Selama dua minggu ini, saya sudah tinggal di Papua Barat, tepatnya di Distrik Bomberay, Kabupaten Fakfak. Perjalanan dari kota menuju distrik memakan waktu lima jam lebih menggunakan mobil pribadi dengan kecepatan cukup tinggi.
Tinggal di Papua jelas banyak perbedaannya dengan kondisi di pulau lain, terutama Pulau Jawa. Saya lahir dan besar di tanah Sunda yang akses internet, akses pendidikan, akses transportasi, dan masih banyak lainnya yang sangat mudah dan terjamin. Saat tiba di Papua, sangat terasa perbedaannya.
Meskipun baru tinggal di Papua kurang lebih dua minggu, saya sudah merasakan culture shock sehingga membutuhkan lebih banyak waktu untuk beradaptasi.
Daging rusa sudah menjadi menu makan yang biasa di Papua
Saat pertama kali sampai di Distrik Bomberay, tempat saya menetap empat bulan ke depan untuk riset, saya dan tim langsung disuguhi dengan daging rusa. Awalnya, saya mengira daging yang dihidangkan merupakan daging sapi karena bentuk dan warnanya mirip. Nyatanya, itu merupakan daging rusa—daging yang tidak pernah saya makan sebelumnya.
Saat dimakan, rasanya mirip-mirip dengan daging sapi, apalagi jika diberi bumbu seperti rendang. Keesokan harinya, kami juga kembali disuguhi dengan rica-rica daging rusa. Sebenarnya, lidah saya bisa-bisa saja untuk memakannya, namun mengingat rusa di sini banyak diburu, jadinya agak ragu untuk memakannya.
Dua hari lalu saya juga baru membeli cilok yang dijual oleh transmigran dari Pulau Jawa. Harganya masih masuk akal, yakni sebiji seribu rupiah. Isiannya? Tentu saja daging rusa. Jangan harap kalian bisa dengan mudah mendapati cilok isi ayam atau sapi karena ayam di Papua mahal dan sulit untuk ditemui.
Internet di Papua tidak stabil: biasanya jam tiga sore hilang, jam tujuh malam baru ada lagi
Tidak seperti di Jawa yang akses internetnya nonstop 24/7, berbeda dengan di Papua terutama di beberapa pedalaman seperti distrik yang saya tempati ini. Di sini, provider yang cukup bagus yakni Telkomsel, itu pun dibatasi.
Biasanya, sinyal mulai masuk pukul tujuh malam, kadang juga jam lima sore sudah muncul alias tidak menentu. Setiap pukul tiga sore biasanya sinyal akan hilang dan muncul lagi tiga sampai empat jam kemudian.
Beberapa warga di Papu ada yang memanfaatkan WiFi dan Starlink. Kebanyakan mereka ya harus menunggu sampai malam ketika sinyal sudah muncul kembali. Terkadang, sinyal yang masuk pun tidak stabil. Kadang bagus, kadang jelek. Ya, begitu lah.
POM bensin hanya ada satu dan beroperasi setiap Senin dan Kamis
Jangan harap kamu bisa menikmati pom bensin setiap hari di Papua. Sebab, pom bensin atau SPBU di sini hanya beroperasi setiap hari Senin dan Kamis. Bukanya pun tidak sepanjang hari, melainkan mulai buka pukul enam sore. Sebelum buka, masyarakat sudah antre sangat panjang di SPBU.
Minggu lalu saya dan kawan antre di SPBU selama dua jam lebih. Untuk harga tentu sama, untuk bensin bersubsidi yakni Rp10 ribu per liter. Antrean biasa menjalar hingga ke jalan raya dan tidak jarang mereka baru bisa kebagian bensin pukul 12 malam.
Kalau tidak mau antre setiap Senin atau Kamis, sebenarnya ada yang menjual eceran di warung-warung. Namun, harga per botolnya dibanderol Rp30 ribu. Karena saya kemarin sedang tidak ingin antre, akhirnya terpaksa membeli eceran meskipun harus merogoh kocek tiga kali lipat dari harga normal.
Listrik hanya menyala setiap 12 jam per hari
Salah satu tantangan terbesar tinggal di Papua adalah keterbatasan listrik karena listrik di sini hanya tersedia 12 jam sehari. Listrik mulai menyala pukul enam sore dan akan padam kembali pada pukul enam pagi.
Karena kondisi tersebut, saya dan tim terbiasa mengecas alat elektronik baik itu laptop, HP, dan Powerbank setiap listrik mulai menyala sehingga esok hari tiba perlu khawatir jika HP atau Laptop lowbatt karena ada Powerbank.
Itulah beberapa culture shock saya selama tinggal di Papua dalam dua minggu terakhir ini. Dan saya harus mulai terbiasa selama empat bulan ke depan.
Penulis: Erfransdo
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 7 Fakta Unik Terkait Papua yang Saya Temukan di Sana
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
