Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Di Sumenep Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Akbar Mawlana oleh Akbar Mawlana
4 Februari 2026
A A
Di Sumenep, Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Di Sumenep, Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Share on FacebookShare on Twitter

Menjamurnya barbershop, tidak terjadi di Sumenep. Padahal, kalau mau melihat jumlah barbershop di luaran sana, jumlahnya nggak ngotak. Di Bandung, pada tahun 2025 tercatat ada 3.037 barbershop. Kalau mau melihat angka barbershop pada tahun 2025 di Jawa Timur, nggak kalah gilanya. Di Surabaya terdapat 278 barbershop, Malang terdapat 245 barbershop, dan Kediri terdapat 175 barbershop. 

Angka-angka itu jelas kalah jauh dengan jumlah barbershop di Sumenep. Sejauh pengamatan saya, di area kota terdapat 4 barbershop. Di luar area kota? Sejauh ini, saya tidak pernah melihatnya. Itu pun dar 4 barbershop, 3 lainnya masih terbilang pendatang baru. Kalau melihat sejarahnya, Barbershop pertama di Sumenep berdiri di tahun 2017. Nama barbershop-nya adalah Bedjo yang didirikan oleh orang Jember. 

Minimnya jumlah barbershop di Sumenep menjadi hal lumrah karena terbilang bukan menjadi bisnis menjanjikan. Bisa dibilang, peluang melesatnya bisnis barbershop di Sumenep kalah jauh dengan bisnis kafe. 

Itu terjadi karena konsumen barbershop di Sumenep masih terbilang minim dan tidak masif. Sebagai perbandingan, ketika saya potong rambut ke barbershop langganan saya di Sumenep, antrenya cuman 1 sampai 3 orang. Beda dengan antrean pangkas rambut langganan saya, yang bisa 3 sampai 6 orang. 

Beda cerita dengan Surabaya

Jumlah antrean barbershop di Sumenep, jelas kalah jauh dengan jumlah antrean barbershop di Surabaya. Ketika saya potong rambut ke barbershop langganan di Surabaya, antreannya bisa 2 sampai 5 orang. Itu pun barbershop langganan saya masih terbilang skala kecil untuk ukuran Surabaya.

Beda cerita kalau di barbershop besar. Saya pernah mengantar teman kuliah ke barbershop besar, antreannya nauzubillah, sampai berjam-jam karena dari saking banyaknya orang yang potong rambut. 

Pertanyaan besarnya, kenapa jumlah konsumen barbershop di Sumenep minim dan tidak masif? Karena segmen barbershop di Sumenep terbatas pada anak muda. Orang tua di Sumenep lebih memilih potong rambut di pangkas rambut. 

Ini saya lihat ketika antre di barbershop, saya tidak pernah melihat orang tua. Dari keluarga saya, seperti ayah, om, dan mbah, potongnya juga di pangkas rambut. Bagi mereka, konsep tempat potong rambut yang tampilannya modern, terlihat aneh. Karena selama ini, mereka lihat tempat potong rambut, tampilannya biasa saja. 

Baca Juga:

Balasan terhadap tulisan tukang cukur Madura: sampai kapan Madura terus dikaitkan dengan hal-hal yang tidak ada hubungannya?

5 Dosa tukang cukur Madura yang bikin pelanggan risih dan kapok balik lagi

Masalah menjadi semakin runyam ketika anak muda di Sumenep jarang ada yang potong rambut di barbershop. Kebanyakan teman-teman saya lebih nyaman potong rambut di pangkas rambut.

BACA JUGA: Lupakan Bangkalan, Lebih Baik ke Sumenep ketika Berwisata ke Madura

Pangkas rambut di Sumenep lebih murah ketimbang barbershop

Kecenderungan anak muda Sumenep potong di pangkas rambut didasari oleh kondisi mendang-mending. Biaya potong rambut di pangkas rambut jauh lebih hemat di kantong dibandingkan barbershop. Biaya di pangkas rambut Sumenep, berkisar Rp10 ribu sampai Rp15 ribu. Angka itu lebih realistis dan bersahabat dengan kondisi uang anak muda di Sumenep. 

Tentunya jauh dengan harga barbershop di Sumenep, yang paling murah dari pengalaman saya, ada di angka Rp20 ribu. Kan jarak harganya tidak jauh beda sama di pangkas rambut? Dalam ekonomi, selisih 5 ribu saja, tetap berharga! 

Mangkanya tidak heran kalau teman akrab SMA saya, memilih “minggat” dari barbershop. Dulu, dia langganan potong rambut di barbershop. Cuman setelah itu dia bilang, pindah ke pangkas rambut dekat taman kota karena harganya lebih hemat di dompet. 

Mirip kasusnya dengan saya. Kalau pengeluaran bulanan lagi tidak banyak, saya memilih potong rambut di barbershop. Cuman jarang terjadi karena lebih sering banyak pengeluaran bulanan. 

BACA JUGA: Masyarakat Hanya Fokus pada Stereotip Madura karena Kasus di Bangkalan, tapi Mereka Lupa Madura Juga Punya Sumenep yang Elegan nan Menawan

Budayanya emang gitu

Selain masalah ekonomi, alasan lain yang membuat anak muda Sumenep jarang potong rambut di barbershop karena faktor budaya. Yang membedakan pangkas rambut dengan barbershop adalah pelayanannya. Kalau pangkas rambut, pelayannnya cuman potong rambut. Sedangkan barbershop punya layanan konsultasi style yang cocok. 

Nah, di kalangan anak muda Sumenep, budaya potong adalah sekadar aktivitas merapikan rambut. Selama rambut tertata rapi, sudah dianggap potong rambut. Nilai budaya itulah yang masih tertanam di kesadaran anak muda Sumenep. Makanya kebutuhan ke barbershop agar mendapatkan style yang cocok, dianggap bukan kebutuhan mendesak. 

Potret minimnya barbershop di Sumenep semakin mempertegas kalau masyarakat Madura punya karakter yang berbeda dengan masyarakat kota besar. Mereka berada dalam kondisi ambivalen. Mereka terbuka dengan perubahan arus baru, tapi tidak membukanya dengan lebar-lebar karena terpaut nilai lama dan terbentur faktor ekonomi.

Penulis: Akbar Mawlana
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Mensyukuri Tinggal di Sumenep, Kabupaten Termiskin Ketiga di Jawa Timur

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 Februari 2026 oleh

Tags: barbershopbarbershop surabayamadurasumeneptukang cukur madura
Akbar Mawlana

Akbar Mawlana

Alumni S1 Sosiologi dan sekarang menjadi pegiat literasi. Suka menulis isu sosial.

ArtikelTerkait

Alasan Tellasan Topak di Madura Lebih Spesial dan Dinanti-nanti daripada Idulfitri  Mojok.co

Alasan Tellasan Topak di Madura Lebih Spesial dan Dinanti-nanti daripada Idulfitri 

7 April 2025
Madura Tidak Akan Muncul sebagai Kandidat Ibu Kota Jawa Timur, Dilirik Saja Tidak toko buku

Kalau Memang Ingin SDM Madura Meningkat, Langkah Awal yang Harus Dilakukan Adalah Meningkatkan Jumlah Toko Buku

25 Agustus 2023
Pembangunan Toilet SD di Sumenep yang Telan Dana 500 Juta: Korupsi atau Tidak, Pembangunan Ini Layak Diapresiasi

Pembangunan Toilet SD di Sumenep Telan Dana 500 Juta: Korupsi atau Tidak, Pembangunan Ini Layak Diapresiasi

6 Juli 2023
Membantah Klaim Jembatan Suramadu sebagai Biang Kerok Berbagai Masalah di Surabaya Mojok.co

Membantah Klaim Jembatan Suramadu sebagai Biang Kerok Berbagai Masalah di Surabaya

16 Oktober 2024
Warung Madura Bernama Madura Kitchen Sukses Jajah London (Unsplash)

Madura Kitchen, Warung Madura yang sukses Menginvasi Kota London Malah Kena Nyinyir Orang Indonesia Sendiri

21 Juni 2024
Le Minerale dan Aqua Nggak Laku di Madura! Orang Madura Lebih Suka Air Minum Kemasan Lokal yang Ada Barokah-barokahnya

Le Minerale dan Aqua Nggak Laku di Madura! Orang Madura Lebih Suka Air Minum Kemasan Lokal yang Ada Barokah-barokahnya

22 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nonton timnas Indonesia di Youtube Reza Arap memang aneh (Wikimedia Commons)

Nonton timnas Indonesia di Youtube Reza Arap memang aneh, komentator nggak jelas, tapi jangan menghujat dulu

1 Agustus 2026
Kartu kredit, contoh terbaik bahwa dunia hanya ramah sama orang kaya

Kartu kredit, contoh terbaik bahwa dunia hanya ramah sama orang kaya

3 Agustus 2026
Di Tasikmalaya, jadi tukang parkir liar itu wajar, sebab lapangan kerja di kota ini begitu langka!

Di Tasikmalaya, jadi tukang parkir liar itu wajar, sebab lapangan kerja di kota ini begitu langka!

3 Agustus 2026
3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya Mojok.co

3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya

6 Agustus 2026
Jalan Nasional Purworejo vs Kulon Progo Ketimpangannya Begitu Terasa: Dalam Hitungan Meter, Dunia Begitu Berbeda

Purworejo, kota yang menyambutmu bukan dengan gapura selamat datang, tapi dengan jalan berlubang

5 Agustus 2026
4 jasa yang nggak pernah kepikiran bakal ada, tapi saya temukan di Threads Mojok.co

4 jasa yang nggak pernah kepikiran bakal ada, tapi saya temukan di Threads

3 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.