Saya seorang kurir barang di Kota Surabaya yang turut merasakan kerasnya himpitan ekonomi akhir-akhir ini. Dari yang bisa beli nasi padang dab nasi pecel 17 ribuan di warteg, jadi kerasa mahal karena harga-harga nggak ngotak, tapi penghasilan jalan di tempat. Walhasil, saya terpaksa beralih makan nasi bungkus 7 ribu di tepi jalan raya. Selain murah, itu lebih dari cukup untuk menahan gejolak perut seharian.
Saya nemu surganya nasi bungkus, tepatnya di daerah Kendangsari, Kota Surabaya. Selain itu, pengamatan saya terhadap bisnis nasbung selama 3 bulan belakangan menunjukkan hal yang membagongkan, terutama bagi awam bisnis seperti saya.
7 Adalah Angka Sakral 2026, Bukan 8 atau 13!
Angka 8 atau 13 mungkin spesial bagi Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, tapi berdasarkan renungan malam saya angka 7 adalah GOAT 2026 alias jawaban dari krisis ekonomi saat ini. Tujuh adalah harga yang menampung kelipatan terbesar dan terkecil di saat yang sama.
Coba sebutkan apa yang masih bisa kalian beli dengan uang 7 ribu hari ini? Es Teh Jumbo 2 Gelas? nggak cukup. Paket data 1 GB? Mewek. Ngafe kalcer? Malu. Tapi tujuh ribu di tangan penjual nasi bungkus bisa jadi ayam suwir + tempe + tahu + mie + nasi segepok + sambal + kantung plastik + bungkus makanan.
Dengan rumus itu saja, nasi bungkus 7 ribu laris manis. Habis tidak kurang dari 250 porsi setiap harinya. Kenapa tujuh ribu lebih dipilih? Secara psikologis (ala-ala aja, saya bukan psikolog, orang cuma kurir) itu lebih diperhitungkan. Sebab 5 ribu dinilai terlalu murah, sementara 10 ribu terlalu nanggung karena orang harus membeli minuman kembali setelah makan. Terlalu boncos!
Di titik ini, nasi bungkus 7 ribu terasa pas, tidak kurang dan tidak lebih, sisa 3 ribu untuk beli minum. Komplit!
Rumus cuan sederhana di bisnis nasi bungkus 7 ribu
Orang mengira bisnis nasbung itu rugi. Maksudnya, harga 7 ribu untungnya berapa sih?
Mari saya bongkar pakai kalkulator warung. Pertama, dari segi itung-itungan untung-rugi. Modal per bungkus ± Rp4000-5000. Breakdown-nya, nasi Rp. 1.500, Lauk pauk 1.500, sambal + plastik Rp. 500. Kalau masaknya banyak semisal 100 bungkus maka harga makin turun. Lalu, dijual Rp. 7000 dengan asumsi untung bersih Rp. 2500 per bungkus.
Kedengarannya kecil? Sekarang kalikan 200 bungkus per hari. Hasilnya 200 x 2500 = Rp. 500.000. Sebulan 30 hari = Rp. 15 juta. Belum Dipotong kebutuhan hidup yang lain-lain. Tapi tetap saja, ini bukan bisnis receh.
Jualan dengan keluarga, saudara atau teman. Cukup membawa dua buah motor BeAt atau Vario. Satu membawa nasbung bolak-balik, yang satu bawa payung, meja lipat, dan beberapa perlengkapan yang penting. Buka pukul 05.30, tutup pukul 09.00. Hanya 3 jam sehari.
Kedua, dari segi kondisi ekonomi. Ketika ekonomi negara lagi nyempit kayak sekarang, masyarakat harus menurunkan pengeluaran harian. Yang paling utama dan tidak bisa ditunda adalah makanan. Maka, semua kalangan (kaya, miskin, menengah) yang lapar harus makan apa pun kondisi ekonominya.
Di sinilah nasi bungkus 7 ribu menang. Dia memberikan harga nanggung dari segi apa pun sebagaimana penjelasan di atas. Terlihat dari pengamatan saya 2 bulan terakhir (Juni-Juli) pembeli nasbung Pak Wahyu (nama samaran) bervariasi. Mulanya hanya kurir macam saya. Berikutnya pegawai pabrik, pelari kalcer, dan ibu-ibu pekerja. Sampai akhirnya supir truk lalu orang-orang menengah ke atas dengan mobil-mobil entry level ikut mengantre.
“Kenyang” adalah milik semua kalangan
Di zaman semua serba mahal, ada kebahagiaan sederhana yang harganya cuma 7 ribu: kenyang.
Nasi bungkus bukan sekadar makanan. Dia adalah bukti bahwa di tengah resesi, masih ada orang yang mau masak, masih ada orang yang mau kerja, dan masih ada orang yang mau beli. Dia penyelamat semuanya.
Jadi lain kali saat kalian beli nasi bungkus 7 ribu, jangan nawar ya. Siapa tau dari 7 ribu itu, ada anak yang bisa bayar SPP. Ada ibu yang bisa beli obat. Ada bapak yang bisa pulang bawa senyum. Dan bisa jadi, ada yang naik kelas jadi orang kaya.
Penulis: Alfian Muslim
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
