Derita orang Bojonegoro yang selalu jadi bahan bullying ketika nongkrong gara-gara bahasa yang dianggap aneh

Derita orang Bojonegoro yang selalu jadi bahan bullying ketika nongkrong gara-gara bahasa yang dianggap aneh boso jonegoroan

Derita orang Bojonegoro yang selalu jadi bahan bullying ketika nongkrong gara-gara bahasa yang dianggap aneh (Pixabay.com)

Jadi orang Bojonegoro di tongkrongan lintas daerah itu kayak bawa senjata yang meledak sendiri tiap kali dipakai. Bukan senjata rahasia, ya. Teman-teman saya udah pada tahu kok saya Bojonegoro asli, itu bukan berita baru. Tapi tahu itu satu perkara, paham itu perkara lain. Dan begitu saya kepleset ngomong pakai boso jonegoroan yang mereka nggak ngerti, seketika status saya turun kelas: dari teman nongkrong biasa jadi bahan hiburan malam mingguan, gratis, tanpa saya pernah tanda tangan kontrak persetujuan.

Malam itu contohnya. Saya cuma pengin nyuruh teman geser dikit biar saya kebagian tempat duduk. Simpel. Nggak ada niat bikin drama. “Minggir sek, aku arep njungok kono.” Eh, teman saya malah mematung kayak baru lihat penampakan. Nggak geser sama sekali, cuma bengong.

“Hah, ngomong opo kowe, ngomong ki seng jelas to. Njungok? Cok, njungok ki opo?”

Nah, dari situ derita sesungguhnya sebagai orang Bojonegoro baru dimulai. Kalimat itu diulang, diulang lagi, terus diulang lagi sampai kedengaran kayak mantra pemanggil hujan. Setiap kepleset lidah saya, sekecil apa pun, langsung dicatat rapi di memori kolektif tongkrongan, siap ditarik keluar kapan saja kalau suasana lagi butuh bahan bercandaan.

Ibarat saya punya rekam jejak dosa yang nggak pernah dihapus. Cuma bedanya ini bukan di Google, tapi di ingatan teman-teman sendiri yang daya ingatnya soal utang bisa aja lupa, tapi soal logat saya awet banget.

Kamus Bojonegoro saya, panggung komedi mereka

Yang bikin capek hati, kata-kata dalam bahasa Bojonegoro yang jadi bahan bully itu buat saya biasa aja, nggak ada lucu-lucunya sama sekali. “Nem” itu artinya “-mu”, bukan angka enam kayak yang diajarin di pelajaran bahasa Jawa waktu SD. Tapi jelasin logika bahasa ke orang yang lagi ngakak sampe merem, sama aja kayak jelasin filsafat ke kucing tetangga. Percuma. Yang mereka denger cuma bunyi “nem, nem, nem” yang menurut mereka receh abis, padahal buat saya itu ya cuma kata ganti biasa.

Sama nasibnya sama “genyo” yang artinya kenapa, atau “njungok” yang artinya duduk. Buat saya itu bahasa dari rumah. Buat mereka itu setara materi stand up comedy yang saya nggak pernah setuju dipentaskan, apalagi dijual tiket masuknya.

Paling parah kalau saya kepleset pakai “leh” atau “tho” di ujung kalimat. “Piye leh?” langsung ditirukan bolak-balik dengan nada didramatisir, sampai kedengarannya kayak saya lagi nyanyiin lagu daerah yang liriknya cuma satu kata diulang sepanjang lagu. Saya cuma nanya kabar, bukan lagi nawarin manggung.

Ironisnya, boso jonegoroan ini nggak bisa saya kontrol keluarnya. Dia nggak nunggu izin, nggak nunggu momen yang pas, apalagi nunggu restu dari tongkrongan. Pas capek, pas kaget, pas ngantuk, pas emosi dikit aja, tiba-tiba nyempil sendiri di antara bahasa Indonesia yang saya pakai sehari-hari. Begitu itu kejadian, alarm di kepala teman-teman otomatis nyala, lampu sorot langsung mengarah ke saya: waktunya bully time, episode entah keberapa.

Yang bikin tambah runyam, saya nggak bisa marah beneran. Sekali saya protes dikit, mereka malah makin bersemangat. “Lah kok muring, tho? Ngomong opo maneh?” Protes saya sendiri jadi amunisi baru. Jadi ya sudah, opsi yang tersisa cuma satu: pasrah, senyum kecut, sambil nunggu topik obrolan geser ke hal lain sebelum saya keceplosan lagi. Beginilah derita warga Bojonegoro, ges.

Ternyata ini bukan cuma nasib sial saya doang

Tapi lama-lama saya sadar, kayaknya ini semacam pajak wajib yang harus dibayar tiap orang daerah kalau nongkrong lintas kota. Orang Malang kena getahnya soal bahasa walikan yang muter-muter, orang Suroboyoan kena getahnya soal kata-kata kasar yang keluar otomatis kayak refleks lutut, dan saya, orang Bojonegoro, kena getahnya soal kosakata yang sebetulnya wajar-wajar aja tapi kedengaran kayak bahasa alien di telinga orang Jawa Timur lainnya.

Kalau ditarik agak serius sedikit, tanpa perlu pakai toga, sebenarnya ini soal siapa yang lebih sering nongol duluan. Bahasa Jawa Suroboyoan atau Malangan lebih sering muncul di sinetron, lagu, sampai konten receh media sosial, jadi otomatis dianggap “yang biasa”, padahal ya cuma soal jam tayang doang, sesuatu yang orang Bojonegoro nggak punya.

Boso jonegoroan yang sama tuanya, sama sahnya, kalah nongol di ruang publik, jadi kedengaran asing, aneh, bahkan lucu buat yang nggak biasa dengar. Padahal nggak ada bahasa daerah yang lebih benar dari yang lain. Semua cuma soal siapa yang kebagian jatah muncul di layar kaca lebih banyak.

Belum lagi soal cara kerja circle pertemanan itu sendiri. Yang beda dari kelompok, biasanya otomatis jadi bahan candaan buat ngerekatkan yang di dalam. Ilmiahnya sih ada istilahnya, tapi intinya sederhana: yang beda jadi sasaran empuk biar yang lain makin merasa senasib.

Masalahnya, buat yang jadi sasaran, bercandaan itu nggak selalu terasa ringan kayak yang ngelontarin kira-kira. Kadang jadi beban yang bikin saya mikir dua kali sebelum ngomong spontan, takut keceplosan terus ditertawain lagi. Padahal logat itu bukan pilihan, itu warisan. Bukan aib yang pantas terus-terusan dijadiin bahan lawakan gratisan.

Sedikit pesan buat yang doyan ketawa dan yang kebagian ditertawain

Buat kalian yang suka ketawa tiap dengar teman kepleset ngomong bahasa daerah, ya sah-sah saja, itu manusiawi kok, saya juga suka ketawa kalau posisinya kebalik. Tapi tolong dikira-kira porsinya. Sesekali bikin akrab, tapi kalau tiap kali dia buka mulut langsung ditertawain rame-rame, lama-lama dia bakal mikir dua kali sebelum ngomong natural di depan kalian. Dan itu rugi, karena yang hilang bukan cuma rasa nyaman dia, tapi juga kekayaan bahasa yang harusnya kita nikmati bareng-bareng, bukan malah dijadiin bahan tertawaan doang.

Buat sesama orang Bojonegoro, pesan saya cuma satu: jangan sampai capek diketawain bikin kalian malu sama bahasa sendiri. Boso jonegoroan itu bukan bahan lawakan, itu warisan dari rumah, dari orang tua, dari kampung halaman yang nggak bisa ditukar sama logat siapa pun, sekeren apa pun logat itu kedengaran di telinga orang lain.

Kalau ada yang nanya “njungok ki opo”, ya jelasin pelan-pelan, sabar, sekalian ajarin. Toh kalau bahasa kita makin dikenal, lama-lama bukan kita lagi yang jadi bahan bully, tapi mereka yang ketinggalan zaman karena nggak ngerti boso jonegoroan.

Penulis: Hendry Cipta Winandra
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Bojonegoro, Kabupaten Terkaya di Jawa Timur yang Miskin Kuliner Khas

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version