Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya (Unsplash)

Belakangan ini istilah burnout kembali ramai dibicarakan setelah IDI menyebut kelelahan emosional sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi perilaku sebagian tenaga kesehatan di media sosial. Saya tidak kesulitan memahami penjelasan itu. Menjadi dokter atau tenaga kesehatan memang bukan pekerjaan ringan. Ada jam kerja panjang, tekanan mengambil keputusan, dan tanggung jawab yang menyangkut keselamatan orang lain.

Yang mengganggu pikiran saya justru hal lain. Setiap kali kata burnout muncul, perhatian publik seolah langsung tertuju pada profesi tertentu. Seakan-akan kelelahan mental baru layak dibahas ketika dialami pekerjaan yang dipandang bergengsi atau memiliki tanggung jawab besar. Padahal, dunia kerja jauh lebih luas daripada itu.

Coba datang ke minimarket saat malam hari. Kasir masih berdiri melayani pembeli yang datang silih berganti. Datang ke pabrik saat pergantian sif, buruh keluar dengan wajah lelah setelah mengulang pekerjaan yang sama selama berjam-jam. Lihat pengemudi ojek online yang tetap menunggu pesanan meski hujan turun sejak sore. Mereka mungkin tidak menyebut dirinya mengalami burnout. Kalimat yang lebih sering terdengar justru sangat sangat sederhana jauh dari istilah asing,”Capek.”

Burnout tidak pilih-pilih profesi

Kelelahan itu sering kali dianggap biasa karena terlalu sering kita lihat. Buruh yang lembur dianggap bagian dari target produksi. Karyawan toko yang harus tetap ramah kepada pelanggan dianggap konsekuensi pekerjaan. Guru honorer yang membawa pekerjaan sampai ke rumah dianggap bentuk pengabdian. Sedikit sekali yang bertanya apakah mereka masih baik-baik saja.

Bukan berarti tenaga kesehatan tidak pantas mendapat empati. Mereka tetap layak memperoleh lingkungan kerja yang lebih sehat dan dukungan ketika beban kerja sudah melampaui batas. Hanya saja, empati semestinya tidak berhenti di satu profesi. Burnout tidak pernah bertanya seseorang memakai jas dokter, rompi ojek online, seragam minimarket, atau sepatu keselamatan di pabrik.

Hal lain yang juga perlu dibedakan adalah antara memahami penyebab dan membenarkan tindakan. Seseorang bisa mengalami burnout, tetapi itu tidak otomatis membuat setiap perilakunya menjadi benar. Dokter tetap terikat kode etik. Guru punya tanggung jawab kepada murid. Polisi, wartawan, pegawai pelayanan publik, hingga pekerja sektor swasta juga memiliki standar profesional yang harus dijaga. Memahami penyebab bukan berarti menghapus tanggung jawab.

Persoalan dunia kerja, bukan hanya satu profesi

Mungkin persoalan terbesarnya bukan terletak pada siapa yang paling lelah. Hampir setiap pekerjaan memiliki tekanannya sendiri. Ada yang dibebani target, ada yang diburu waktu, ada yang menghadapi risiko keselamatan, ada pula yang harus terus tersenyum meski pikirannya sedang berantakan. Bentuknya berbeda, tetapi rasa lelahnya tidak bisa diadu.

Sudah saatnya burnout dipandang sebagai persoalan dunia kerja, bukan label yang hanya muncul ketika dialami profesi tertentu. Banyak orang pulang ke rumah dengan tenaga yang habis setiap hari tanpa pernah mendapat ruang untuk bercerita. Esok paginya mereka tetap berangkat kerja karena tagihan tidak ikut mengambil cuti.

Kalau empati memang ingin dibagikan, jangan pilih-pilih seragam lah. Sebab burnout tidak pernah memilih profesi kan. Kitalah yang sering memilih siapa yang pantas dikasihani dan siapa yang dianggap cukup kuat untuk terus menanggung semuanya sendiri.

Penulis: Riko Prihandoyo
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Memahami Sindrom Burnout: Kelelahan yang Sering Dianggap Wajar

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version