Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kepada Akun Penjual Properti di Bogor: Stop Gunakan Embel-embel Slow Living, Sudah Nggak Pas!

Nasrulloh Alif Suherman oleh Nasrulloh Alif Suherman
30 Juli 2025
A A
Kepada Akun Penjual Properti di Bogor: Stop Gunakan Embel-embel Slow Living, Sudah Nggak Pas!

Kepada Akun Penjual Properti di Bogor: Stop Gunakan Embel-embel Slow Living, Sudah Nggak Pas! (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kepada akun penjual properti di Bogor yang kerap muncul di iklan media sosial, tolong jangan gunakan embel-embel “slow living” lagi kepada calon pembeli. Sebagai orang yang kini tinggal di Bogor dan sebelumnya juga pernah tinggal di luar Bogor, embel-embel tersebut mulai teraasa nggak efektif, bahkan menyebalkan.

Sudah tahun 2025 pakai embel-embel hidup slow living di Bogor sangat ketinggalan zaman. Jadi, izinkan saya memberi tahu beberapa alasan mengapa embel-embel slow living sudah nggak akan laku lagi.

Bogor sudah mulai ramai, tak lagi sepi seperti dulu

Kalau ngomong hidup di Bogor itu bisa slow living 20 tahun yang lalu, hal ini mungkin bisa dipercaya. Bogor 20 tahun lalu masih sepi dan populasinya belum sebanyak sekarang. Belum banyak juga pekerja Jakarta yang membeli rumah di sini. Tetapi Bogor hari ini sangat berbeda.

Kota Hujan sudah terlalu ramai dan tak sesepi dulu. Gimana bisa hidup slow living dengan kondisi seperti ini? Bukankah syarat hidup slow living adalah kondisi tempat yang sepi dan cenderung berjalan lambat? Kalau ramai dan semuanya terburu-buru menuju Jakarta, apanya yang slow living?

Polusi udara yang sudah mulai memenuhi Bogor

Kalau setiap pulang dari tempat kerja kamu menemui polusi sama seperti di Jakarta, apa bedanya? Masa tinggal di tempat slow living masih tidak bisa terhindar dari polusi udara? Bogor hari ini sudah penuh dengan asap knalpot busuk dari kendaraan yang setiap hari semakin banyak.

Kalau dulu sih mungkin kamu masih bisa bangun pagi menghirup udara segar Bogor sambil ngomong, “Wah, sejuk dan segar sekali tempat tinggalku ini, ya.” Lha, kalau sekarang? Boro-boro! Coba sana tarik napas di pinggir jalan raya. Niscaya kamu akan disambut asap knalpot dari angkot lagi ngetem yang jarang servis.

Terus satu lagi. Orang-orang Parung, Rumpin, dan sekitarnya pasti tersinggung kalau kamu ngomong Bogor nggak ada polusi!

Bawa-bawa view gunung segala padahal kehalang asap, kabel, dan tower 

Nggak usah juga bawa-bawa view gunung sebagai bahan jualan, deh. Emang sih, Bogor itu sangat dekat dengan Gunung Salak dan Pangrango. Setiap pagi saat cuaca lagi cerah, gunung langsung terlihat. Tapi, mohon maaf banget, sekali lagi saya katakan kalau cuaca lagi cerah. Sekarang, Bogor itu anti banget dengan cuaca cerah. Kendaraan semakin banyak, polusi menutup pemandangan gunungnya, Bos.

Baca Juga:

4 Alasan Orang Jakarta Lebih Sering Liburan ke Bogor daripada ke Pulau Seribu

Mojokerto, Opsi Kota Slow Living yang Namanya Belum Sekencang Malang, tapi Ternyata Banyak Titik Nyamannya

Belum lagi banyak tiang kabel listrik dan tower provider yang semakin banyak karena cluster mulai banyak di sini. Jadi, tetap masuk ke kategori slow living atau nggak kira-kira? Kalau pun gunungnya terlihat, memang masih asik ya dengan kondisi macet, polusi, banyak kabel, dan tower.

Mengumbar janji slow living, tapi harga properti bikin dompet jadi nggak slow

Dengan banyaknya pembangunan klaster perumahan, harga properti di Kota Hujan ikutan naik. Kalu kamu merasa harga properti di Bogor ini cocok untuk jiwa slow living-mu, pikir-pikir lagi. Bisa jadi perekonomianmu juga langsung jadi slow plus living dalam kemiskinan. Alias, harga properti di sini sudah mulai mahal!

Kalau kamu membayangkan hidup santai dengan pekarangan yang luas, buang jauh-jauh mimpi itu. Tebelin dulu dompetmu sebelum beli rumah dengan pekarangan luas di sini. Sudah harga tanah dan rumah di sini mulai mahal, fasilitasnya kadang nggak sebanding dengan harganya. Masa beli rumah tapi akses jalannya masih tanah merah, berlubang, atau bahkan berkubang air saat hujan?

Bisa sih hidup slow living di Bogor, syarat dan ketentuan berlaku 

Kalau kamu hidup di pinggiran Bogor, benar-benar pinggiran seperti di bawah kaki Gunung Salak, mungkin masih ada harapan untuk slow living. Daerah perbatasan Cianjur dan Sukabumi kayak Tamansari, Cijeruk, Ciapus, dan sekitarnya ini masih oke lah buat slow living. Suara jangkrik masih kedengeran dibanding knalpot motor.

Akan tetapi ini dengan catatan kamu nggak kerja di Jakarta dan sudah punya tabungan sampai pensiun nanti. Kalaupun kamu kerja, paling mentok kerja remote atau punya usaha di Bogor. Soalnya kalau kamu tinggal di daerah yang saya bilang tadi tapi masih kerja ke Jakarta ya capek banget. Daerah ini jauh banget dari mana-mana.

Lagi pula slow living itu lebih ke gaya hidup nggak, sih? Kalaupun kamu tinggal di daerah Duren Sawit tapi hidup santai dan sederhana, bukannya itu juga bisa disebut hidup slow living, ya? Tapi kalau kamu masih percaya dengan embel-embel slow living di Bogor ya banyak bersabar saja. Siapkan mentalmu karena Kota Hujan tak seindah fyp TikTok.

Buat para developer juga ke depannya lebih baik menjual kejujuran saja. Jangan dikira dengan embel-embel slow living banyak orang tertarik pindah dan tinggal di Bogor. Calon pembeli juga pasti tahu sendiri kan kondisi Bogor sekarang kayak gimana. Nggak usahlah terlalu berlebihan.

Penulis: Nasrulloh Alif Suherman
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Calon Maba IPB University Jangan Harap Tinggal Nyaman di Bogor, Hanya Sengsara yang Akan Kamu Dapatkan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 30 Juli 2025 oleh

Tags: bogorslow living
Nasrulloh Alif Suherman

Nasrulloh Alif Suherman

Alumni S1 Sejarah Peradaban Islam UIN Jakarta. Penulis partikelir di selang waktu. Sangat menyukai sejarah, dan anime. Kadang-kadang membuat konten di TikTok @waktuselang.

ArtikelTerkait

Dramaga, Kecamatan Paling Menyedihkan di Kabupaten Bogor. Semua Serba Tanggung di Sini

Dramaga, Kecamatan Paling Menyedihkan di Kabupaten Bogor. Semua Serba Tanggung di Sini

10 Mei 2025
Cinere, Kecamatan di Depok yang Vibes-nya Lebih Jaksel ketimbang Depok kerja di jakarta

Cinere, Tempat Terbaik bagi Orang yang Bekerja di Jakarta, Akses Mudah, Harga Hunian Masih (Lumayan) Masuk Akal

10 Agustus 2024
Membayangkan Apa yang Akan Terjadi Jika di Bogor Tidak Ada Angkot terminal di bogor

Terminal di Bogor Masih Belum Berfungsi Maksimal: Eksistensinya Antara Ada dan Tiada

17 Februari 2025
Magelang Bukan Tempat yang Cocok untuk Slow Living (Unsplash)

Magelang Bukan Tempat yang Cocok untuk Slow Living, Tolong Hentikan Cita-citamu Itu

21 April 2025
Meluruskan Stereotipe Keliru tentang Bogor yang Ada di Benak Orang Palembang Mojok.co

Meluruskan Stereotipe Keliru tentang Bogor yang Ada di Benak Orang Palembang

6 Oktober 2024
Merasakan Slow Living di Nabire, Ibu Kota Provinsi Papua Tengah yang Cukup Menguras Kantong

Merasakan Slow Living di Nabire, Ibu Kota Provinsi Papua Tengah yang Cukup Menguras Kantong

7 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pemasangan Lampu Merah di Persimpangan Purawisata Jogja itu Keputusan Konyol, Alih-alih Lancar, Malah Makin Macet!

Pemasangan Lampu Merah di Persimpangan Purawisata Jogja itu Keputusan Konyol, Alih-alih Lancar, Malah Makin Macet!

6 Januari 2026
Seharusnya Suzuki Melakukan 3 Hal Ini Supaya Motornya Diminati Banyak Orang

Seharusnya Suzuki Melakukan 3 Hal Ini Supaya Motornya Diminati Banyak Orang

10 Januari 2026
4 Wisata Semarang yang Bisa Bikin Kamu Kapok Jika Salah Momen Berkunjung

Jangan Ngaku Pengusaha Hebat kalau Belum Sukses Jualan di Semarang!

7 Januari 2026
Pengalaman Menginap di Hotel Kapsul Bandara Soekarno Hatta (Unsplash)

Pengalaman Menginap di Hotel Kapsul Bandara Soekarno-Hatta, Hotel Alternatif yang Memudahkan Hidup

11 Januari 2026
Dominasi Motor Honda Akan Segera Berakhir, sebab Motor Keluaran Baru Yamaha Harus Diakui Lebih Berkualitas!

Dominasi Motor Honda Akan Segera Berakhir, sebab Motor Keluaran Baru Yamaha Harus Diakui Lebih Berkualitas!

9 Januari 2026
Daihatsu Ceria, Mobil Mungil yang Bikin Pengemudinya Benar-benar Ceria  Mojok.co

Daihatsu Ceria, Mobil Mungil yang Bikin Pengemudinya Benar-benar Ceria 

8 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Jombang Kota Serba Nanggung yang Bikin Perantau Bingung: Menggoda karena Tenteram, Tapi Terlalu Seret buat Hidup
  • “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 
  • Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata
  • Sensasi Pakai MY LAWSON: Aplikasi Membership Lawson yang Beri Ragam Keuntungan Ekslusif buat Pelanggan
  • Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19
  • Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.