Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Cinta dan Darah Pemberontak di Lantai Singgasana Mataram

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
11 Agustus 2020
A A
retno gumilang mataram ki ageng mangir mojok

retno gumilang mataram ki ageng mangir mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Tak habis-habisnya saya mengagumi sejarah berdirinya Kerajaan Mataram. Kekaguman saya terletak pada intrik berdarah yang menyelimuti kemegahan kerajaan yang akhirnya pecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Bahkan, saat awal berdirinya Mataram juga berlumuran darah. Darah tersebut milik Ki Ageng Mangir.

Ketertarikan saya dengan kisah Ki Ageng Mangir juga punya alasan. Kebetulan, eyang buyut saya adalah warga asli Mangiran, area kekuasaan Ki Ageng Mangir. Karena warga desa di sana dianggap berkerabat dengan Ki Ageng Mangir, maka saya juga merasa Ki Ageng Mangir adalah salah satu leluhur saya. Dan kisah blio selalu membuat saya yang punya darah Mangiran baper.

Sebelumnya, Ki Ageng Mangir adalah gelar kebangsawanan. Gelar ini diberikan pada penguasa Mangiran, tanah perdikan sejak masa Majapahit. Tanah ini dianugrahkan kepada Raden Megatsari yang akhirnya bergelar Ki Ageng Mangir I. Nah, keturunan blio menggunakan gelar yang sama. Dalam kisah ini saya akan membahas Ki Ageng Mangir Wanabaya atau Ki Ageng Mangir IV. Dan saya meyebut blio sebagai Ki Ageng Mangir saja.

Mendapatkan validitas tentang kisah Ki Ageng Mangir juga bukan perkara mudah. Kisah blio telah tercampur aduk dengan berbagai sejarah lisan para penduduk Mataram. Maka saya akan mengisahkan tragedi ini berdasarkan isi dari Babad Tanah Jawi, Babad Mangir, dan sejarah lisan yang saya peroleh dari eyang saya sebagai keturunan Mangiran.

Pada awal berdirinya Mataram, Panembahan Senopati berusaha untuk menaklukkan seluruh wilayah di sekitar kerajaan baru ini. Namun usaha ini tidak mudah. Alasan utama adalah kesetiaan banyak penguasa perdikan pada Majapahit. Setelah Majapahit runtuh, para penguasa perdikan ini merasa kerajaan Demak, Pajang, serta Mataram bukanlah pemerintahan yang sah.

Salah satu penguasa ini adalah Ki Ageng Mangir. Blio enggan tunduk pada pemerintahan Senopati. Banyak kisah beredar perihal keengganan blio tunduk. Mulai dari perkara corak agama sampai status kebangsawanan Senopati. Namun saya lebih percaya alasan pertama. Apalagi, alasan itu juga dituturkan eyang saya yang keturunan Mangiran.

Senopati juga enggan menyerang langsung Mangiran. Alasan utama blio adalah takut menghadapi Ki Ageng Mangir yang terkenal tangguh. Pusaka Ki Ageng Mangir juga bukan kaleng-kaleng. Tombak Kyai Baru Klinting adalah senjata mythic yang setara dengan pusaka Senopati dengan MMR 6K itu. Selain kalah perkara senjata, Senopati juga tidak memiliki cukup daya untuk menyerang Mangiran.

Cara terbaik menghadapi Ki Ageng Mangir adalah dengan muslihat. Maka Senopati meminta pendapat Juru Mertani. Juru Mertani telah terbukti kecerdasan saat menaklukkan Arya Penangsang serta Sultan Hadiwijaya. Juru Mertani punya rencana brilian, namun mahal harganya. Harganya adalah putri Senopati sendiri, Retna Pembayun.

Baca Juga:

Dosen Seenaknya Nyuruh Mahasiswa untuk Publikasi Jurnal, padahal Uang Mahasiswa Cuma Dikit dan Nggak Dikasih Subsidi Sama Sekali

Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

Juru Mertani paham, tidak ada rantai yang kuat mengikat Ki Ageng Mangir selain rantai cinta. Kebetulan, Ki Ageng Mangir juga masih lajang. Maka Juru Mertani mengusulkan untuk mengikat Ki Ageng Mangir dengan pernikahan. Dan pernikahan yang dimaksud adalah dengan Retna Pembayun.

Namun, mempersilahkan Ki Ageng Mangir untuk menikahi Retna Pembayun secara terang-terangan bukanlah ide yang tepat. Ki Ageng Mangir menolak segala komunikasi dengan Kerajaan Mataram. Maka Retna Pembayun harus dinikahi tanpa diketahui identitas sesungguhnya. Retna Pembayun harus menyamar sebagai barang ledhek atau mengamen dengan menari Tayub.

Untuk meningkatkan kecantikan Retna Pembayun, maka blio menggunakan skincare terbaik pada masa itu. Skincare itu adalah air sendang Kasihan. Untuk Mbak Devia Anggraini, mungkin air sendang Kasihan bisa ditambahkan dalam artikel tips skincare anda. Karena memakai skincare air sendang Kasihan, Retna Pembayun menggunakan nama samaran Lara Kasihan.

Setelah melakukan perjalanan sambil mengamen bersama rombongan dari Mataram, sampailah Lara Kasihan di wilayah Mangiran. Lara Kasihan segera mengamen dengan mempesona di depan warga Mangiran. Kecantikan Lara Kasihan yang sudah di-touch up air Sendang Kasihan membuat pemuda Mangiran baper. Salah satu pemuda itu adalah Ki Ageng Mangir.

Ki Ageng Mangir mempersilahkan Lara Kasihan untuk menari di Ndalem Mangiran. Di pendapa pusat pemerintahan Mangiran tersebut, Ki Ageng Mangir jatuh cinta karena kemolekan Lara Kasihan. Jatuh cinta ini berakhir dengan pinangan Ki Ageng Mangir kepada Lara Kasihan. Perkara kisah ini, banyak dugaan bahwa salah satu anggota rombongan mengaku sebagai ayah dari Lara Kasihan. Toh, adat pernikahan menuntut lamaran ke ayah pengantin putri.

Kisah ini dikritisi oleh Pramoedya Ananta Toer dalam drama tiga babak Mangir (1976). Ki Ageng Mangir digambarkan sebagai pemimpin yang lemah dan lengah karena kehadiran wanita. Ada juga beda pengisahan tentang pernikahan ini. Beberapa menyebut Lara Kasihan mengandung anak Ki Ageng Mangir. Namun, beberapa warga Mangiran menganggap Ki Ageng Mangir tidak memiliki putra kandung.

Yang kita tahu pasti, Lara Kasihan mengungkap jati dirinya setelah pernikahan. Blio mengakui sebagai putri Panembahan Senopati. Pengakuan ini menimbulkan konsekuensi berat bagi Ki Ageng Mangir. Suka tidak suka, Ki Ageng Mangir harus menghadap Panembahan Senopati untuk memohon restu. Menghadap kepada musuh yang tiba-tiba menjadi mertua gara-gara menikah dengan sistem gacha.

Maka berangkatlah rombongan Mangiran menuju istana Mataram di Kotagede. Meskipun tidak membawa pasukan, Ki Ageng Mangir tetap membawa tombak Kyai Baru Klinting. Namun, pusaka ini tetap harus ditinggalkan Ki Ageng Mangir di depan ruang singgasana Mataram. Alasannya, membawa senjata di depan mertua itu saru, tidak pantas. Pusaka itu disenderkan pada dinding luar bangunan. Konon, dinding bata tersebut meleleh karena panasnya Kyai Baru Klinting

Masuklah Ki Ageng Mangir ke dalam ruang singgasana Mataram. Untuk menunjukkan itikad baik, Ki Ageng Mangir segera sungkem mencium kaki Panembahan Senopati. Sebuah adat yang lumrah dilakukan seorang menantu kepada mertua. Namun sang mertua melihat kesempatan untuk menyudahi perlawanan Mangiran. Mengakhiri hidup Ki Ageng Mangir.

Ada beberapa teori tentang terbunuhnya Ki Ageng Mangir. Namun teori paling umum adalah kepala blio diinjak saat hendak mencium kaki Panembahan Senopati. Injakan tersebut membunuh Ki Ageng Mangir. Namun, Watu Gilang sebagai singgasana Panembahan Senopati ikut rusak. Dasar singgasana batu itu pecah karena terbentur kepala Ki Ageng Mangir. Sebuah simbol Ki Ageng Mangir yang keras kepala.

Kematian Ki Ageng Mangir belum memuaskan Panembahan Senopati. Blio memerintahkan makam Ki Ageng Mangir untuk dibangun separuh-separuh. Separuh makam ada di dalam dinding Cungkup Senopaten, wilayah makam keluarga raja. Separuh lagi berada di luar dinding.

Makam unik ini menyimbolkan bahwa Ki Ageng Mangir adalah separuh menantu dan separuh musuh. Makam ini masih dapat dilihat di area Kotagede. Menjadi prasasti yang mengenang cinta dan darah yang membasahi singgasana Mataram, bahkan sejak awal berdirinya.

BACA JUGA Harus Gimana Lagi sama Orang yang Percaya Konspirasi Wahyudi Covid-19?! dan tulisan Dimas Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2020 oleh

Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

9 Kuliner Khas Bantul yang Perlu Dicoba terminal mojok.co

9 Kuliner Khas Bantul yang Perlu Dicoba

8 Februari 2022
Membaca Karakter Pedagang saat Nggak Punya Uang Kembalian terminal mojok

Membaca Karakter Pedagang saat Nggak Punya Uang Kembalian

16 Juli 2021
Wisata Sumatera Barat Jarang Dilirik padahal Nggak Kalah Cantik

Wisata Sumatera Barat Jarang Dilirik padahal Nggak Kalah Cantik dari Bali dan Jogja

17 Desember 2023
3 Budaya Orang Korea yang Nggak Relate Sama Orang Indonesia terminal mojok

3 Budaya Korea yang Nggak Dijumpai di Indonesia

27 Maret 2021
Banyak Orang Nggak Tahu, Tugas Utama Petugas Damkar Itu Jadi Pawang Tawon

Banyak Orang Nggak Tahu, Tugas Utama Petugas Damkar Itu Jadi Pawang Tawon

3 April 2022
Tugu Biawak Wonosobo Bikin Orang Nganjuk Iri dan Teringat Luka Lama Mojok.co

Tugu Biawak Wonosobo Bikin Orang Nganjuk Iri dan Teringat Luka Lama

5 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

KA Sri Tanjung, Penyelamat Mahasiswa Jogja Asal Banyuwangi (Wikimedia)

Pengalaman Naik Kereta Sri Tanjung Surabaya-Jogja: Kursi Tegaknya Menyiksa Fisik, Penumpangnya Menyiksa Psikis

13 Januari 2026
6 Alasan Jatinangor Selalu Berhasil Bikin Kangen walau Punya Banyak Kekurangan Mojok.co

6 Alasan Jatinangor Selalu Berhasil Bikin Kangen walau Punya Banyak Kekurangan 

12 Januari 2026
Terlahir sebagai Orang Tangerang Adalah Anugerah, sebab Saya Bisa Wisata Murah Tanpa Banyak Drama

Terlahir sebagai Orang Tangerang Adalah Anugerah, sebab Saya Bisa Wisata Murah Tanpa Banyak Drama

14 Januari 2026
Rute KRL Duri-Sudirman, Simbol Perjuangan Pekerja Jakarta (Unsplash)

Rute KRL dari Stasiun Duri ke Sudirman Adalah Rute KRL Paling Berkesan, Rute Ini Mengingatkan Saya akan Arti Sebuah Perjuangan dan Harapan

15 Januari 2026
5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo Mojok.co

5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo

15 Januari 2026
Panduan Tidak Resmi Makan di Angkringan Jogja agar Tampak Elegan dan Santun

Panduan Tidak Resmi Makan di Angkringan Jogja agar Tampak Elegan dan Santun

13 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang
  • Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal
  • Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual
  • Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.