Setahun saya bekerja di bidang pelayanan. Dari cleaning service sampai server di restoran bintang tiga. Tapi anehnya, urusan bersih-bersih dan menjamu tamu di rumah, dapur keluarga istri saya jauh lebih jago daripada saya. Padahal mereka tidak pernah punya riwayat kerja di bidang pelayanan.
Terus terang, saya baru benar-benar mengenal istri, terutama adat di rumahnya, setelah hidup bersama mertua di desa. Setiap pagi, pembagian kerja sudah jelas. Saya menyapu halaman, sementara istri, dua adik saya yang juga perempuan, dan ibu sibuk di dapur. Ayah? Kadang membersihkan masjid di depan rumah. Semua kebagian peran, seperti shift pagi di hotel.
Masalahnya, hasil sapuan saya sering dikoreksi sama ibu mertua. Kadang malah adik saya disuruh menyapu ulang. Pernah suatu hari saya malas menyapu, lalu ibu saya sendiri yang turun tangan.
Saya tercengang melihat caranya. Rapi, telaten, dan sangat bersih. Tepat seperti standar kebersihan restoran. Ternyata, prinsip “bersih itu harga mati” juga berlaku di dapur keluarga istri.
Prinsip kebersihan yang bikin kaget pelayan restoran bintang tiga
Prinsip ibu saya soal kebersihan di dapur keluarga istri bahkan ekstrem. Tidak boleh ada sampah di dalam rumah. Mau buang sampah? Harus ke luar. Buka pintu, pakai sandal, jalan lima langkah, baru buang. Dalam kepala saya, ini jelas tidak efisien. Tapi rupanya, bagi ibu saya, bersih bukan soal efisiensi, melainkan soal harga diri rumah.
Ayah saya sama saja. Di masjid, beliau menyapu pakai alat yang namanya lobby duster. Sebuah alat yang dulu sering saya pakai di lobi restoran. Dan hasil sapuannya, jauh lebih bersih dari kerjaan saya. Lagi-lagi, pengalaman saya setahun di restoran tumbang oleh praktik rumahan.
Baca halaman selanjutnya: Adat keluarga yang luar biasa.



















