Bagi anak Pantura, pantai di Maluku sukses merusak standar liburan mereka
Bagi saya yang besar di Probolinggo, dan masuk dalam paguyuban anak-anak yang tumbuh besar di pesisir pantura Jawa, definisi “pantai” itu sudah terpaku kuat di alam bawah sadar. Dalam ingatan saya, pantai adalah air laut kecokelatan, ombak yang tenang tapi rawan abrasi, aroma ikan asin yang menjemur di bawah matahari terik, dan kapal-kapal nelayan bersandar dengan latar belakang suara knalpot truk tronton dari jalur Daendels.
Definisi pantai yang sudah terpatri itu mendadak berubah tatkala takdir membawa si anak Pantura ini terbang ke Timur, tepatnya ke Maluku. Begitu kakinya menginjak pasir dan matanya melihat hamparan laut, yang terjadi bukanlah sekadar takjub, melainkan sebuah culture shock yang bikin mempertanyakan realitas. Dahulu, saya berpikir Pantai Pasir Putih di Situbondo itu adalah pantai yang paling bagus. Dalam sekejap, keyakinan itu runtuh.
Di Pantura, kalau kamu nekat nyebur ke laut, jarak pandang di dalam air paling banter cuma sampai siku sendiri. Sisanya adalah misteri ilahi—entah itu ubur-ubur, kantong kresek, atau lumpur. Pas sampai di Maluku, pemandangannya bikin syok berat. Air lautnya bergradasi dari biru tua, toska, sampai bening transparan di bibir pantai. Bila di Jawa, pemandangan ini mungkin bisa ditemui di pesisir selatan, tapi tidak di pesisir pantura.
Lalu, yang membuat saya takjub adalah pasirnya. Sumpah, saya baru tahu keindahan seperti apa setelah melihat pasir pantai di Maluku.
Pantai di Maluku beda banget sama Pantura, banget
Kami, warga Pantura, terbiasa dengan pasir pantai berwarna cokelat kehitaman yang padat. Kelebihannya? Sangat kokoh untuk dibikin istana pasir, walau kalau nempel di kaki rasanya kayak pakai lulur kopi yang belum dibilas. Dulu, waktu kecil saya masih ingat diajak ke pasir putih dan begitu takjub dengan pasirnya yang putih (yang ternyata putih bila dibanding pasir di pantai pantura lainnya). Begitu melihat pasir di pantai-pantai Maluku, rasanya pengen sujud syukur.
Pasirnya seputih bedak bayi dan selembut tepung terigu. Tidak ada lagi drama nyeker lalu telapak kaki melepuh kena aspal bercampur pasir panas. Semuanya terasa estetik, sampai-sampai rasanya sayang kalau harus menginjak pasir pakai sandal jepit.
Pasir putih yang lembut di Pantai Liang, dan pasir putih bercampur karang kecil di Pantai Namalatu atau pantai tersembunyi yang beningnya kinclong banget di pantai batu kapal yang pasti akan bikin orang Jawa betah lama-lama di sini. Ini masih di Ambon, belum lagi di Tual dan Kei yang ternyata pantainya jauh lebih cantik lagi.
Masih ada satu lagi culture shock yang membekas di kepala saya.
Tiada bau amis ikan yang menyeruak
Sebagai anak pantura, hidung kami sudah terlatih dengan perpaduan aroma laut yang khas: bau garam, bau amis ikan tempat pelelangan, sesekali kecampur bau solar dari perahu nelayan. Itu adalah aroma “rumah”.
Di Maluku, berbeda, udara pantainya fresh banget! Anginnya sejuk, membawa aroma garam yang bersih tanpa ada intervensi bau ikan asin yang sedang dijemur massal. Bukannya nggak ada nelayan, tapi entah kenapa ekosistemnya terasa seperti menggunakan filter udara alami. Rasanya lega, meski hidung anak Pantura ini diam-diam merasa ada yang “kurang nendang”.
Pada akhirnya, culture shock ini adalah sebuah teguran manis. Sebuah tamparan realitas bahwa Indonesia itu luasnya kebangetan dan cantiknya nggak masuk akal. Bagi anak Pantura, pantai di Maluku sukses merusak standar liburan mereka. Pulang dari sana, melihat pantai pesisir utara dengan air kecokelatannya, mereka cuma bisa menghela napas sambil bergumam dalam hati,
“Yo wislah, yang penting masih ada warung es degan…”
Penulis: Prasetya Ramadhan
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
