Salah satu hal yang saya syukuri selama tinggal di Tulungagung adalah suasana keberagamaan yang relatif nyaman. Sebagai warga yang beragama non-Islam, saya tidak merasa kehidupan beragama harus selalu diwarnai ketegangan. Ibadah bisa dijalankan tanpa harus merasa menjadi kelompok yang aneh. Bagi saya, rasa aman seperti ini justru sangat berharga.
Tentu Tulungagung bukan daerah yang bebas dari persoalan agama. Penelitian tentang kehidupan keagamaan di Tulungagung juga mencatat adanya persoalan dan konflik dalam relasi agama dan kepercayaan. Namun, pengalaman sehari-hari tetap memberi kesan bahwa ruang hidup antarumat beragama relatif terbuka. Perbedaan tidak otomatis berubah menjadi permusuhan.
Di Tulungagung, rumah ibadah bukan tempat yang harus ditakuti
Hal lain yang saya syukuri adalah tidak menjadikan rumah ibadah sebagai sumber ketakutan. Saya tidak terbiasa melihat umat non-Islam harus menghadapi pembubaran paksa ibadah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Aktivitas ibadah tetap bisa berjalan dengan suasana yang relatif aman. Bahkan, kepolisian secara rutin melakukan pengamanan ibadah di sejumlah gereja di Tulungagung.
Bagi saya, ini bukan sesuatu yang sepele. Beribadah seharusnya tidak terasa seperti sedang melakukan aktivitas yang mencurigakan. Datang ke gereja, berdoa, dan pulang seharusnya menjadi rutinitas biasa. Tidak perlu ada drama karena perbedaan keyakinan.
Toleransi sebenarnya sederhana. Orang lain beribadah dengan caranya, sementara saya beribadah dengan keyakinan saya. Tidak perlu saling mengganggu hanya karena cara berdoanya berbeda. Justru kedewasaan masyarakat terlihat ketika perbedaan agama bisa berjalan berdampingan.
Pemerintah Kabupaten Tulungagung dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) juga pernah menggelar sosialisasi mengenai kerukunan umat beragama dan pendirian rumah ibadat. Kegiatan tersebut menekankan pentingnya toleransi, anti-kekerasan, dan pemeliharaan kerukunan. Artinya, persoalan kerukunan memang dipandang sebagai sesuatu yang perlu terus dirawat.
Sering dianggap biasa saja
Kadang hal seperti ini baru terasa penting setelah melihat daerah lain menghadapi persoalan. Ada umat yang harus berhadapan dengan penolakan ketika hendak membangun rumah ibadah. Ada pula kegiatan ibadah yang terganggu karena tekanan kelompok tertentu. Ketika pengalaman seperti itu tidak menjadi keseharian di tempat tinggal sendiri, rasanya memang patut disyukuri.
Saya justru melihat toleransi dari hal-hal yang sederhana. Saya tidak ingin mengatakan Tulungagung sempurna dalam urusan toleransi. Masih ada persoalan keagamaan yang pernah muncul dan tetap perlu diperhatikan. Namun, pengalaman hidup sehari-hari memberi saya alasan untuk menghargai suasana yang relatif aman tersebut.
Polres Tulungagung bahkan pada 2026 masih rutin mengamankan ibadah Minggu di berbagai gereja dan menyebut perlindungan kegiatan keagamaan sebagai bagian dari pelayanan kepada seluruh masyarakat. Bagi saya, rasa aman untuk beribadah bukan fasilitas tambahan. Itu adalah bagian dasar dari kehidupan sebagai warga negara.
Syukur yang tidak boleh dianggap remeh
Saya bersyukur pernah dan masih bisa merasakan Tulungagung sebagai tempat yang relatif nyaman bagi masyarakat dengan keyakinan berbeda. Tidak adanya pengalaman langsung berupa penolakan atau pembubaran paksa ibadah membuat kehidupan beragama terasa lebih normal. Saya bisa menjadi Katolik tanpa harus merasa terus-menerus menjelaskan keberadaan saya. Bagi saya, itulah salah satu bentuk toleransi yang paling nyata.
Pada akhirnya, toleransi bukan sekadar spanduk bertuliskan kerukunan antar umat beragama. Toleransi terasa ketika orang lain membiarkan kita beribadah dengan tenang. Toleransi terasa ketika perbedaan agama tidak otomatis membuat seseorang menjadi musuh. Dan pengalaman seperti itulah yang membuat saya punya alasan sederhana untuk berkata: saya bersyukur tinggal di Tulungagung.
Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 3 Tradisi Manten Paling Unik di Tulungagung. Terdengar Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warlok.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
