Berhenti Bilang Anak TikTok Alay! Bikin Kontennya Sulit Tauk!

Saya betul-betul merasa tergiur ingin merasakan langsung keseruan dan keasyikan ketika bermain TikTok. Kok kayaknya menyenangkan ya?

Artikel

Avatar

TikTok mulai ramai kembali. Apa emang dari dulu ramai, ya?

Setelah berselancar, ternyata menurut data Sensor Tower, pengunduh aplikasi Tik Tok semakin meningkat. Aplikasi yang sebelumnya sering disebut “alay” ini, kini menduduki posisi kedua setelah diunduh lebih dari 799 juta pengguna sepanjang 2019. Fiuh, banyak juga, ya?

Melihat banyak orang yang menggunakannya, saya akhirnya mencoba mengunduh aplikasi ini. Benar saja, dari orang biasa aja dengan jumlah penayangan yang nggak banyak-banyak amat, hingga kalangan para artis, mereka sudah merambah dunia TikTok.

Berbagai potongan lagu, filter dari yang super mulus kinclong, sampai filter wajah amburadul juga terus update di TikTok. Dari pengamatan saya ketika menggunakan aplikasi ini, banyak sekali kreasi video yang bisa dibilang lucu dan “menggairahkan” dalam aplikasi TikTok ini. Apalagi, ini semakin menarik ketika video-video tersebut mengikuti tren yang sedang ramai diperbincangkan.

Saya akhirnya mencoba aplikasi ini. Saya betul-betul merasa tergiur ingin merasakan langsung keseruan dan keasyikan ketika bermain TikTok. Kok kayaknya menyenangkan ya, bisa joget-joget sendiri atau seru-seruan sama teman-teman gitu.

Percobaan pertama bikin video, gagal. Hasilnya jelek. Mulai lagi percobaan berikutnya, sampai berkali-kali, dan menghabiskan banyak waktu. Bayangkan saja, saya butuh waktu sekitar 30 menit hanya untuk menyelesaikan satu video yang berdurasi 15 detik. Luar biasa, nggak?

Ternyata eh ternyata, bikin video TikTok itu nggak semudah yang saya kira. Sungguh susah banget. Beneran yang susah banget gitu. Pasalnya, bikin video TikTok bukan sekadar memilih lagu, memilih filter, terus jeng-jeng-jeng jadilah video yang berseliweran di timeline dan sanggup menghibur kita. Percayalah, proses untuk menghibur orang lain tidak sesederhana itu.

Baca Juga:  Kebebasan Berpendapat di Media Sosial: Jangan Bedakan Antara Media Sosial dan Kehidupan Nyata

Jadi, ketika kita pengin bikin video TikTok, pilih dulu lagunya, pilih filter dan tema aktivitas ‘kita ini mau ngapain, sih?’. Misalnya, pengin bikin foto yang berjajar tiga ala-ala untuk menggambarkan sebuah peristiwa berkesinambungan. Sumpah, hal sesimpel ini aja butuh waktu super lama banget. Belum lagi kalau salah-salah. Kayak begini ini contohnya.

WhatsApp Image 2020-01-17 at 15.32.42.jpeg

Atau, misalnya saja kita pengin bikin video dubber. Di sana ada permainan ekspresi, hafal lirik dubber, dan banyak hal lain. Video dance juga begitu! Ada fase hafalan gerakan, mikirin filter biar keren, terus diberi efek di beberapa bagian setelah recording, atau bahkan sebelum recording.

Jadi, melihat keribetan dalam proses bikin video TikTok, dengan segala hormat saya mengucapkan kepada rekan-rekan yang sudah ‘profesional’ di TikTok, “Selamat, ya. Anda sungguh hebat betul!”

Ya, main TikTok itu butuh kesabaran dan kerja keras. Kita-kita yang sering bilang mereka alay, bikin video ora jelas terus saat tengok hasilnya malah merasa terhibur, lebih baik segera bertobatlah. Bikin konten TikTok sangat tidak mudah, Kawan. Ada berbagai perjuangan untuk bikin video 15 detik dan bikin kita-kita terhibur selama beberapa menit ini.

BACA JUGA Melihat Ketulusan Muslik Dalam Bermain Tik Tok atau tulisan Maya Rahma lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
6

Komentar

Comments are closed.