Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di hajatan desa, tetap saja muda-mudi sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
5 Agustus 2026
A A
Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di nikahan desa, tetap saja sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja Mojok.co

Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di nikahan desa, tetap saja sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Mempertanyakan fungsi bridesmaid dan groomsmen di hajatan desa. 

Sudah beberapa kali saya ikut sinoman di hajatan kampung. Tugasnya macam-macam. Mengangkat kursi, memasang tenda, mengantar konsumsi, mengisi galon, mengatur parkir dadakan, hingga membereskan piring setelah tamu pulang. Pokoknya, kalau ada pekerjaan yang tidak kelihatan, tapi harus selesai, biasanya jatuh ke tangan sinoman.

ADVERTISEMENT

Karena sering ikut membantu hajatan, saya mulai menyadari satu perubahan. Sekarang hampir setiap pengantin punya bridesmaid dan groomsmen. Tidak kecuali pengantin yang menggelar resepsi di kampung atau di desa. 

Seragamnya senada, sepatunya sama, makeup-nya rapi, dokumentasinya lengkap. Bahkan, sebelum akad dimulai, fotografer sudah sibuk mengarahkan mereka bergaya.

Saya tidak mempermasalahkan keberadaan mereka. Yang membuat saya heran adalah perbandingan antara biaya yang dikeluarkan dan manfaat yang benar-benar terasa saat hajatan berlangsung.

Tetap sinoman dan ibu-ibu dapur yang paling banyak membantu

Sementara pengantin mengeluarkan uang untuk membeli baju seragam, riasan, buket bunga, hampers, hingga biaya dokumentasi tambahan, pekerjaan yang membuat hajatan tetap berjalan masih dikerjakan orang-orang yang sama. 

Ibu-ibu dapur memasak sejak subuh. Bapak-bapak mendirikan tenda. Pemuda kampung mengangkat meja dan kursi. Sinoman mondar-mandir mengantar makanan tanpa sempat duduk.

Bridesmaid dan groomsman memang mendampingi pengantin. Namun, di banyak hajatan kampung yang saya ikuti, peran mereka lebih sering berhenti di situ. Saya pernah melihat belasan groomsman berdiri rapi di pelaminan. 

Baca Juga:

Orang desa paham prioritas, nggak tergoda beli mobil murah seharga motor, lebih pilih motor mahal dan bagus karena kebutuhan

Orang yang Menggelar Hajatan hingga Menutupi Jalan Umum Patut Dibenci, Bikin Susah!

Ketika konsumsi untuk tamu VIP kurang, yang berlarian mencari tambahan tetap sinoman. Saat galon habis, sinoman lagi yang mengganti. Ketika hujan datang dan air mulai masuk ke area prasmanan, bapak-bapak kampung yang sibuk memindahkan meja. Bridesmaid dan groomsman tetap sibuk menunggu giliran difoto.

Yang paling menarik justru setelah acara selesai. Bridesmaid dan groomsmen pulang lebih dulu karena sesi mereka sudah selesai. Sementara sinoman masih mengangkat kursi ke rumah tetangga, menggulung terpal, mengumpulkan gelas, dan mencuci peralatan yang dipinjam. Ibu-ibu dapur bahkan baru benar-benar bisa duduk ketika tamu terakhir pulang.

Jasa yang tidak terpotret kamera fotografer

Ironisnya, orang-orang yang paling capek justru hampir tidak pernah masuk album pernikahan.

Album pernikahan penuh dengan senyum bridesmaid, groomsman, keluarga inti, dan tamu penting. Hampir tidak ada foto ibu-ibu yang menggoreng ratusan potong ayam sejak pukul empat pagi. Hampir tidak ada foto bapak-bapak yang berkeringat memasang tenda sehari sebelumnya. Sinoman paling banter hanya tertangkap kamera secara tidak sengaja ketika sedang lewat membawa nampan.

Saya bukan sedang mengadu nasib sebagai mantan sinoman. Saya hanya merasa ada yang berubah dari cara kita memandang hajatan kampung.

Dulu, ukuran meriahnya hajatan adalah ramai orang membantu. Tetangga datang tanpa diminta. Pemuda kampung berebut mengangkat kursi. Ibu-ibu saling berbagi tugas di dapur. Gotong royong menjadi kebanggaan yang tidak perlu dipamerkan.

Sekarang, sebagian perhatian justru bergeser ke hal-hal yang tampil bagus di kamera fotografer. Seragam bridesmaid harus estetik. Buket harus serasi. Konten media sosial harus cantik.

Tidak ada yang salah dengan itu, tetapi kadang kita lupa bahwa hajatan tidak berjalan karena hasil foto yang bagus. Hajatan berjalan karena ada orang-orang yang mau bekerja ketika kamera tidak sedang mengarah kepada mereka.

Saya bahkan beberapa kali mendengar calon pengantin mengeluhkan biaya bridesmaid yang membengkak. Harus mencarikan kain, menyewa baju, memberi hampers, membayar makeup, bahkan kadang menanggung penginapan untuk teman yang datang dari luar kota. Jumlahnya bisa mencapai jutaan rupiah.

Padahal, tanpa bridesmaid sekalipun, akad tetap sah, resepsi tetap berlangsung dan tamu yang datang tetap dapat makan.

Yang tidak bisa digantikan justru ibu-ibu dapur, sinoman, dan para tetangga yang bergotong royong. Bayangkan kalau mereka memutuskan libur sehari. Hajatan bisa benar-benar berantakan.

Tidak perlu memaksakan bridesmaid dan groomsmen

Itu mengapa, setiap kali melihat rombongan bridesmaid dan groomsmen berjalan masuk dengan pakaian seragam yang serba senada, saya selalu teringat orang-orang yang tidak pernah mendapat sorotan. Orang yang bajunya penuh asap dapur, yang tangannya pegal mengangkat kursi, yang baru makan setelah semua tamu pulang.

Kalau saya diminta memilih siapa tokoh utama dalam hajatan kampung, jawabannya bukan bridesmaid atau groomsman. Tokoh utamanya tetap ibu-ibu dapur, bapak-bapak yang mendirikan tenda, dan para sinoman yang sejak pagi sampai malam memastikan semuanya berjalan tanpa banyak orang menyadari mereka ada. Mungkin mereka tidak pernah masuk foto utama pernikahan. Tapi tanpa mereka, pernikahan itu mungkin bahkan tidak akan sempat difoto.

Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Marriage is Scary Nyata, Anak Muda Sekarang Memang Takut pada Pernikahan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 Agustus 2026 oleh

Tags: bridesmaidDesagroomsmanpengantinPernikahanpernikahan di desasinoman
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa semester akhir Universitas Ahmad Dahlan, jurusan Sastra Indonesia. Pemuda asli Sleman. Penulis masalah sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta.

ArtikelTerkait

Bridesmaid di Pernikahan Nggak Wajib-wajib Amat, Kenapa Masih Drama Soal Seragam sih Terminal Mojok pager ayu

Pager Ayu, Sebuah Tradisi Mantenan Jawa yang Tergusur oleh Bridesmaid

11 September 2023
3 Hal Sederhana yang Dilakukan Tamu Undangan, tapi Bikin Sinoman Marah

3 Hal Sederhana yang Dilakukan Tamu Undangan, tapi Bikin Sinoman Marah

28 November 2023
Orang desa paham prioritas, nggak tergoda beli mobil murah seharga motor, lebih pilih motor mahal dan bagus karena kebutuhan Terminal

Orang desa paham prioritas, nggak tergoda beli mobil murah seharga motor, lebih pilih motor mahal dan bagus karena kebutuhan

15 Juli 2026
Cerita Penyintas Gangguan Mental yang Dapat Stigma Negatif di Masyarakat terminal mojok.co

Menikah Bukan Solusi Capek Kuliah

19 Maret 2020
Kebiasaan di Hajatan Pedesaan yang Nggak Masuk Akal kondangan jawa tengah

Kondangan di Desa Jawa Tengah adalah Kondangan Paling Perfect, Melayani Tamu Sepenuh Hati, Dilayani bak Raja!

13 Juli 2024
6 Tips Menyiasati Biaya Pernikahan agar Budget Tidak Membengkak dan Menumpuk Utang

6 Tips Menyiasati Biaya Pernikahan agar Budget Tidak Membengkak dan Menumpuk Utang

7 September 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

30 Juli 2026
13 Tabiat Mahasiswa KKN yang Dibenci Warga Desa, Jangan Dilakukan atau Kalian Jadi Musuh Bersama Mojok.co

Jangan bebani mahasiswa KKN dengan tugas yang harusnya dikerjakan negara

30 Juli 2026
Alasan modal Rp100 miliar lebih baik "disulap" jadi bisnis laundry daripada usaha yang ikuti tren Mojok.co

Alasan modal Rp100 miliar lebih baik “disulap” jadi bisnis laundry daripada usaha yang ikuti tren

2 Agustus 2026
Jalan Alternatif Jogjakarta-Purworejo tidak boleh dianggap remeh, tanjakan dan turunan yang panjang bisa merenggut nyawa

Jalan alternatif Jogja-Purworejo tidak boleh dianggap remeh, tanjakan dan turunan yang panjang bisa merenggut nyawa

2 Agustus 2026
Jambooland Tulungagung, tempat wisata yang perlahan kehilangan pesonanya Mojok.co

Jambooland Tulungagung, tempat wisata yang perlahan kehilangan pesonanya

31 Juli 2026
Bodoh! Ngapain iuran 100 ribu demi mengundang sound horeg (Pexels)

Saat Jakarta terasa lebih tenang dibanding mudik ke Jawa Timur gara-gara teror pawai sound horeg Agustusan

29 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.