Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

BKKBN, Stop Berpikir Bahwa Perempuan Adalah Pabrik Bayi!

Fatimatuz Zahra oleh Fatimatuz Zahra
2 Juli 2024
A A
BKKBN, Stop Berpikir Bahwa Perempuan Adalah Pabrik Bayi!

BKKBN, Stop Berpikir Bahwa Perempuan Adalah Pabrik Bayi! (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Baru-baru ini viral ucapan BKKBN Hasto Wardoyo yang mengatakan bahwa BKKBN menargetkan 1 perempuan untuk memiliki minimal 1 anak perempuan. Hal ini dinilai dapat meningkatkan angka kelahiran yang saat ini tengah mengalami penurunan.

“Kami punya target 1 perempuan rata-rata melahirkan 1 anak perempuan,” kata Hasto mengutip Kompas.com.

Ucapannya tersebut lantas menjadi bulan-bulanan warganet. Bukan saja karena dinilai tak masuk akal untuk menargetkan kelahiran anak dengan gender tertentu. Tetapi juga karena negara melalui BKKBN seolah memandang perempuan hanya sebagai pabrik bayi. Ungkapan Hasto tersebut memang tak layak diucapkan oleh kepala lembaga yang salah satu tugasnya adalah meningkatkan kualitas SDM.

Perempuan yang sejak kecil sudah banyak terdoktrin untuk menjadi ibu tanpa pilihan untuk menolak, sekarang justru semakin dipaksa oleh lembaga negara. Perempuan sama sekali tidak dihargai sebagai makhluk yang berhak atas keputusan ketubuhannya. Melainkan hanya dinilai sebagai mesin pencetak calon buruh murah demi memenuhi target-target negara. Bahkan di tengah isu menurunnya angka kelahiran, angka pengangguran juga masih tak terbendung, yang artinya negara masih gagal memberikan jaminan hidup layak bagi seluruh  masyarakatnya, ini kok malah disuruh nambah anak.

BKKBN memperkeruh air yang sudah butek

BKKBN yang seharusnya memahami dinamika sosial di tengah keluarga-keluarga di Indonesia. Bukannya mengedukasi keluarga supaya menerapkan nilai-nilai kesetaraan, yang ada malah seolah memperkeruh sungai yang sudah tercemar.

Bukan sekali dua kali pejabat negara melontarkan pernyataan tak sensitif gender. Sebelumnya, Menkominfo Budi Arie juga sempat memberikan stereotip gender terhadap kasus pembunuhan akibat judi online. Kali ini kembali terulang dengan lebih memalukan, karena pernyataan tersebut keluar dari Kepala BKKBN yang seolah berlindung di balik kewenangannya untuk mengatur hak reproduksi perempuan atas nama peningkatan populasi.

Alih-alih menjadi solusi dari permasalahan penurunan angka kelahiran, ungkapan Hasto tersebut hanya menunjukkan betapa BKKBN tidak memahami akar permasalahan dan tidak memiliki sensitivitas gender yang baik sebagai lembaga negara. Pernyataan tersebut mengabaikan fakta terhadap minimnya intervensi negara dalam menjamin keamanan dan kesejahteraan perempuan. Pernyataan tersebut juga melanggengkan stigma bahwa perempuan memang hanya bertugas melahirkan anak. Alih-alih berkoar meningkatkan kualitas SDM, tampaknya SDM di BKKBN masih perlu banyak pendidikan terkait keluarga. Juga, belajar berbagai isu yang menyertainya supaya tidak ada lagi cara berpikir shortcut dalam menyelesaikan masalah. Seperti meminta masyarakat melahirkan lebih banyak anak perempuan.

Pernyataan Kepala BKKBN tersebut juga menunjukkan bahwa dirinya (dan barangkali lembaganya) tak memahami alasan di balik penurunan angka kelahiran. Padahal ada banyak faktor yang dapat menjadi alasan terjadinya penurunan angka kelahiran tersebut. Misalnya faktor kerentanan ekonomi, tingginya angka stunting, sulit dan mahalnya akses pendidikan dan kesehatan untuk anak, krisis ruang hidup, minimnya jaminan hidup layak, stunting, disfungsi keluarga, siklus kekerasan domestik dan lain-lain.

Baca Juga:

Catatan Program KB di Perayaan Hari Kartini sebagai Bentuk Ketidaksetaraan Gender

Hari Keluarga Berencana: Punya Banyak Anak itu Rencana Juga, kan?

Harusnya lebih kritis

BKKBN juga seharusnya lebih kritis dalam memahami persoalan. Misalkan dengan mempertanyakan alasan populasi perempuan usia produktif enggan memiliki (banyak) anak. Faktor minimnya dukungan sosial seperti beban pengasuhan yang masih kerap dijadikan tanggung jawab ibu seorang diri dapat juga digali lebih lanjut oleh BKKBN. Padahal kita mengenal baik sebuah adagium yang menyebut bahwa butuh satu kampung untuk membesarkan seorang anak, namun fakta di lapangan berbicara lain. Hal ini hendaknya juga menjadi perhatian khusus BKKBN, alih-alih memberi arahan sembari memakai kacamata kuda.

Jika masalah-masalah kompleks tersebut dapat dipahami oleh BKKBN, saya yakin ujaran ngawur tanpa perhitungan untuk serta merta menganjurkan masyarakat menambah anak perempuan tidak akan terucap. Sayangnya, berharap pejabat di negeri ini untuk benar-benar bekerja melalui kajian masalah yang komprehensif sepertinya nyaris mustahil diwujudkan.

Penulis: Fatimatuz Zahra
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Terima Kasih Kampanye BKKBN, Kini Kami Punya Alasan Enggan Menikah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 Juli 2024 oleh

Tags: angka kelahiranBKKBNdiskriminasi wanituisu genderisu perempuan
Fatimatuz Zahra

Fatimatuz Zahra

Sedang belajar tentang manusia dan cara menjadi manusia.

ArtikelTerkait

Catatan Program KB di Perayaan Hari Kartini Sebagai Bentuk Ketidaksetaraan Gender terminal mojok

Catatan Program KB di Perayaan Hari Kartini sebagai Bentuk Ketidaksetaraan Gender

21 April 2021
Hari Keluarga Berencana MOJOK.CO

Hari Keluarga Berencana: Punya Banyak Anak itu Rencana Juga, kan?

29 Juni 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Olahan Topak yang Jarang Dapat Sorotan padahal Asli Madura dan Sulit Ditemukan di Daerah Lain Mojok.co

3 Olahan Topak yang Jarang Dapat Sorotan padahal Asli Madura dan Sulit Ditemukan di Daerah Lain

21 Februari 2026
Pulang ke Lembata NTT Setelah Lama Merantau di Jawa, Kaget karena Kampung Halaman Banyak Berubah Mojok.co

Momen Pulang ke Lembata NTT Setelah Sekian Lama Merantau di Jawa Diliputi Rasa Kaget, Kampung Halaman Banyak Berubah

25 Februari 2026
Pengalaman Bertahun-tahun Naik Honda Revo, Motor Paling Nggak Ribet dan Tahan Banting yang Pernah Ada Mojok.co

Pengalaman Bertahun-tahun Naik Honda Revo, Motor Paling Nggak Ribet dan Tahan Banting yang Pernah Ada

21 Februari 2026
Flyover Kalibanteng: Labirin Aspal yang Lebih Ruwet daripada Alasan Putus Mantan Saya

Flyover Kalibanteng: Labirin Aspal yang Lebih Ruwet daripada Alasan Putus Mantan Saya

25 Februari 2026
Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah (Wikimedia Commons)

Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah

24 Februari 2026
5 Barang Private Label Indomaret yang Ternyata Lebih Unggul Dibanding Merek-merek yang Sudah Besar Mojok.co

5 Produk Private Label Indomaret yang Ternyata Lebih Unggul Dibanding Merek yang Sudah Besar

25 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman
  • Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga
  • Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT
  • Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi
  • Bapak Kerja Keras 60 Jam agar Keluarga Tak Hidup Susah, Ternyata bagi Anak Itu Tak Cukup untuk Disebut “Kasih Sayang”
  • Pakai Samsung Terintimidasi User iPhone, Tak Berpaling karena Lebih Berguna dari iPhone yang Memperdaya Penggunanya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.