Beberapa tahun yang lalu, orang datang ke Desa Sriwulan Kendal biasanya karena salah belok. Sudah begitu, mereka yang salah belok pasti memasang muka masam dan sumpah serapah pelan.
Maklum, nama Desa Sriwulan seakan tenggelam di peta Jawa Tengah. Nasibnya juga tenggelam di bayang-bayang desa lain yang lebih mentereng dan punya nama.
Selama bertahun-tahun, Desa Sriwulan hidup dalam kenyamanan menjadi desa medioker pada umumnya. Sawah membentang tenang, jalan berkelok, dan rumah-rumah berdiri rapi. Nggak ada alesan buat dateng lagi, nggak ada cerita, apalagi foto-foto cantik untuk mewarnai media sosial.
Tapi hari ini, Sriwulan Kendal berubah menjadi wajah yang sama sekali berbeda. Seolah-olah desa yang selama ini “medioker” itu tiba-tiba tersinggung, terus ngebuktiin diri kalau ia lebih dari sekadar jalan pintas.
Tanpa gemuruh, tanpa berisik, Sriwulan perlahan bangkit. Merapikan rambutnya, membersihkan wajahnya, dan menatap dunia dengan identitas baru. Sriwulan berubah dari desa medioker menjadi ujung tombak destinasi wisata Kabupaten Kendal.
Desa Sriwulan Kendal: Dari desa medioker, menjadi desa wisata favorit keluarga
Kadang, ada yang mengunjungi Desa Sriwulan di dataran tinggi Kendal, tepatnya di Kecamatan Limbangan, karena tersesat. Tapi, semua itu pelan-pelan berubah sejak satu nama mulai sering muncul di tongkrongan warung kopi, yaitu destinasi wisata Arenan Kalikesek.
Bukan karena Sriwulan Kendal mulai mendaku diri sebagai “desa wisata Favorit”. Justru sebaliknya, Kalikesek memang punya daya tarik sendiri. Air sungai bening, teduh pohon aren, dan suasana alam yang membuat orang yang rela datang untuk melepas beban pikiran.
Sejak resmi buka pada 16 Juni 2022, Kalikesek pelan-pelan mengangkat citra Desa Sriwulan Kendal. Pemerintah desa mulai merapikan akses jalan, menata area sekitar sungai, dan memberi warga ruang untuk berjualan.
Saya memandang kalau kerja pemerintah Desa Sriwulan Kendal ini sebagai wujud pemberdayaan ekonomi masyarakat yang berdampak. Mereka mampu mengelola aset desa dengan baik. Sejak 2022 dan kini 2026, nama Desa Sriwulan mulai terangkat.
Ketika Pemdes berhenti pamer rapat, dan BUMDes benar-benar kerja
Di banyak desa, Pemerintah Desanya sering keliatan kayak mesin administrasi yang ribet dan bertele-tele. Kegiatan mereka cuma rapat, tanda tangan, laporan, foto, lalu selesai. Tapi di Desa Sriwulan Kendal, polanya pelan-pelan bergeser.
Saya melihat Pemdes nggak lagi cuma duduk di balik meja, tapi ikut kotor di lapangan mikirin akses jalan dan alur parkir. Perbaikan jalan ke arah Kalikesek memang bukan proyek megah, tapi langkah taktis yang terasa dampaknya.
Pemdes juga belajar kalau wisata desa bukan soal ngejar viral, tapi bikin ekosistem yang baik. Mereka bisa membuka ruang dialog dengan warga, pedagang, dan kelompok pemuda. Sehingga, pengembangan Kalikesek nggak kerasa kayak proyek formalitas, tapi terobosan bersama.
Kerja mereka cepat. Salah satunya ketika merespons keluhan pengunjung terkait sinyal internet. Tak butuh waktu lama Pemerintah Desa Sriwulan Kendal memperkuat sinyal jaringan di kawasan Kalikesek.
Di sisi lain, Pengurus BUMDes Sriwulan Makmur juga benar-benar keluar dari citra lembaga yang cuma hidup di papan nama. Mereka menjadi penggerak utama pengelolaan Kalikesek. Mulai dari pengaturan tiket, penataan fasilitas, hingga pendampingan warga yang mau berjualan.
BUMDes nggak cuma cari pemasukan, tapi memastikan manfaat wisata mengalir kembali ke masyarakat. Bukti paling konkret terjadi saat Lebaran 2024, waktu hasil pengelolaan Kalikesek memungkinkan BUMDes bersama Pokdarwis membagikan THR sebesar Rp500 ribu kepada sekitar 200 KK di Desa Sriwulan Kendal.
Setahu saya, keberhasilan seperti ini jarang terjadi di Indonesia. Bayangin, institusi Pemerintahan Desa mana yang kepikiran ngasih THR buat warganya? Kalian yang punya Pemdes korup pasti cuma bisa gigit jari ketika mendengar ini.
Pemdes menjaga arah kebijakan dan BUMDes yang memastikan roda ekonomi berputar. Akhirnya warga mulai merasa kalau wisata bukan milik segelintir orang, tapi kepentingan bersama. Desa Sriwulan Kendal berubah bukan karena satu figur heroik, tapi karena kolaborasi yang matang.
Dari ekonomi bocor, menjadi ekonomi yang berdampak untuk masyarakat
Kalikesek mungkin keliatan sederhana, tapi dampak ekonominya jauh dari sederhana. Dengan tiket masuk yang cuma sekitar Rp2.000 per orang, destinasi ini justru jadi bukti bahwa wisata murah bisa tetap produktif.
Kalikesek tercatat mampu menghasilkan sekitar Rp1,5 miliar per tahun, atau lebih dari Rp100 juta per bulan. Jelas, ini angka yang cukup mencengangkan buat ukuran desa yang dulu nyaris nggak masuk radar pariwisata.
Cerita heroik yang sebenarnya bukan cuma soal angka pendapatan, tapi ke mana uang itu mengalir. Dulu, ekonomi Desa Sriwulan Kendal cenderung bocor ke luar. Kalau mau bekerja atau belanja, warga harus ke luar kota.
Sekarang, arusnya mulai berbalik. Warung-warung lokal hidup kembali, ibu-ibu desa berjualan jajanan tradisional, dan anak muda yang dulu ingin merantau mulai melihat peluang di kampung sendiri. Entah sebagai penjaga loket, pengelola parkir, penjual kopi aren, atau pedagang kuliner.
BUMDes sebagai penghubung, memastikan bahwa hasil wisata nggak cuma berhenti di kas desa, tapi berputar ke banyak tangan. UMKM lokal dapat ruang di sekitar Kalikesek, dari penjual gula aren, tiwul, hingga makanan tradisional yang jadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Pasar kuliner akhir pekan bikin desa jadi lebih hidup, bukan cuma untuk pengunjung, tapi juga untuk warga Desa Sriwulan Kendal sendiri.
Warga Desa Sriwulan Kendal bukan penonton
Yang paling penting, perubahan ini nggak kerasa kayak eksploitasi wisata. Warga Desa Sriwulan Kendal nggak cuma jadi penonton, tapi ikut terlibat dalam pengelolaan dan pengambilan keputusan. Mereka mulai paham bahwa wisata bukan cuma mendatangkan orang luar, tapi juga cara menjaga alam, budaya, dan ekonomi desa biar tetap berkelanjutan.
Pada akhirnya, Kalikesek bukan cuma hidden gem yang bagus di Instagram. Ia jadi ruang ekonomi baru, tempat Desa Sriwulan Kendal menemukan kembali martabatnya sebagai desa yang bisa menghidupi dirinya sendiri.
Kalikesek mungkin jadi wajahnya, tapi jiwa perubahan Sriwulan ada pada keberanian warganya untuk bekerja bersama. Mereka menunjukkan kalau ekonomi desa nggak selalu harus nunggu investor besar. Kadang cukup memulainya dari sungai, sawah, dan kemauan untuk bergerak bersama.
Desa Sriwulan Kendal adalah pengingat paling sederhana kalau pemerintah memberi ruang, dukungan, dan kepercayaan kepada desa, mereka bisa tumbuh jauh melampaui ekspektasi.
Penulis: Esha Mardhika
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Kendal, Daerah Medioker yang Masih Punya Hal-hal Baik di Dalamnya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
