Kenangan hujan abu 2010 dan 2014 masih membekas. Bukan hanya di benak, tapi di bodi motor teman kuliah dulu. Juga kacamata hitam yang biasa saya pakai. Baret halus di body motor dan lensa itu seperti prasasti betapa gobloknya saya waktu itu. Sudah tahu abu vulkanik itu ‘keras’, saya malah mengelap dengan serampangan. Bersih sih, tapi bodi motor dan kacamata jadi seperti diamplas.
Hujan abu ringan pada 2018 berbeda. Kali ini saya lebih hati-hati, menghindari kebodohan beberapa tahun lalu. Belajarlah dari pengalaman, kata pepatah. Pengalaman itu mahal, kata orang bijak. Memang mahal karena mengorbankan motor yang harusnya mulus dan punya nilai lebih saat dijual kelak.
Dua hujan abu masif dan satu hujan abu ringan itu jadi pelajaran berharga. Dan, kali ini akan saya bagikan ilmu mahal ini. Setidaknya kalian tidak perlu mengulangi kebodohanku dan menulis saran seperti ini setelah bertahun-tahun.
Abu vulkanik itu tajam dan seperti semen
Ketika melihat hujan abu, mungkin kamu berfantasi seperti hujan salju. Partikel halus berwarna putih atau putih-kemerahan turun perlahan dengan lembut. Terlihat indah, bukan? Coba kamu mendongak, dan menatap setiap abu yang melayang jatuh dengan indah itu. Kamu akan jadi pasien klinik mata lewat jalur goblok.
Abu yang terlihat halus itu sebenarnya kaca vulkanik mikroskopis. Dia cukup kecil untuk jatuh dengan lembut, tapi cukup berat dan pejal untuk menancap di matamu. Sialnya, kaca vulkanik mikro ini punya sisi tajam. Cukup tajam untuk mengamplas body motor ataupun kornea matamu. Bahkan memberi kesan perih dan terbakar saat kena kulit.
Bukan hanya tajam, abu vulkanik juga bisa bereaksi. Abu vulkanik mengandung silika dan alumina aktif. Dia akan mudah terbang ketika kondisi kering. Tapi, jika bertemu air dan kapur, dia bereaksi lambat dan membentuk calcium silicate hydrate (C-S-H) dan calcium aluminate hydrate (C-A-H). Senyawa ini bisa kamu temukan dalam semen.
Mungkin kamu merasa aman untuk menyiram abu vulkanik dengan air. Menganggap tidak ada tumpukan kapur yang memicu reaksi tadi. Masalahnya kapur bisa ditemukan di mana saja. Entah dari debu sisa proyek, dinding rumah, kadang juga dari debu vulkanik itu sendiri. Saya temukan abu vulkanik menjadi seperti acian di dinding dan kap mobil yang disiram air tanpa dibersihkan dengan layak.
Air adalah teman, juga ancaman
Air mungkin bisa memicu reaksi menyebalkan tadi, tapi tetap jadi agen pembersih terbaik. Kuncinya sama seperti ilmu kedamaian jiwa, secukupnya saja. Ketika kamu ingin membersihkan abu vulkanik, tugasmu bukan menggelontor dengan air sebanyak mungkin. Tapi, memadatkan abu, mengumpulkan, dan membuangnya.
Kamu bisa menyiram kendaraan dengan air mengalir. Jangan menyiram langsung dengan jumlah banyak, karena bisa menyebabkan gesekan antara abu dengan lapisan cat. Setelah sejumlah besar abu larut, kamu bisa mengelap dengan kanebo basah. Syukur-syukur menggunakan kain microfiber kalau mobil dan motormu punya nilai estetika tinggi. Kalau motormu cuma Karisma X telat pajak, lap secukupnya saja.
Untuk membersihkan kacamata, kaca rumah, atau helm, caranya juga sama. Yang penting air mengalir tenang dan lap yang basah. Untuk kacamata dan helm, kain microfiber lembut adalah sobat terbaik. Kamu juga bisa memakai sampo mobil ataupun sabun cuci agar abu lebih mudah lepas. Yang penting jangan menggosok dengan emosi sebal oleh kelambanan pemerintah.
Jangan alirkan abu ke saluran air!
Jika ingin membersihkan abu di atap dan dinding rumah, menyiram perlahan dengan air sudah cukup membantu. Tapi, ada satu peringatan, jangan biarkan abu memenuhi saluran air! Apalagi pipa paralon tanam. Jangan lupa, abu vulkanik bisa menjadi semen setelah bereaksi. Abu yang mengeras bisa menyumbat saluran air dan mendangkalkan selokan.
Cara yang dulu dilakukan keluarga saya agak merepotkan, tapi aman dan efektif. Guyur atap dan area paving block dengan air hingga abu larut. Tapi, saat air menggenang, biarkan saja sampai sedikit kering dan abu memadat. Baru sekop abu itu dan masukkan dalam plastik atau karung.
Hati-hati saat membersihkan abu. Ketika kena air, abu vulkanik akan licin dan bisa membuatmu terpeleset. Buktinya saya yang harus mandi lumpur abu saat jadi relawan membersihkan abu vulkanik di kampus. Lantai kampus akhirnya bersih dari abu Gunung Kelud, dan saya terlihat goblok bermandikan lumpur.
Kamu bisa membuang abu ini di tempat sampah. Atau menumpuknya di lahan kosong sebagai urugan seperti yang dilakukan keluargaku. Tetangga kami juga mengumpulkan karung berisi abu di lahan kami, dan lumayan menghemat biaya urug.
Akan tetapi, bagi warga perkotaan yang tidak punya halaman, membuang di tempat sampah adalah solusi terbaik. Tentu petugas kebersihan bersedia membantu membuang sisa abu dengan cara aman. Jika tidak, pemerintah daerahmu yang bermasalah!
Membersihkan baju butuh kesabaran
Sekarang kita bahas perkara paling menyebalkan pasca hujan abu vulkanik. Pakaian sampai gorden pasti akan penuh abu. Jika dikibaskan, abu tadi akan berterbangan dan membahayakan tubuh. Tapi, jika dicuci serampangan, risikonya abu tidak larut atau malah merusak mesin cuci.
Cara yang dulu kami lakukan adalah mencuci sedikit demi sedikit. Juga jangan pelit air dan deterjen! Sebaiknya air buangan tidak langsung masuk ke saluran air. Tapi, seperti sebelumnya, dibiarkan mengendap dan dibuang dalam wadah. Seandainya masuk ke saluran pun, jumlah abu juga tidak sebanyak di kap mobil dan atap. Jadi relatif aman. Jangan lupa untuk membilas mesin cuci setelah dipakai.
Jika terlalu banyak, karakter abu yang bisa menjadi liat akan membuatnya tetap menempel atau malah menumpuk di pakaian. Jika menggunakan mesin cuci, jumlah abu terlalu banyak juga bisa membebani motor maupun merusak saluran.
Mandi bisa berisiko
Setelah membersihkan semua abu tadi, badanmu pasti juga ikut kotor. Tapi, jangan mandi seperti dikejar setoran. Guyur air sebanyak-banyaknya, terutama di area kepala dan rambut. Baru gunakan sabun mandi perlahan. Jika kamu menggosok badan terlalu semangat, ada potensi iritasi yang membuat mandi jadi berisiko.
Kuncinya adalah lakukan semua dengan kesabaran dan kelembutan. Ingat, materi abu vulkanik itu tajam dan bukan debu biasa seperti di atas lemari.
Sisanya tinggal amankan dirimu di bawah hujan abu. Pakai masker dan kacamata jika harus keluar. Kalau perlu pakai mantel seperti menghadapi hujan air. Tapi, lebih baik adalah tidak bepergian, tutup ventilasi rumah, dan baru keluar saat hujan abu berhenti.
Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 6 Tindakan Antisipasi jika Gunung Merapi Meletus.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.