Lari pagi seharusnya aktivitas sederhana. Orang bangun, pakai sepatu, lalu berlari sebentar untuk menggerakkan badan sebelum memulai hari. Tapi di desa, lari pagi bisa berubah menjadi sesuatu yang sedikit lebih rumit. Salah satunya, orang mengira saya akan daftar polisi hanya karena mulai hobi lari pagi.
Saya baru menyadari hal itu ketika suatu pagi memutuskan mulai rutin jogging keliling kampung. Niatnya sederhana. Badan saya terasa kaku karena terlalu sering duduk dan berlari rasanya jadi cara paling murah untuk olahraga.
Masalahnya, orang-orang di desa membaca hobi baru saya ini dengan terlalu rumit. Baru beberapa hari berlari, komentar mulai berdatangan.
“Lari pagi terus, mau daftar polisi ya?”
Lari pagi sama dengan tes daftar polisi atau tentara
Awalnya saya kira itu hanya candaan. Tapi setelah mendengar pertanyaan yang sama dari beberapa orang berbeda, saya mulai sadar. Bahwa di desa, seseorang yang tiba-tiba rajin lari pagi memang sering diasosiasikan dengan satu tujuan: mau daftar polisi atau tentara.
Logikanya sebenarnya cukup masuk akal. Selama ini, yang paling sering terlihat lari pagi di jalan desa memang anak-anak muda yang sedang mempersiapkan diri untuk seleksi.
Mereka berlari dengan serius. Kadang sambil menghitung putaran, kadang dengan wajah yang terlihat seperti sedang mengejar masa depan. Akibatnya, ketika ada orang yang tiba-tiba rajin jogging, kesimpulan paling mudah langsung muncul: pasti sedang latihan. Padahal kenyataannya tidak selalu begitu.
Saya cuma ingin sehat
Ada orang yang lari pagi hanya karena ingin sehat, bukan lantas mau daftar polisi. Ada juga yang sekadar bosan dengan rutinitas di rumah. Lebih banyak lagi yang hanya ingin menikmati udara pagi desa yang masih segar sebelum aktivitas benar-benar dimulai.
Tapi di desa, perubahan kecil dalam kebiasaan sering terasa cukup mencolok untuk memancing dugaan. Terutama kalau sebelumnya orang tersebut tidak pernah terlihat melakukan hal yang sama seperti lari pagi.
Seseorang yang biasanya berjalan santai tiba-tiba muncul dengan sepatu olahraga dan mulai lari pagi keliling desa. Bagi sebagian orang, itu sudah cukup untuk menimbulkan rasa penasaran.
“Ini kenapa tiba-tiba rajin lari pagi?”
Dan seperti banyak hal lain di desa, rasa penasaran sering lebih cepat menghasilkan kesimpulan daripada jawaban. Akhirnya muncul teori yang paling sederhana: mungkin dia sedang latihan daftar polisi. Padahal kenyataannya jauh lebih sederhana. Saya hanya mencoba olahraga.
Begitulah kehidupan di desa
Tapi, begitulah kehidupan di desa. Aktivitas kecil jarang benar-benar lewat tanpa perhatian. Bahkan sesuatu yang sesederhana seperti lari pagi bisa berubah menjadi cerita kecil yang berpindah dari satu obrolan ke obrolan lain. Dan semakin sering seseorang berlari, semakin kuat juga dugaan itu: daftar polisi.
Pada akhirnya, saya mulai terbiasa dengan komentar tersebut. Setiap ada yang bertanya apakah saya sedang mempersiapkan diri untuk daftar polisi, saya biasanya hanya tertawa. Karena menjelaskan bahwa saya hanya sedang mencoba hidup lebih sehat sering terasa terlalu sederhana untuk menjawab dugaan yang sudah telanjur menarik.
Begitulah desa bekerja. Tempat di mana langkah kecil seperti lari pagi bisa langsung dibaca sebagai usaha mengejar masa depan besar. Padahal kadang seseorang hanya sedang mengejar napasnya sendiri.
Penulis: Putri Ardilla
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
