Cerita suram Semarang yang tidak asing bagi warlok, tapi jarang diketahui pendatang 

Cerita suram Semarang yang tidak asing bagi warlok, tapi jarang diketahui pendatang  Mojok.co

Cerita suram Semarang yang tidak asing bagi warlok, tapi jarang diketahui pendatang (unsplash.com)

Selama ini, narasi yang beredar soal Semarang seringnya cuma berkutat pada dua hal membosankan. Hawa panas atau banjir tahunan. Padahal, di balik keluhan tersebut, kota ini menyimpan lapisan-lapisan tersembunyi yang sulit dideteksi mata awam. Ada dinamika sosial dan celah realitas yang tak kasatmata bagi pendatang.

Faktanya, ada kesuraman yang bergelayut di balik keriuhan kota pelabuhan ini. Sebuah wajah yang jarang diendus dan perlahan mulai terlupakan. Sisi yang tak akan pernah tersingkap bagi mereka yang hanya mampir untuk mencari pesona wisata belaka.

#1 Cerita masa lalu memilukan di tempat yang biasa dipakai jogging di tengah kota Semarang

Sekarang, warga Semarang memang dimanjakan dengan kenyamanan Simpang Lima dan Taman Indonesia Kaya yang sudah sangat layak untuk sekadar nongkrong atau jogging santai. Namun, di balik wajah modern nan cantik itu, kedua tempat ini menyimpan jejak kelam yang tak banyak diketahui generasi masa kini.

Beberapa dasawarsa lalu, Simpang Lima Semarang saat malam hari pernah menjadi area operasi menjajakan diri bagi para remaja perempuan tanggung. Mereka terkenal dengan sebutan ciblek. 

Tak jauh berbeda, Taman Indonesia Kaya, yang dulu lebih akrab disapa Taman KB, juga pernah menjadi pusat denyut nadi malam yang cukup kontroversial.

Deretan waria yang mangkal dengan busana serba minim menjadi pemandangan yang lazim ditemui saat hari mulai gelap. Mereka tak jarang memanggil pengendara motor maupun pejalan kaki yang lewat dengan rayuan khas. 

Konon, transaksi seksual antara laki-laki hidung belang dan para pekerja seks di sekitar area taman saat petang sudah menjadi rahasia umum yang mewarnai malam-malam di pusat kota.

#2 Penculikan hewan peliharaan yang dijual dengan tak layak di Pasar Kartini

Di sudut Pasar Kartini Semarang, ada keresahan yang nyaris tak tersentuh pemerintah. Tempat ini seolah menjadi muara tragis bagi para pemilik hewan yang kehilangan peliharaan kesayangannya. Beberapa kesaksian menyebutkan bahwa hewan-hewan yang hilang secara misterius justru berakhir di sini.

Ironisnya, pemilik yang berniat menjemput pulang anabulnya sering kali dipaksa merogoh kocek dalam-dalam sebagai tebusan. Padahal bukti kepemilikan sudah ada di tangan. Lebih memilukan lagi, kondisi hewan yang diperdagangkan di sana jauh dari kata layak.

Di antara tumpukan sangkar yang sesak, anjing dan kucing harus bertahan hidup di tengah hawa pengap, dihajar terik matahari, hingga diterjang hujan. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya tumbang karena penyakit. Ini adalah potret mengerikan tentang bagaimana sebuah nyawa direduksi menjadi komoditas murahan di sebuah pasar yang seolah lupa bahwa setiap napas itu berharga.

#3 Banyak oleh-oleh kota lain yang diklaim asal Semarang

Sebenarnya, Semarang sudah punya jati diri kuliner yang cukup mentereng. Sayangnya, urusan oleh-oleh, Kota Lumpia malah tampak mendompleng popularitas makanan dari daerah tetangga. Tengok saja bandeng presto yang aslinya berasal dari Pati, wingko babat yang akarnya jauh di Lamongan, sampai kue sarang madu yang lahir di Jepara.

Lucunya, sederet kudapan ini sudah telanjur disulap jadi khas Semarang demi memikat wisatawan yang malas riset. Akhirnya, banyak pelancong terjebak dalam jebakan marketing yang rapi. Mereka pulang membawa tentengan berisi makanan yang sama sekali tidak punya ikatan sejarah dengan Semarang.

#4 Wisata malam di Semarang bukan pilihan, banyak kreak berkeliaran

Banyak pendatang bermimpi bisa menikmati syahdunya Semarang di bawah lampu jalanan sambil berkendara santai. Namun, kenyataannya jauh dari bayangan estetik tersebut. Alih-alih suasana damai, jalanan kota justru berubah menjadi medan tempur yang mencekam begitu hari mulai larut.

Pasalnya, rawan muncul para kreak atau gerombolan remaja tanggung yang gemar menebar teror dengan senjata tajam. Praktis, intimidasi ini menjadikan wisata malam di Semarang sebagai aktivitas yang sangat tidak disarankan bagi siapa pun yang masih sayang nyawa.

Kehidupan ibu kota Jawa Tengah ini memang jauh lebih kompleks daripada sekadar gagahnya Lawang Sewu. Membedah sisi-sisi gelap tadi bukan bertujuan untuk menebar ketakutan. Namun, jadi pengingat bahwa di balik wajah Kota Atlas yang terus bersolek, ada realitas yang tertinggal dan kisah pilu yang perlu disadari keberadaannya.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Pengakuan orang Semarang, lidah Jawa saya menyerah pada kuliner Jakarta yang nggak bikin selera.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

 

Exit mobile version