Tentang Mahfud Ikhwan, prasangka kita kepada film India, dan kenikmatan menonton sesuatu yang katanya norak.
Ada jenis kecintaan yang membuat seseorang rela menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membicarakan sesuatu yang oleh orang lain cukup menanggapinya dengan, “Halah, film India.”
Dua kata. Selesai perkara. Tidak perlu menonton, tidak perlu membaca ulasan, apalagi memikirkan mengapa sebuah adegan dibuat demikian.
Cukup sebut “film India”. Bayangkan, seseorang mendadak menyanyi ketika sedang menghadapi masalah, lalu tertawalah. Kita sudah merasa mengenal satu industri film, barangkali juga merasa sedikit lebih cerdas daripada orang-orang yang menontonnya.
Padahal, kalau kita pikir lagi, kebiasaan menertawakan sesuatu tanpa merasa perlu mengenalnya lebih jauh ini bukan monopoli penonton film India. Kita punya banyak bakat untuk urusan serupa.
Film horor, kita anggap murahan, dangdut itu kampungan, sinetron cuma tontonan ibu-ibu, sementara film yang tokohnya duduk diam selama tiga jam sambil memandangi jendela bisa saja mendapat pujian karena katanya berani mengeksplorasi kehampaan eksistensial.
Kita memang bangsa yang kreatif. Bahkan, untuk urusan merasa lebih berbudaya daripada orang lain, kita punya banyak genre.
Membawa film India ke tengah kita
Nah, di tengah perkara selera yang kadang-kadang lebih rumit daripada urusan negara ini, Mahfud Ikhwan hadir membawa Aku dan Film India Melawan Dunia.
Buku ini bukan sekadar pengakuan bahwa Mahfud menyukai film India. Kalau hanya itu, kita tidak perlu membaca 222 halaman. Cukup unggah status, sertakan poster film Shah Rukh Khan, lalu tunggu orang-orang bertanya apakah penulisnya baik-baik saja.
Mahfud melakukan sesuatu yang lebih menarik. Dia mengajak kita masuk ke dalam sejarah kecintaannya pada sinema India, membicarakan film-film yang membekas, mengulas aktor dan karya, sekaligus berhadapan dengan perubahan industri dan situasi politik yang membuat kecintaan itu tidak selalu nyaman. Dengan kata lain, ini bukan cuma urusan film mana yang bagus dan mana yang sebaiknya kamu lewatkan. Ini juga soal apa yang terjadi ketika sesuatu yang kita cintai mulai membuat kita kecewa.
Dan bukankah itu pengalaman yang cukup akrab dalam hidup? Kita bisa kecewa kepada teman, idola, partai politik, bahkan restoran langganan yang mendadak mengurangi porsi ayam tetapi mempertahankan harga.
Bedanya, kalau restoran mengurangi ayam, kita bisa pindah tempat makan. Kalau yang mengecewakan adalah industri kebudayaan yang telah menemani kita bertahun-tahun, urusannya bisa lebih pelik.
Film India dan dosa menjadi terlalu dramatis
Mari kita akui, film India punya reputasi yang cukup khas di Indonesia. Dalam imajinasi sebagian penonton, film India adalah tempat orang-orang berlari menembus hujan, menari di tengah persoalan hidup, menyanyi ketika seharusnya menyelesaikan konflik, lalu pulang dengan durasi film yang membuat kita bertanya apakah sutradaranya dibayar per jam.
Tentu saja, gambaran ini tidak mewakili keragaman sinema India. Tetapi, stereotipe memang tidak pernah meminta izin kepada kenyataan sebelum beredar. Ia cukup lucu, gampang kita ingat, dan bisa kamu ulang saat tongkrongan sedang kehabisan bahan obrolan.
Masalahnya, kita kadang-kadang tidak berhenti pada lelucon. Kita mengubahnya menjadi penilaian.
Banyak dari kita menganggap film India itu berlebihan, lalu seluruh sinema India ikut dicap berlebihan. Dari sana, jaraknya pendek sekali menuju kesimpulan bahwa orang yang menyukainya mungkin punya selera yang patut dipertanyakan.
Lucunya lagi, penonton yang menertawakan film India belum tentu bebas dari kegemaran menikmati drama. Kita juga punya film dan serial yang membuat tokohnya menangis berkali-kali, keluarga yang konfliknya bisa jadi warisan sampai tujuh turunan, serta adegan perpisahan dengan durasi lebih panjang daripada masa jabatan beberapa pejabat. Namun, kalau dramanya berasal dari tempat lain, mendadak ia bisa disebut sinema yang serius.
Barangkali, masalahnya bukan semata-mata seberapa dramatis sebuah cerita. Ini soal siapa yang diberi hak untuk menjadi dramatis tanpa ditertawakan.
Jangan melahirkan stigma sebelum menonton sampai tuntas
Tentu, ini bukan berarti semua film India harus kita bela mati-matian. Kalau ceritanya buruk, ya, harus kita bilang buruk. Kalau aktingnya tidak meyakinkan, kita tidak perlu berpura-pura terharu demi solidaritas kebudayaan.
Membela sesuatu yang diremehkan bukan berarti kehilangan kemampuan menilai. Kita sedang membicarakan film, bukan merekrut anggota sekte.
Yang patut kita pertanyakan adalah kebiasaan mengambil kesimpulan sebelum sungguh-sungguh melihat. Belum menonton, sudah memberi cap film norak. Tidak mengenal keragaman sinemanya, tetapi merasa cukup mengenal India. Kita mengulang lelucon yang sama begitu lama sampai lupa bahwa lelucon bukanlah pengetahuan.
Di sinilah kecintaan Mahfud menjadi menarik. Dengan terus menulis tentang film India, dia seolah-olah mengingatkan bahwa sesuatu yang telah telanjur kita tempatkan di pinggir pembicaraan tetap bisa diperiksa dengan serius. Tidak harus selalu kita puji, tetapi setidaknya kita beri kesempatan untuk menunjukkan dirinya sendiri.
Sebab, jangan-jangan, yang perlu kita pertanyakan bukan hanya film India, melainkan juga betapa mudahnya kita merasa punya selera tinggi.
Ketika Shah Rukh Khan ikut mengecewakan
Ada kesenangan tersendiri ketika seorang penggemar mulai mengkritik idolanya sendiri. Kritik dari orang yang tidak pernah menyukai sang idola mungkin mudah kita tebak arahnya. Kritik dari orang yang sudah mencintainya, justru lebih menarik, sebab kita bisa merasakan ada sesuatu yang dipertaruhkan.
Dalam buku ini, perhatian Mahfud terhadap Shah Rukh Khan bukan cuma soal mengagumi bintang besar Bollywood. Dia juga memilih membicarakan film-film yang dianggap penting dari perjalanan karier sang aktor. Termasuk karya yang mungkin tidak selalu menjadi pilihan paling populer.
Bahkan, judul esainya tentang enam film bagus Shah Rukh Khan sudah mengandung nada jahil. Film-film itu sebaiknya ditonton sebelum film-filmnya menjadi semakin buruk.
Kalimat semacam ini punya daya tarik yang berbeda dari pujian penggemar pada umumnya. Penggemar film India biasanya bersedia menyusun seribu alasan untuk menjelaskan mengapa film terbaru idolanya sebenarnya bagus.
Kalau filmnya gagal, langsung menyalahkan sutradara. Ceritanya berantakan, mungkin penontonnya yang tidak paham. Kalau semuanya sudah tidak bisa dibela, kita bisa mengatakan bahwa yang penting adalah kerja keras dan dedikasi.
Pokoknya, selalu ada jalan menuju pembenaran. Industri hiburan bahkan tidak perlu membayar kita untuk melakukannya.
Ketika kecintaan kepada film India justru menghasilkan kritik
Mengakui bahwa seorang aktor film India pernah menghasilkan karya yang hebat tidak berarti kita harus menganggap semua film berikutnya sebagai mahakarya. Mengingat masa lalu dengan penuh kasih juga tidak mewajibkan kita menutup mata terhadap masa kini.
Dan ini membawa kita kembali ke persoalan yang lebih luas dalam buku Mahfud. Apa yang harus kita lakukan ketika sesuatu yang telah menemani hidup kita berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi kita kenali?
Apakah kita harus berhenti menyukainya? Apakah kita perlu berpura-pura bahwa tidak ada yang berubah? Atau kita bisa mempertahankan kenangan tentang karya-karya yang berarti bagi kita sambil tetap mengkritik perkembangan yang mengecewakan?
Pilihan terakhir tampaknya paling masuk akal, meskipun tentu paling tidak praktis. Kita tidak bisa lagi menjadi penggemar yang hidup dari tepuk tangan saja. Sesekali, kita harus berani mencibir.
Kita bisa tetap mencintai sambil mengkritik. Bisa, kok, menikmati film India sambil mempertanyakan dunia yang melahirkannya. Tidak masalah tertawa pada melodramanya tanpa menganggap seluruh kebudayaan di baliknya sebagai bahan lelucon.
Barangkali itulah salah satu hal yang bisa kita bawa pulang dari buku ini. Jangan buru-buru meremehkan sesuatu hanya karena dunia di sekitar kita sudah sepakat untuk menertawakannya. Tontonlah, bacalah, pikirkanlah, lalu tentukan sendiri apa yang layak kamu cintai dan apa yang patut kamu kritik.
Sebab, pada akhirnya, yang paling menarik dari kecintaan seseorang terhadap film India bukan hanya film-film apa yang dia sukai, melainkan dunia macam apa yang bisa dia lihat melalui film-film tersebut.
Dan mungkin, dengan cara yang sama, kita juga bisa mulai melihat diri kita sendiri.
BACA JUGA 8 Hal Klise yang Sering Muncul di Film Bollywood dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.