Facebook Adalah Seburuk-buruknya Tempat Curhat Soal Kulit dan Minta Rekomendasi Skincare

Facebook Adalah Seburuk-buruknya Tempat Curhat Soal Kulit dan Minta Rekomendasi Skincare

Facebook Adalah Seburuk-buruknya Tempat Curhat Soal Kulit dan Minta Rekomendasi Skincare (Unsplash.com)

Kayaknya kalau mau curhat soal masalah kulit atau minta rekomendasi skincare gitu nggak usah lewat grup Facebook, deh, mending di menfess Twitter aja.

Belakangan ini saya (terpaksa) aktif di Facebook lagi. Media sosial yang satu itu sudah lama sekali saya tinggalkan seiring dengan semakin sedikitnya teman saya yang juga main Facebook. Setelah lama berpindah ke rengkuhan Twitter dan Instagram, saya kembali ke Facebook karena tuntutan pekerjaan.

Salah satu hal yang harus saya lakukan adalah bergabung di grup dan jadi “mata-mata” di sana. Bukan mata-mata beneran, sih. Tapi yang jelas saya harus mengawasi para pengguna Facebook, terutama kaum Hawa, dalam berinteraksi di dalam grup.

Sebagian besar grup tempat saya bergabung adalah grup berbagi informasi dan wadah curhat tentang kecantikan hingga ajang silaturahmi emak-emak se-Indonesia. Isi postingan di dalam grup ya sesuai dengan namanya.

Akan tetapi setelah beberapa lama kembali aktif Facebook dan mengawasi para ciwi-ciwi lintas usia di grup-grup tadi, saya mencapai suatu kesimpulan yang agak menyebalkan. Pokoknya jangan pernah curhat atau minta saran soal masalah kulit di Facebook, terutama sampai minta rekomendasi skincare. Begini alasannya:

#1 Bakal dikasih saran yang aneh

Grup yang saya pilih di Facebook memang cukup random. Tapi sebagian besar di antaranya dimoderatori oleh admin, sehingga postingan yang bisa terpampang di grup sudah disaring. Postingan di grup-grup tersebut didominasi oleh hal yang berkaitan dengan masalah kulit yang dikemas dalam pertanyaan singkat. Sejauh ini saya belum menemukan postingan yang aneh-aneh. Justru bagian komentarnya yang sangat di luar nalar.

Saat itu, ada seorang anggota grup yang bertanya cara menghilangkan tahi lalat. Setahu saya nih, tahi lalat hanya bisa dihilangkan dengan prosedur laser atau metode serupa di klinik. Pun prosedurnya nggak bisa dilakukan sekali saja dan memakan biaya banyak. Namun, bisa-bisanya ada anggota grup lain yang menyarankan untuk menggunakan sabun colek dicampur kapur sirih. Parahnya lagi, sarannya ini didukung oleh anggota yang lain sambil menyertakan testimoni. Haduh, dokter Sp. KK menangis melihat ini.

Kejadian lain yang tak kalah membuat naik pitam terjadi ketika ada pertanyaan soal cara menghilangkan pori-pori. Saya tahu bahwa kita semua insecure dengan pori-pori wajah yang besar. Tapi sayang sekali, Saudara-saudara, pori-pori itu tidak dapat dihilangkan. Pori-pori hanya bisa disamarkan tampilannya. Kalau pori-porinya hilang, keringat mau dikeluarkan lewat mana?

Nah, pertanyaan agak sotoy ini kemudian dijawab oleh komentar yang tak kalah sotoynya. Seorang anggota di grup Facebook mengatakan bahwa cara ampuh menghilangkan pori-pori adalah dengan menggunakan pasta gigi. Ilmu dari mana coba?

#2 Langsung drop jualan

Situasi diskusi soal masalah kulit antara Facebook dengan Twitter sangatlah berbeda. Itulah yang bikin saya sempat terkaget-kaget.

Di Twitter, ada beberapa base menfess yang memfasilitasi kita untuk bertanya secara anonim sesuai topik dari base tersebut. Misalnya base kecantikan tentu saja bahasannya tentang kecantikan. Di base tersebut, kita akan menemukan ribuan menfess yang mana bisa kita balas sesuai pengalaman kita.

Selain itu ketika seseorang bertanya rekomendasi suatu produk di Twitter, maka followers base bakal memberikan rekomendasi plus review-nya secara jujur. Memang, sih, terkadang ada sebagian yang menyelipkan iklan terselubung. Tapi jauh lebih banyak followers yang membagikan pengalaman mereka dalam menggunakan suatu produk dengan jujur.

Kondisi ini beda banget di Facebook. Para penjual skincare abal-abal akan mengerubungi postingan yang dikirim oleh anggota grup yang bertanya rekomendasi skincare atau review suatu produk. Mereka menganggap postingan tersebut sebagai lapak berjualan sekaligus menjelek-jelekkan produk lain.

Sebenarnya nggak masalah sih kalau mau jualan. Toh nggak dilarang juga sama admin grupnya. Saya cuma kasihan sama orang yang bertanya. Tiba-tiba saja dia disodori oleh berbagai jualan yang sudah bisa kita tebak bagaimana kualitasnya. Iyaaa, nggak ada nomor izin edar BPOM, belum mengantongi sertifikat halal, dan nggak diketahui komposisinya. Biasanya skincare semacam ini menggunakan jar berwarna putih serta berisi krim berwarna putih dan kuning.

#3 Tiba-tiba drop testimoni tanpa konteks

Nomor tiga ini masih agak berkaitan dengan permasalahan nomor dua, tapi jauh lebih parah. Saya pernah menjumpai seorang seller yang tiba-tiba meninggalkan sebuah tangkapan layar dari WhatsApp di sebuah postingan. Anehnya, seller yang bersangkutan cuma drop screenshot tersebut tanpa ngasih narasi atau watermark sekalipun.

Buat orang awam mungkin belum tahu bahwa tangkapan layar tersebut adalah testimoni sebuah produk. Mereka bakal langsung melewati komentar tersebut. Kalau memang pengin dapat customer, seharusnya seller tadi lebih berusaha dengan menambahkan narasi minimal berupa nama produk, klaim, dan harganya.

Obrolan mengenai kecantikan di grup Facebook sangat meresahkan buat saya. Mungkin bagi orang yang sudah paham dan khatam skincare, hal ini nggak berpengaruh besar. Tapi untuk orang yang nggak tahu soal skincare, situasi semacam ini bisa membuat mereka termakan bujuk rayu seller skincare abal-abal. Kan bahaya kalau mereka membeli krim abal-abal yang namanya lucu, seperti krim pemutih dan pelicin. Harganya sih nggak seberapa, tapi akibatnya sampai tua.

Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Bagi Saya, Facebook Adalah Media Sosial Paling Sentimental.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Exit mobile version