Pengumuman Bayu Skak yang akan memproduksi film berbahasa Jawa Ngapak berjudul Landasan di Banyumas memunculkan dua perasaan sekaligus, yaitu bangga dan curiga. Bangga, karena Banyumas akhirnya mendapat panggung nasional lewat film. Curiga, karena sejarah panjang bahasa Ngapak di ruang publik Indonesia terlalu sering berakhir sebagai bahan lelucon.
Ngapak memang sering hadir di layar, tapi hampir selalu sebagai aksen komedi. Lucu, polos, ndeso. Jarang sekali diposisikan sebagai bahasa yang bisa membawa emosi serius, konflik manusiawi, atau refleksi sosial yang kompleks. Maka wajar jika kabar ini disambut dengan tepuk tangan yang disertai alis terangkat.
Ngapak dalam bayang-bayang stereotip lama
Selama bertahun-tahun, bahasa Ngapak dilekatkan pada satu fungsi utama, yaitu melucu. Wong Banyumas di televisi dan film kerap hadir sebagai karakter pendukung yang tugasnya mencairkan suasana. Ia jarang diberi kedalaman peran, apalagi kekuatan narasi. Masalahnya bukan pada komedi itu sendiri. Orang Banyumas juga tertawa, juga bercanda.
Masalahnya adalah penurunan. Ketika satu identitas budaya kedaerahan terus-menerus dipersempit menjadi satu sifat saja, di situlah martabat mulai tergerus pelan-pelan. Kekhawatiran inilah yang muncul ketika film Landasan diumumkan. Film ini diproduksi lewat SKAK Management dan MD Pictures, didukung pula oleh Direktur Perfilman Kementerian Ekonomi Kreatif serta Dinporabudpar Banyumas. Artinya, film ini bergerak dalam logika industri dan komersial.
Dan justru di titik itu kegelisahan muncul, apa yang akan dijual? Ceritanya, atau stereotipnya?
BACA JUGA: Penyakit Orang Ngapak yang Malu Menuturkan Bahasa Ngapak
Ketika industri bertemu identitas lokal
Industri film tidak bekerja di ruang kosong. Ia membutuhkan pasar, penonton, dan daya tarik instan. Stereotip, sayangnya, sering kali laku karena mudah dikenali. Tinggal memunculkan aksen, gestur tertentu, lalu tawa datang sendiri.
Kekhawatiran sebagian warga Banyumas bukan pada Bayu Skak sebagai individu, ia jelas punya rekam jejak kreatif dan keberanian mengusung bahasa daerah. Kekhawatirannya adalah pada kemungkinan Ngapak kembali dijadikan komoditas kelucuan, bukan sebagai bahasa yang setara dan utuh.
Nada sinis yang muncul bukan bentuk kebencian, melainkan refleksi dari pengalaman panjang, di mana terlalu sering ditertawakan dan terlalu jarang dipahami.
Film sebagai bentuk romantisme Banyumas
Namun film juga bisa bekerja sebaliknya. Dalam beberapa tahun terakhir, komika-komika dari Stand Up Comedy Indonesia justru berhasil membangun romantisme Banyumas dan Purwokerto secara konsisten. Mereka menyebutnya, merayakannya, dan menjadikannya konteks hidup, bukan sekedar bahan punchline.
Pelan-pelan, citra Banyumas ikut naik kelas. Ya, meskipun ironisnya, orang sering lebih mengenal Purwokerto ketimbang Banyumas itu sendiri.
Di titik ini, film punya potensi jauh lebih besar. Jika film Landasan digarap dengan baik dan bertanggung jawab, ia bisa lebih dari fungsi hiburan. Film bisa menjadi infrastruktur kultural, memperkenalkan Banyumas sebagai ruang hidup yang menarik untuk dikunjungi, dipelajari, bahkan ditinggali. Bukan hanya lucu, tapi manusiawi.
BACA JUGA: Memahami Bahasa Ngapak Utara dan Ngapak Selatan yang Kembar tapi Beda
Ngapak tidak harus selalu ditertawakan
Bahasa Ngapak sebenarnya punya kekuatan yang jarang disadari: lugas dan jujur. Ia tidak bertele-tele. Ia tidak sok halus. Dan justru di situlah potensinya sebagai poin cerita yang kuat. Ngapak tidak harus selalu jadi objek tawa. Ia bisa menjadi bahasa konflik, bahasa cinta, bahasa marah, bahasa kehilangan. Ia bisa membawa cerita tentang kelas, keluarga, dan perubahan sosial di Banyumas.
Tapi semua itu mensyaratkan satu hal penting, kesadaran kultural. Bukan sekadar “pakai Ngapak”, tapi memahami posisi Ngapak dalam sejarah ketimpangan representasi.
Sikap yang paling masuk akal mungkin bukan euforia berlebih, tapi juga bukan sinisme sejak awal. Film ini layak didukung, sekaligus diawasi. Dikritisi bukan karena benci, tapi karena peduli. Kalau film Landasan berhasil keluar dari jebakan stereotip, ia bisa menjadi tonggak penting bagi representasi Banyumas di layar lebar. Tapi kalau gagal, ia hanya akan mengulang siklus lama, di mana “Ngapak” hadir tapi lagi-lagi sebagai bahan tertawaan.
Pada akhirnya, pertanyaan utamanya bukan soal Bayu Skak atau filmnya semata. Pertanyaannya adalah, apakah kita siap melihat Ngapak tumbuh sebagai identitas bermartabat di ruang publik nasional?
Mari kita beri ruang bagi kemungkinan baik. Tapi mari juga tetap kritis. Karena representasi bukan soal tampil atau tidak tampil, melainkan bagaimana ditampilkan. Agar Banyumas atau “Ngapak” tidak hanya hadir di layar, tetapi juga tumbuh dalam martabat.
Penulis: Akhmad Alhamdika Nafisarozaq
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Istilah “Adoh Ratu Perek Watu”, Penyebab Orang Malu Menuturkan Bahasa Ngapak
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
