. Jangan tanggung-tanggung kalau mau bikin generasi sekarang melek sejarah. Toh, generasi sekarang ini sudah melek atas segala kebenaran yang ditutupi dan segala perjuangan yang belum terpenuhi.

Film Pengkhianatan G30S/PKI ini saya kasih rating 10.5/10. Mengutip salah satu tokoh, yang nggak bisa disebutkan namanya karena nggak tahu sudah meninggal atau belum, sekaligus menutup review film aksi ini, jika kau menghamba kepada ketakutan, kita memperpanjang barisan perbudakan.

Panjang umur bagi mereka yang hilang dan perannya malah digantikan dengan tokoh-tokoh fiksi protagonis cuci tangan dalam film ini.

Sumber gambar: YouTube Hendra Ahya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 30 September 2021 oleh

Tags: komunisorde baruPengkhianatan G30S/PKIpropaganda
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

meme polisi kaesang pangarep power abuse polisi mojok

Meme Polisi Kaesang Pangarep dan Nuansa Abuse of Power ala Orde Baru

4 Juli 2021
Menakar Pentingnya Punya Dana Pensiun walau Masih Muda terminal mojok.co

Krisis Ekonomi Membayangi, Jangan Dengarkan Lagu-lagu Orba ‘Ayo Menabung’!

29 Mei 2020
mural represi residu orde baru mojok

Mural, Represi, dan Residu Orde Baru

16 Agustus 2021
maksud politik jahat ben anderson joss wibisono review resensi gde dwitya arief metera mojok

Meneer Joss Wibisono dan Ben Anderson Melawan Orde Bau

29 April 2020
Rokok Itu Simbol Komunis-Kapitalis-Liberal-Konservatif, Pokoknya Bahaya!

Rokok Itu Simbol Komunis-Kapitalis-Liberal-Konservatif, Pokoknya Bahaya!

5 November 2022
Komunisme Berubah Jadi Kapitalisme kalau Soal Mengiklankan Partai terminal mojok.co

Komunisme Berubah Jadi Kapitalisme kalau Soal Mengiklankan Partai

23 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup Pola Pikir Pecundang (Unsplash)

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

6 April 2026
3 Hal di Karawang yang Membuat Pendatang seperti Saya Betah Mojok.co purwakarta

Seharusnya Karawang Mau Merendahkan Diri dan Belajar pada Purwakarta, yang Lebih Tertata dan Lebih Terarah

11 April 2026
Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi Mojok.co

Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi 

8 April 2026
Dilema Warga Brebes Perbatasan: Ngaku Sunda Muka Tak Mendukung, Ngaku Jawa Susah karena Nggak Bisa Bahasa Jawa

Brebes Punya Tol, tapi Tetap Jadi Kabupaten Termiskin di Jawa Tengah

10 April 2026
TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk Mojok.co

TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk 

6 April 2026
Ciri Khas 3 Sate Ayam Ponorogo Dilihat dari Daerah Produksinya sate ayam madura

Sate Ponorogo, Sate Terbaik yang Pernah Ada. Sate Madura dan Sate Padang Minggir Dulu Sana ke Pojokan

9 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah
  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.