Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Bioskop CGV pun Tak Bisa Menyelamatkan Transmart yang Pelan-pelan “Mendatangi Ajal”: Bioskop Rame, tapi Tak Ada yang Belanja

Alifah Ayuthia Gondayu oleh Alifah Ayuthia Gondayu
28 Mei 2025
A A
Bioskop CGV pun Tak Bisa Menyelamatkan Transmart yang Pelan-pelan "Mendatangi Ajal": Bioskop Rame, tapi Tak Ada yang Belanja

Bioskop CGV pun Tak Bisa Menyelamatkan Transmart yang Pelan-pelan "Mendatangi Ajal": Bioskop Rame, tapi Tak Ada yang Belanja

Share on FacebookShare on Twitter

Pada akhirnya, bioskop CGV pun tak bisa menyelamatkan Transmart, yang pelan-pelan kehabisan nafas, menunggu semuanya menghilang tanpa bekas

Transmart, atau yang dulu dikenal sebagai Carrefour, pernah menjadi oase bagi keluarga urban kelas menengah yang ingin berbelanja bulanan, makan siang dan kadang cuci mata sambil ngadem di mall yang tidak terlalu mewah, tapi cukup komplit. Di masa jayanya, Transmart mengusung konsep one stop shopping: dari buah apel sampai mesin cuci, dari nugget sampai boneka Pokemon raksasa, semua bisa ditemukan di satu tempat, sangat praktis.

Namun, semua yang hidup akan meredup. Transmart sekarang lampunya masih menyala, tapi kosong, hening, dan agak menyeramkan. Rak-rak kosong seperti kena panic buying tapi sayangnya bukan karena permintaan tinggi, melainkan karena tidak diisi lagi.

Saya sendiri punya kenangan cukup hangat, dulu saat baru pertama kali buka, Transmart menyumbang kemacetan di area sekitarnya. Pengunjung membludak, hingga parkiran tak cukup menampung kendaraan. Alhasil parkiran mengular hingga ke pinggir jalan.

Tapi, terakhir saya ke Transmart, sekitar dua minggu lalu sebelum menulis artikel ini, suasananya berubah total. Area mainan anak kosong melompong hanya tersisa wahana yang tidak dinyalakan menambah kesan seram. Saya menyusuri setiap lantai di Transmart, selama itu pula saya hanya berpapasan dengan satu dua orang pengunjung yang sedang menuju bioskop CGV.

Di situ saya cuma bisa mikir: Transmart, kamu dulu ramai banget, loh. Kok bisa begini?

Drama ritel di era belanja online

Pola belanja masyarakat telah mengalami mutasi. Bukan cuma berubah, tapi sudah berevolusi. Jika dulu kita harus mendorong troli dan berkeliling lorong-lorong rak hanya untuk membeli kaus oblong yang pas sesuai ukuran tubuh kita, sekarang cukup klik sana-sini di aplikasi e-commerce, tinggal tunggu diantar kurir. Kepraktisan ini bukan main, kita bisa belanja sambil rebahan.

Mau bandingkan harga? Ya tinggal geser layar. Cari diskon? Tinggal pakai voucher. Nggak perlu antre panjang di kasir, nggak perlu nyari parkiran sampai muter tujuh kali. Dan yang paling penting, nggak perlu mandi dulu.

Baca Juga:

Pengalaman Nonton di CGV J-Walk Jogja: Murah tapi Bikin Capek

Transmart Pabelan: Mall Besar yang Sekarang Hidup Segan, Mati (Sepertinya) Sudah Pasti

Di tengah revolusi itu, Transmart tampak terengah-engah. Masih bertahan, tapi dengan daya tarik yang semakin pudar. Kalau toko fisik seperti Transmart ingin bertahan, mereka nggak bisa hanya mengandalkan diskon dadakan atau spanduk “cuci gudang”. Mereka harus menciptakan alasan yang kuat biar orang rela datang, bukan cuma karena butuh, tapi karena ingin. Nah, di sini tantangannya.

Diskon yang terasa seperti privilege sosial

Salah satu keluhan yang sering terdengar dari mulut konsumen adalah soal harga barang di Transmart yang katanya agak bikin dompet ngos-ngosan. Bukan tanpa alasan, kalau dibandingkan dengan minimarket tetangga, supermarket lokal atau toko madura di pojok gang, harga barang di Transmart memang cenderung “naik kelas.” Yang bedanya itu nggak cuma seribu-dua ribu aja.

Yang bikin lebih sedih adalah momen ketika kita melihat spanduk diskon besar-besaran dipasang dengan megah, warna merah mencolok, huruf kapital semua dan ada tulisan “DISKON 50%” yang bikin hati senang. Tapi begitu kita baca catatan kecil di bawahnya tertulis: hanya untuk pemegang kartu kredit Bank Mega.

Nah lho, jadi selama ini yang bukan pemegang kartu Bank Mega itu dianggap siapa? Warga kelas dua? Konsumen tidak resmi? Tamu tak diundang? Fenomena ini tentu bikin banyak orang merasa asing di rumah sendiri. Bayangkan, datang ke Transmart dengan niat belanja mingguan, sudah antri panjang, sudah bawa list belanja dari istri. Eh, ternyata hampir semua promo hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang yang memegang ‘kartu sakti’ itu.

Lucunya, promosi semacam ini justru menciptakan eksklusivitas yang menjauhkan Transmart dari esensi utamanya: menjadi tempat belanja untuk semua kalangan. Alih-alih jadi supermarket rakyat, dia malah terkesan seperti lounge bandara, yang boleh masuk cuma yang punya akses khusus. Padahal kalau mau jujur, yang bikin supermarket bisa besar ya karena konsumen kecil, yang belanjanya nggak seberapa tapi rutin. Yang suka beli roti diskonan, mie instan 5 bungkus, dan kental manis.

Dari sudut pandang bisnis, kolaborasi dengan Bank Mega itu menguntungkan. Tapi dari sisi kenyamanan konsumen, ya nggak semua orang punya atau mau punya kartu kredit. Jadi, ya wajar kalau mereka merasa dikecewakan oleh sistem promo yang pilih-pilih ini.

Bioskop CGV: magnet terakhir yang menghidupkan jantung Transmart

Kalau Transmart itu ibarat tubuh manusia, maka biopskop CGV bisa dibilang jantungnya yang masih berdetak kencang, walau bagian tubuh lain sudah mulai kaku. Berbeda jauh dengan area retail-nya, bioskop CGV justru masih ramai. Masih ada suara bisik-bisik excited dari anak muda yang ngantre tiket dan masih ada pasangan yang ribut milih kursi paling nyaman buat nonton.

Fenomena ini menarik. Bioskop CGV sering ngasih promo tiket seolah mereka tahu betul bahwa dunia hiburan, hal ini sangat dibutuhkan. Tapi ada satu hal yang jadi ironi kecil di sini: pengunjung CGV ini kebanyakan tipe “datang-nonton-pulang”. Begitu film selesai, mereka langsung bubar jalan, turun eskalator, ke parkiran dan ngilang. Tenant-tenant lain di dalam Transmart? Ya, cuma lewat. Bahkan kadang nggak dilirik sama sekali.

Ini jelas jadi catatan penting. Sebab trafik pengunjung yang lumayan tinggi di area bioskop CGV ternyata nggak otomatis berbanding lurus dengan transaksi ritel. CGV berhasil jadi magnet, tapi magnetnya bersifat satu arah. Menarik orang tapi nggak bikin mereka lengket, Transmart berharap efek domino, yang terjadi malah efek “monopoli” semua perhatian terpusat ke satu titik.

Akhirnya, bioskop CGV kayak anak sulung yang paling sukses di keluarga. Sementara adik-adiknya alias si tenant lain cuma bisa melihat iri dari kejauhan, sambil berharap satu dua penonton film sudi mampir, walau cuma buat beli air mineral.

Penulis: Alifah Ayuthia Gondayu
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Alasan Saya Malas Belanja ke Transmart Maguwo Jogja yang Pernah Dipuja-puja Warga

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 Mei 2025 oleh

Tags: bioskop CGVToserbaTransmart
Alifah Ayuthia Gondayu

Alifah Ayuthia Gondayu

Jika tidak ada tempat untuk mendengar, ceritakan lewat tulisan.

ArtikelTerkait

Pengalaman Nonton di CGV J-Walk Jogja: Murah tapi Bikin Capek

Pengalaman Nonton di CGV J-Walk Jogja: Murah tapi Bikin Capek

4 Desember 2025
4 Alasan Saya Malas Belanja ke Transmart Maguwo Jogja yang Pernah Dipuja-puja Warga mojok.co

4 Alasan Saya Malas Belanja ke Transmart Maguwo Jogja yang Pernah Dipuja-puja Warga

5 Juli 2024
Barang-barang yang Tidak Saya Sangka Borma Toserba Bandung Menjualnya Mojok.co

Barang-barang yang Tidak Saya Sangka Dijual di Borma Toserba Bandung, Ada Suku Cadang Motor hingga Tanah Lembang

23 Februari 2025
Transmart Pabelan Solo: Dulu Digdaya, Kini Menatap Muram-muram Duka

Transmart Pabelan Solo: Dulu Digdaya, Kini Menatap Muram-muram Duka

21 September 2023
Bravo Supermarket, Tempat Belanja Underrated yang Bisa Menyaingi Transmart

Bravo Supermarket, Tempat Belanja Underrated yang Bisa Menyaingi Transmart

9 Januari 2024
5 Tempat Belanja di Jogja yang Lebih Murah ketimbang Transmart Terminal Mojok

5 Tempat Belanja di Jogja yang Lebih Murah ketimbang Transmart

26 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Malang, sebab Selalu Dilatih dengan Menghindari Jalanan Berlubang!

Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Malang, sebab Selalu Dilatih dengan Menghindari Jalanan Berlubang!

11 Januari 2026
6 Alasan Jatinangor Selalu Berhasil Bikin Kangen walau Punya Banyak Kekurangan Mojok.co

6 Alasan Jatinangor Selalu Berhasil Bikin Kangen walau Punya Banyak Kekurangan 

12 Januari 2026
Pasar Gedang Lumajang, Pusat Ekonomi Warga Lokal yang Menguji Kesabaran Pengguna Jalan

Pasar Gedang Lumajang, Pusat Ekonomi Warga Lokal yang Menguji Kesabaran Pengguna Jalan

6 Januari 2026
Sales: Pekerjaan yang Tidak Pernah Dicita-Citakan, tapi Sulit untuk Ditinggalkan

Sales: Pekerjaan yang Tidak Pernah Dicita-Citakan, tapi Sulit untuk Ditinggalkan

8 Januari 2026
Honda Civic Genio: Tampan, Nyaman, Harga 30 Jutaan, tapi Menuntut Kesabaran Mojok.co

Honda Civic Genio: Tampan, Nyaman, Harga 30 Jutaan, tapi Menuntut Kesabaran

6 Januari 2026
Pasar Dupak Magersari, Wujud Perjuangan Orang Surabaya (Unsplash)

Pasar Dupak Magersari: Potret Nyata Saat Kota Surabaya Tidak Menyediakan Ruang, Warga Pinggiran Membuat Ruangnya Sendiri

6 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Saya Memutuskan Kuliah di Jogja Bukan Hanya untuk Cari Ilmu, tapi Juga Lari dari Rumah
  • 5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku
  • Lulusan S2 Jogja Ogah Menerima Tawaran Jadi Dosen, Mending Ngajar Anak SD di Surabaya: Gambaran Busuk Dunia Pendidikan Indonesia
  • Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi
  • Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan Kuliah S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa
  • Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.