Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

Daihatsu Charade 84, Mobil yang Hadir untuk Berdakwah

Bayu Kharisma Putra oleh Bayu Kharisma Putra
21 Desember 2021
A A
Daihatsu Charade 84, Mobil yang Hadir untuk Berdakwah terminal mojok1
Share on FacebookShare on Twitter

Daihatsu selalu hadir di keluarga saya sebagai pabrikan kendaraan nomor satu, seolah Daihatsu itu sendiri merupakan nama marga kami. Mulai dari Zebra, Espass, Hijet 1000, hingga Charade tahun 1984, pernah mampir dalam sejarah keluarga kami. Bapak saya mungkin maniak Daihatsu, tapi saya nggak. Lantaran nggak banyak kenangan baik yang tersimpan buat saya terkait Daihatsu. Meski begitu, jasanya tak pernah saya lupakan, apalagi itu adalah pabrikan mobil pertama yang saya pegang kemudinya.

Daihatsu Charade 84 adalah sebuah mobil yang hadir ke dunia untuk memberikan kebahagiaan. Bukan untuk saya, tapi untuk orang-orang yang tertawa dan mengejek mobil itu. Tentu nggak masalah. Saya menganggap beda selera itu bukan masalah karena saya sendiri juga setuju. Saya nggak suka bentuk Daihatsu Charade.

Mobil yang sebaya dengan Daihatsu Charade banyak yang lebih keren. Sebut saja Toyota Starlet atau Honda Civic Wonder. Si Charade ini serba nanggung. Dibilang cepat, jelas nggak. Desain tubuhnya juga kurang gahar dan sporty. Interiornya pun seadanya. Tapi, itu harus bisa kita maklumi bersama. Harganya yang murah seperti cucunya, si Ayla, membuat kita nggak boleh berharap banyak.

Yang paling terasa mengganggu adalah keadaan tubuhnya. Ia seakan terbuat dari kardus. Kena air sedikit bisa lumer. Engsel pintunya susah untuk rapat, wajar ditemui pada mobil Charade lain. Lantainya juga mudah berlubang saking tipisnya. Tubuhnya ringkih dan nggak layak untuk pergi jauh.

Tapi, dari semua masalah itu, akhirnya saya menyadari banyak hal lain dari dirinya. Ia memberikan banyak pelajaran hidup pada saya. Kadang, hidup memang harus penuh perasangka baik dan sesekali boleh mengutip quote bijak.

Daihatsu Charade ini punya mesin super irit, begitu juga kecepatannya. Ia menyadarkan saya bahwa nggak baik mengumbar nafsu dan memberi pelajaran soal hubungan timbal balik. Ia tak banyak menuntut, cukup lima liter untuk jalan-jalan sepuas hati. Karena saya memberi sedikit padanya, maka saya nggak boleh berharap yang muluk-muluk. Mobil ini irit dan nggak menyusahkan dompet, nggak seharusnya saya mencercanya. Harganya yang murah bikin saya harus bisa memaklumi segala keterbatasannya.

Daihatsu Charade nggak bisa ngebut. Di atas 80 km/jam tubuhnya bergejolak meski aspalnya halus. Mirip rasanya dengan naik odong-odong dua ribuan satu putaran. Bahkan bendi Parangtritis dengan kuda paling binal sekalipun lebih halus jalannya. Saya harus bisa menahan diri dan memahami kondisi. Menahan nafsu, itu kuncinya.

Meski ada yang menyerempet si Charade, saya nggak boleh mengejar. Bahkan motor Beat yang mungkin belum lunas sekalipun, nggak berani saya kejar. Takut si Charade ambrol. Sikap sabar dan nrimo ing pandum ia ajarkan dengan sangat baik.

Baca Juga:

Daihatsu Ceria, Mobil Mungil yang Bikin Pengemudinya Benar-benar Ceria 

Daihatsu Gran Max, Si “Alphard Jawa” yang Nggak Ganteng, tapi Paling Bisa Diandalkan

Pintu yang bergetar di kecepatan 40 km/jam selalu membuat saya ingat dengan Tuhan. Saya masih ingin hidup dan menyambung mimpi-mimpi saya. Kesenggol sedikit, saya yakin mobil itu bisa gepeng, begitu juga orang di dalamnya. Mobil ini pernah nggak sengaja ditendang anak kecil. Pintunya langsung singit, miring seketika. Jangan sampai ada yang duduk di kapnya. Jaminan ambles, seperti lumpur hisap.

Kondisinya yang serba bikin pekewuh, membuat keluarga saya selalu berhati-hati. Sabuk pengaman selalu terpasang, kecepatan maksimal 50 sampai 60 km/jam, dan yang pasti selalu berdoa. Ya, membuat penumpangnya mengingat Tuhan, itulah kehebatan dari Daihatsu Charade. Mobil kecil yang mampu berdakwah. Mirip para peserta dai cilik. Ia hadir untuk mengingatkan saya tentang Tuhan.

Saya sering lupa dengan Tuhan. Saya manusia yang kurang baik. Beda halnya saat sudah di atas mobil itu. Ujuk-ujuk tingkat religiositas saya meningkat dengan signifikan. Bisa turun dari mobil itu dan selamat sampai tujuan adalah bukti perjalanan dengan tingkat spiritual paling puncak dalam hidup saya. Saya makin percaya dengan kuasa dan rahmat Tuhan. Dan itu tak hanya sekali, melainkan berkali-kali.

Ia memang bukan Honda Jazz atau pun LCGC baru lainnya yang kalau kita naiki rasanya nggak mau berhenti. Berbeda dengan Daihatsu Charade 84 yang bikin kapok melulu. Pada akhirnya, mobil itu memang dijual. Tapi jangan khawatir, saya tetap masih alim. Bukan karena iman saya yang tinggi, apalagi ibadah saya yang makin lancar, melainkan karena bapak saya memutuskan membeli Daihatsu Zebra 90-an yang perilakunya sama saja. Yah, setidaknya kami bisa berbagi pengalaman spiritual dengan lebih banyak orang.

Sumber Gambar: Love Krittaya via Wikimedia Commons

Editor: Intan Ekapratiwi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 Desember 2021 oleh

Tags: BerdakwahCharade 84Daihatsu
Bayu Kharisma Putra

Bayu Kharisma Putra

Hanya salah satu dari jutaan manusia yang kebetulan ditakdirkan lahir dan tumbuh di bentangan khatulistiwa ini. Masih setia memegang identitas sebagai Warga Negara Indonesia, menjalani hari-hari dengan segala dinamika.

ArtikelTerkait

Daihatsu Gran Max, Si "Alphard Jawa" yang Nggak Ganteng, tapi Paling Bisa Diandalkan Mojok.co

Daihatsu Gran Max, Si “Alphard Jawa” yang Nggak Ganteng, tapi Paling Bisa Diandalkan

25 Desember 2025
Pick Up Daihatsu Zebra 1991: Meski Bodi Remuk, Mesin Tetap Jos! terminal mojok.co

Pick Up Daihatsu Zebra 1991: Meski Bodi Remuk, Mesin Tetap Jos!

9 April 2021
Daihatsu Luxio dan Stigma Mobil Murahan yang Melekat Terminal Mojok

Kalau Ada yang Bilang Daihatsu Luxio Mobil Mewah, Baiknya Bawa Orang Tersebut ke Puskesmas Terdekat

25 September 2023
Daihatsu Charade G11, Mobil Tua yang Cocok buat Pemula

Daihatsu Charade G11, Mobil Tua yang Cocok buat Pemula

4 Juni 2024
Daihatsu Gran Max Face to Face yang Tak Terlihat Pesonanya tapi Manfaatnya Luar Biasa

Daihatsu Gran Max Face to Face yang Tak Terlihat Pesonanya tapi Manfaatnya Luar Biasa

13 Mei 2020
Ilustrasi Daihatsu Xenia “Menjiplak” Kegantengan Mitsubishi Xpander (Unsplash)

Kontroversi “yang Terprediksi” ketika Mitsubishi Xpander Dijiplak All New Daihatsu Xenia

3 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

7 Lagu Bahasa Inggris Mewakili Jeritan Hati Dosen di Indonesia (Unsplash)

7 Lagu Bahasa Inggris yang Mewakili Jeritan Hati Dosen di Indonesia

16 Januari 2026
Jika Tok Dalang dalam Serial Upin Ipin Pensiun, Abang Iz Layak Jadi Kepala Kampung Durian Runtuh

Jika Tok Dalang dalam Serial Upin Ipin Pensiun, Abang Iz Layak Jadi Kepala Kampung Durian Runtuh

16 Januari 2026
3 Pertanyaan yang Dibenci Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Mojok.co jurusan PAI

Saya Tidak Ingin Menjadi Guru walaupun Memilih Jurusan PAI, Bebannya Tidak Sepadan dengan yang Didapat!

11 Januari 2026
Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

16 Januari 2026
4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata

4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata

16 Januari 2026
Mahasiswa Kelas Karyawan Adalah Ras Terkuat di Bumi: Pagi Dimaki Bos, Malam Dihajar Dosen, Hari Minggu Tetap Masuk

Mahasiswa Kelas Karyawan Adalah Ras Terkuat di Bumi: Pagi Dimaki Bos, Malam Dihajar Dosen, Hari Minggu Tetap Masuk

13 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang
  • Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal
  • Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual
  • Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 
  • Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.