ADVERTISEMENT

Di Hari Santri 22 Oktober ini saya mengaku malu jadi santri

Di Hari Santri 22 Oktober ini saya mau mengaku malu jadi santri Mojok.co

Saya selalu malu untuk mengakui saya santri.

Saya pernah mondok. Sebentar saja, hanya tiga tahun, di Malang. Itu pun ketika saya kuliah. Bukan sejak kecil seperti kebanyakan teman saya yang tumbuh di lingkungan pesantren. 

ADVERTISEMENT

Saya baru mengenal kehidupan pondok ketika usia saya sudah cukup dewasa. Setidaknya cukup dewasa untuk tahu mana yang baik dan buruk, mana yang boleh dilakukan dan harus ditinggalkan. Setidaknya itulah yang saya rasakan. 

Pengalaman saya mondok mungkin hanya sebentar. Namun, itu cukup untuk membuat saya merasa bagian dari santri. Hanya saja, tiap kali orang bertanya, “Kampu pernah mondok?” Saya selalu lebih nyaman untuk menjawab tidak. 

Sekali lagi, saya selalu malu untuk mengakui bahwa diri ini adalah santri.

Pengalaman di kampung halaman membuat saya tergerak untuk mondok

Dibanding teman-teman di pondok, lingkungan saya tumbuh tidak bisa dibilang religius. Sejak kecil sampai MA saya tidak pernah mondok. Namun, sehari-hari saya memang ngaji di langgar (musala), mulai dari Quran hingga kitab-kitab kuning. Meski pada akhirnya, tetap saja saya belum bisa baca kitab kuning. Hehehe.

Saya sangat suka ketika guru kami menerangkan tentang ilmu fiqih. Tentang caranya bersuci, caranya salat, zakat, puasa, haji, jual beli, dan lain sebagainya. Saya begitu menikmati penjelasan-penjelasan dari guru kami tentang perbedaan pandangan antara mazhab yang satu dengan yang lainnya.

Tidak hanya fiqih, saya juga suka mendengarkan penjelasan guru kami mengenai aqidah. Tentang dasar-dasar keyakinan dalam beragama, logika tauhid, hingga penjelasan logis bahwa Tuhan itu ada (wujud). 

Penjelasan-penjelasan itu membuat saya merasa nyaman dalam beragama. Saya merasa beragama dengan “keren” karena keyakinan saya terhadap Tuhan tidak hanya ikut-ikutan (taqlid), tetapi juga ditopang dengan logika yang mantap.

Pengalaman itu pula yang mendorong saya untuk mondok ketika kuliah di Malang. Anehnya, ketika mondok, saya merasa mendapati banyak sekali berita-berita kasus pencabulan di pondok pesantren dari internet (bukan di pondok saya ya). 

ADVERTISEMENT

Kasus-kasus semacam itu sering muncul di beranda Instagram. Entah karena waktu kuliah saya mulai sering menggunakan sosial media sehingga mendapati info-info semacam itu atau karena memang di tahun itu banyak kasus seperti itu, entahlah.

‎Tidak semua pondok pesantren sama, jangan digeneralisasi

Saya tidak menutup mata terhadap banyaknya kasus pelecehan seksual yang terjadi di pondok pesantren. Itu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Berpura-pura tidak tahu sama saja dengan menutup mata terhadap penderitaan para korban.

Akan tetapi, menganggap semua pesantren suci tanpa cela juga merupakan ketidakadilan. Begitu pula menganggap semua pesantren mengajarkan pencabulan. Keduanya sama-sama bentuk generalisasi yang ngawur. Kalau kata orang Jawa, ojo digebyah uyah.

Setahu saya, sejak 2022 hingga 2024, berita tentang pencabulan di pondok pesantren berkali-kali muncul di media sosial. Saya tidak sedang mengada-ada. Kasus-kasus itu bisa ditemukan dengan beberapa kali mengetikkan kata kunci di mesin pencari.

Pada 2022, publik dibuat gaduh oleh kasus Moch Subchi Azal Tsani alias Bechi di Jombang. Kasus tersebut berujung pada vonis tujuh tahun penjara. Setahun kemudian, pemberitaan serupa datang dari Pesantren Al-Minhaj di Batang, Jawa Tengah. Pimpinannya diamankan polisi atas dugaan pencabulan terhadap sejumlah santri.

Pada 2024, seorang pimpinan pesantren di Kabupaten Sorong dijatuhi hukuman 12 tahun penjara karena terbukti melakukan pencabulan terhadap anak. Di tahun yang sama, masyarakat Canduang, Sumatera Barat, melakukan aksi boikot setelah mencuatnya kasus pencabulan yang melibatkan dua oknum guru dan puluhan santri laki-laki.

Saya tidak tahu berapa banyak lagi kasus serupa yang belum terungkap. Yang jelas, perkara-perkara tersebut bukan alasan untuk menutup mata. Korban berhak mendapatkan keadilan. Pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Lembaga pendidikan juga berkewajiban memastikan bahwa tempat belajar tidak berubah menjadi tempat yang membahayakan anak didiknya.

Akan tetapi, dari semua kasus itu, apakah kita lantas berhak menyimpulkan bahwa semua pesantren mengajarkan pencabulan? Tentu saja tidak.

Tiga tahun mondok di Kota Malang membuat saya malu mengaku santri 

Sependek pengetahuan saya, pondok pesantren adalah tempat para santri menimba ilmu agama dari seorang kiai. Tentu saja, tugas kiai bukan sekadar mentransfer ilmu agama, seperti guru yang memindahkan isi buku ke kepala muridnya.

Lebih dari itu, seorang kiai juga menjadi teladan akhlak bagi para santrinya. Ia mengajarkan bagaimana seharusnya seorang muslim menjalani kehidupan, bukan hanya melalui ceramah, tetapi juga lewat perilaku sehari-hari.

Setidaknya, itulah yang saya rasakan selama tiga tahun mondok di Kota Malang. Guru-guru kami tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Saya tahu betul bagaimana kiai-kiai kami menjaga pandangan terhadap lawan jenis ketika mengisi pengajian rutin bersama masyarakat kampung.

Saya juga ingat seorang kiai kami yang sudah sepuh. Beliau punya kebiasaan mengucapkan hamdalah di setiap langkahnya. Seolah-olah beliau ingin mengingatkan kami bahwa bahkan untuk urusan bernapas pun, manusia punya alasan untuk bersyukur.

Sederhana memang. Namun, justru dari hal-hal sederhana itulah saya belajar bahwa akhlak tidak selalu harus disampaikan lewat ceramah panjang. Kadang-kadang, ia cukup diperlihatkan lewat kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang.

Dan, bukankah nilai-nilai semacam itu juga yang diajarkan dalam kitab-kitab kuning? Saya tidak perlu menyebutkannya satu per satu. Selain akan panjang, saya khawatir tulisan ini malah berubah menjadi katalog kemuliaan guru-guru saya.

Malu karena merasa kurang layak jadi santri

Teladan-teladan itulah yang membuat saya malu mengakui diri ini adalah santri. Bukan karena saya pernah mondok lalu merasa minder. Bukan pula karena saya takut dianggap ketinggalan zaman. Diri ini malu karena merasa belum mampu menjadi sosok santri yang selama ini saya bayangkan.

Dalam kepala ini, santri adalah orang yang berusaha menjaga akhlak, menghormati orang lain, dan menjunjung tinggi etika. Tentu saja, santri juga manusia biasa yang bisa salah dan khilaf. Namun, setelah bertahun-tahun diajari tentang kebaikan, setidaknya saya berharap diri ini bisa menjadi sedikit lebih baik.

Sayangnya, saya belum yakin bisa memenuhi harapan itu.

Masih sering saya menemukan jarak antara yang diketahui dan dilakukan. Saya mungkin bisa mengangguk-angguk ketika mendengar nasihat tentang akhlak, tetapi belum tentu berhasil mempraktikkannya ketika berhadapan dengan kehidupan yang sesungguhnya.

Saya takut, suatu hari nanti, orang mengenal saya sebagai seseorang yang perilakunya justru bertolak belakang dengan nilai-nilai yang pernah diajarkan di pesantren. Membayangkan nama pesantren dan kiai bisa terseret oleh tingkah laku saya, rasanya benar-benar mengerikan. 

Santri juga manusia

Tentu saja, saya tidak sedang mengatakan bahwa seorang santri harus menjadi manusia tanpa cela. Kalau syarat menjadi santri adalah selalu berakhlak sempurna, barangkali pesantren akan sepi karena tidak ada manusia yang memenuhi syarat. Saya pun tidak sedang berusaha merendahkan diri agar terlihat saleh.

Saya hanya merasa bahwa menyandang identitas santri membawa tanggung jawab yang tidak kecil. Ada nilai-nilai yang pernah diajarkan, ada teladan yang pernah disaksikan, dan ada kebaikan yang semestinya terus saya usahakan, bahkan setelah saya tidak lagi tinggal di pondok.

Mungkin, inilah kemaluan saya sebagai santri. Bukan kemaluan yang harus disembunyikan karena aib, melainkan rasa malu karena saya belum mampu mencerminkan apa yang saya hormati. Malu karena pernah belajar banyak hal tentang kebaikan, tetapi masih harus berjuang keras untuk benar-benar melakukannya.

Saya tidak tahu kapan rasa malu ini akan hilang. Barangkali memang tidak perlu dihilangkan sepenuhnya. Asalkan ia tidak membuat saya berhenti belajar. Rasa malu yang akan terus mengingatkan bahwa menjadi santri bukan perkara pernah tinggal di pondok selama tiga tahun, tapi tentang bagaimana nilai-nilai yang diajarkan di sana tetap hidup dalam perilaku setelah kita meninggalkannya.

Tulisan ini saya buat sebagai bentuk perayaan Hari Santri (22 Oktober). Menurut keyakinan saya (berdasarkan pengalaman), pondok pesantren adalah tempat pendidikan yang baik.

Dan saya ingin, orang lain juga memiliki keyakinan yang sama atau setidaknya, di tengah gempuran berita buruk tentang pondok pesantren, orang lain memiliki sudut pandang yang baru (yang baik) terhadap pondok pesantren. Saya yakin, masih banyak pondok pesantren yang baik (benar-benar baik) daripada yang menyimpang (tidak baik).

Sekali lagi, selamat Hari Santri, saya bangga menjadi santri.

Penulis: Dinas Bayu Aji
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Curhatan Santri: Kami Juga Manusia, Jangan Memasang Ekspektasi Ketinggian  dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.

Terakhir diperbarui pada 22 Oktober 2026 oleh .

Dinas Bayu Aji

Fresh graduate Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Malang yang merantau di Malang; bekerja dan hidup pas-pasan; suka menulis isu pendidikan, dan sosial.