Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Nabati

Etika Mencari Rumput bagi Warga Nganjuk Tepi Sungai Brantas

Ahmad Natsir oleh Ahmad Natsir
13 Oktober 2021
A A
Etika Mencari Rumput Bagi Warga Nganjuk Tepi Sungai Brantas terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Dulu SD saya berada di Desa Trayang, sebuah desa yang mepet dengan tepian tanggul Sungai Brantas atau yang biasa disebut dengan tangkis, di ujung timur Kabupaten Nganjuk. Tanggul tersebut penuh dengan rumput hijau yang mempunyai tinggi sama rata. Belakangan, saya menyadari tinggi sama rata rumput itu karena para perumput yang sering mencari rumput di sana.

Semenjak sekolah itulah saya sering bermain di sana dan berangan-angan, seandainya dibangun sebuah jembatan, pasti kampung saya jadi ramai. Di tanggul itu, saya sering melihat para pencari rumput yang duduk berjongkok di tempat dengan sudut kemiringan 45 derajat. Mereka begitu mudahnya mencari rumput. Dengan sekali sabetan sabit, rumput langsung tumbang pindah tempat ke dalam karung plastik yang sudah tersedia di samping. Kegiatan mereka begitu mengasyikkan, entah karena sudah begitu profesional mengayunkan sabit atau karena alat yang mereka gunakan begitu tajam.

Ketika saya sekolah di Madrasah Aliyah, Ayah membeli dua ekor kambing untuk dipelihara. Agenda aktivitas keseharian kami bertambah: merumput atau ngarit. Sebulan kemudian kambing yang kami pelihara mengubah mindset saya. Mata saya jadi “hijau” jika melihat daun-daun yang rimbun. Aneh tapi nyata, setiap kali melihat rumput yang tinggi atau pepohonan yang lebat, air liur ini tak dapat tertahan, mengalir begitu saja. Padahal kan yang makan kambing saya. Hahaha.

Seiring dengan berjalannya kambing, eh waktu, saya jadi tahu ada beberapa etika dasar dalam dunia pe-ngarit-an ini. Etika dasarnya kita dilarang merumput di tanah tetangga tanpa seizinnya. Ini sangat jelas sekali dan diketahui oleh perumput pemula sekalipun. Selanjutnya, saya jadi tahu cara bagaimana agar rumput tersebut tetap bisa habis dimakan kambing.

Pertama, kita tidak boleh merumput terlalu pagi atau suasana masih mengembun. Air embun yang menempel di rumput yang kita babat tidak akan dimakan oleh kambing. Kambing tidak suka itu. Maka jangan heran kalau tidak ada perumput yang berangkat terlalu pagi. Kebanyakan akan mencari rumput setelah pekerjaan utama mereka selesai di sore hari, atau menanti kabut embun menghilang terlebih dahulu. Ini sekaligus menjadi larangan rumput hasil kerja keras terkena air huja. Bila terkena air hujan, sia-sia sudah.

Kedua, jangan pernah menginjak rumput yang telah dikumpulkan. Biasanya, para perumput yang lupa membawa karung akan mengumpulkan rumput hasil usahanya di tempat tertentu. Bila ada seseorang yang menginjak rumput tersebut, pasti dia akan dimarahi habis-habisan. Entah bagaimana seekor kambing tahu kalau rumput atau dedaunan itu pernah diinjak kaki atau digilas oleh roda. Kambing ternyata juga perlu dimuliakan.

Nah, ketika melihat kembali tanggul Sungai Brantas, ada kesan baru yang muncul selain yang saya kemukakan di atas. Beberapa waktu kemudian saya tahu ada etika tersendiri yang harus dipegang oleh para pencari rumput di tepian tanggul itu. Etika itu layaknya dogma yang harus dipegang dan tidak boleh digugat sama sekali.

Pertama, dilarang melintasi “bendera”. Bila tanggul dilihat dari dekat, akan tampak bendera-bendera mini berupa ranting pendek yang ujungnya ditaruh plastik robekan plastik kresek, atau robekan plastik selang pengairan, ada pula yang ujungnya botol plastik bekas air mineral.

Baca Juga:

Jogging Track Sungai Brantas Mojokerto: Fasilitas Olahraga yang Kini Berubah Jadi Sarang Mesum para Pemuda

Pantai Brantas, Tempat Nongkrong Alternatif Warga Kediri yang Nggak Punya Pantai

Saran saya, jangan menganggap remeh benda keramat ini. Bendera itu adalah tanda bahwa tanah berumput tersebut sudah “dimiliki” oleh orang-orang tertentu. Hanya “pemiliknya” lah yang berhak untuk mencari rumput di kawasan tersebut. Yah, meskipun ini seperti wanprestasi, apa sih yang bisa dilakukan perumput lain selain menghormati?

Kedua, dilarang nyusruk. Saya bingung mencari padanan dari kata ini, tapi ini semacam merumput dengan mendorong ujung sabit yang tajam. Hasilnya rumput akan terpotong sangat pendek dan ini sungguh membahayakan bagi kelangsungan tanggul. Kalau misalnya rumput habis, tanggul akan mudah longsor dan ini bisa membahayakan penduduk sekitar. Seperti kata netizen, ilang weduse kelangan sapine (Maksud hati mengurus kambing yang hilang namun malah kehilangan sapi). Apes.

Melihat “dogma” itu saya putar balik dari tepian tanggul Sungai Brantas. Bagaimana lagi, saya lupa bawa ranting dan kresek bekas.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Oktober 2021 oleh

Tags: rumputsungai brantastanggul
Ahmad Natsir

Ahmad Natsir

Bapak rumah tangga dari Tulungagung. Pemerhati isu-isu sosial, agama. Gemar membaca buku dan sesekali menulis.

ArtikelTerkait

Tanggul di Pesisir Pekalongan Bukti Mitigasi Bencana yang Ngaco Terminal Mojok

Tanggul di Pesisir Pekalongan: Bukti Mitigasi Bencana yang Ngaco

6 November 2022
Jogging Track Sungai Brantas Mojokerto Sarang Mesum Pemuda (Unsplash)

Jogging Track Sungai Brantas Mojokerto: Fasilitas Olahraga yang Kini Berubah Jadi Sarang Mesum para Pemuda

22 Maret 2024
Sungai Brantas di Kediri Sudah Nggak Nyaman Lagi Gara-gara 3 Hal Ini

Nongkrong Sore di Sungai Brantas Kediri Sudah Nggak Nyaman Lagi Gara-gara Ini

26 Juli 2023
Pantai Brantas, Tempat Nongkrong Alternatif Warga Kediri yang Nggak Punya Pantai

Pantai Brantas, Tempat Nongkrong Alternatif Warga Kediri yang Nggak Punya Pantai

14 November 2023
Alun-alun Kidul, Surga Kuliner di Yogyakarta (Pixabay.com)

Alun-Alun Kidul Jogja: Narimo ing Pandum Public Space

1 April 2023
Harta Karun Sungai Brantas MOJOK.CO

Harta Karun Sungai Brantas, Peninggalan Sukarno yang Masih Misterius

1 Agustus 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co

Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini

19 Maret 2026
Lirik Lagu Narsis Sheila on 7 Perisai Terbaik dari Patah Hati (sheilaon7.com)

Mendengarkan Lirik Narsistik Sheila on 7 Adalah Cara Terbaik Menghibur Diri Setelah Berkali-kali Ditolak Cinta

22 Maret 2026
Sengaja Beli Honda Vario 160 untuk Pamer Berakhir Penyesalan karena Jadi Repot Sendiri Mojok.co

Sengaja Beli Honda Vario 160 untuk Pamer Berakhir Penyesalan karena Jadi Repot Sendiri

22 Maret 2026
Terminal Ir Soekarno Klaten Terminal Terbaik di Jawa Tengah

Terminal Ir Soekarno Klaten: Terminal Terbaik di Jawa Tengah yang Menjadi Tuan Rumah Bagi Siapa Saja yang Ingin Pulang ke Rumah

18 Maret 2026
Normalisasi Utang Koperasi demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah Seperti Keluarga Mojok.co

Normalisasi Utang Koperasi Kantor demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah seperti Keluarga

18 Maret 2026
Pertama Kali Mencicipi Swike: Makanan Berbahan Dasar Kodok yang Terlihat Menjijikan, tapi Bikin Ketagihan Mojok.co

Katak dalam Soto, Ternyata Swike: Pengalaman yang Membuat Saya Kini Tak Mudah Percaya dan Meragukan Segalanya

21 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan
  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.