Beratnya Jadi Petugas Sensus, Dicurigai Mau Minta Sumbangan hingga Data yang Tidak Relevan

Beratnya Jadi Petugas Sensus, Dicurigai Mau Minta Sumbangan hingga Data yang Tidak Relevan Mojok.co

Beratnya Jadi Petugas Sensus, Dicurigai Mau Minta Sumbangan hingga Data yang Tidak Relevan (unsplash.com)

Kalian sudah didatangi oleh petugas sensus ekonomi?

Pertengahan Juni lalu, pengurus RW menginformasikan akan ada petugas sensus ekonomi yang akan bersilaturahmi ke rumah. Namun, sampai saat ini rumah saya belum juga kedatangan petugas sensus. Mungkin antreannya masih jauh. Maklum, dengar-dengar satu petugas sensus kebagian jatah sekitar 250-400 KK. Wah, lumayan banyak juga, ya.

Soal sensus ekonomi ini, beberapa orang merasa kalau momennya kurang pas. Negara sedang tidak baik-baik saja, ehhh… lha kok tiba-tiba warganya ditanya “Punya emas berapa gram?”, “Punya rekening pribadi atau nggak?”, dan banyak pertanyaan lain.

Wajar kalau akhirnya warga jadi curiga. Padahal kalau dirunut sejarahnya, Sensus Ekonomi ini bukan agenda dadakan pemerintah. Sensus Ekonomi memang rutin diselenggarakan tiap 10 tahun sekali, yaitu pada tahun yang diakhiri dengan angka 6.

Melihat bagaimana sensus ekonomi ini ramai dibicarakan di media sosial maupun tongkrongan, saya jadi bernostalgia. Dulu, saya dan beberapa kawan pernah merasakan jadi petugas sensus. Harus diakui, pekerjaan ini tidaklah mudah. Banyak hal-hal tidak terduga di lapangan yang membuat kami harus banyak-banyak istighfar.

Ditolak warga jadi hal yang biasa

Pertama, jelas penolakan. Bagi petugas sensus, penolakan itu sudah jadi sarapan sehari-hari. Gaya penolakan pun beragam. Ada yang pakai cara halus dengan memanfaatkan bocil yang ada di rumah. Si bocil bilang, “Rumah sepi”. Padahal, dari luar terdengar jelas ada suara orang dewasa di dalam rumah.

Ada pula yang mempersilakan kami masuk, tapi ketika ditanya ini dan itu, tidak bersedia menjawab. Yang paling ekstrem adalah yang secara terang-terangan menolak kedatangan kami. Baru juga memperkenalkan diri (bahkan pernah juga belum kenalan sama sekali), pemilik rumah sudah berkacak pinggang menyuruh kami angkat kaki. Mereka marah-marah. Kalau sudah begitu, rasanya ingin pulang ke rumah saja.

Petugas sensus dikira mau minta sumbangan

Hal tidak menyenangkan lain ketika menjadi petugas sensus, dan ini sering sekali terjadi, adalah kami dikira mau minta sumbangan.

Kurang lebih situasinya begini. Kami masih berdiri di depan rumah selepas memberikan salam. Lalu, tuan rumah muncul dari balik pintu. Ehh, bukannya mempersilakan kami masuk, beliaunya malah langsung berbalik badan sambil kibas tangan. “Maaf’e, Mba. Maaf”

Kalian pasti tahu kan arahnya kemana? Yak. Betul. Kami dikira mau minta-minta sumbangan.

Ya, warga nggak sepenuhnya salah sih. Ketika turun ke lapangan, petugas sensus memang dibekali dengan berbagai macam dokumen dalam map, Id-Card tergantung di leher, dan menyandang tas ransel segede gaban. Jelas warga yang skeptis langsung pasang mode defensif. Mau minta sumbangan nih pasti!

Dikira mau dapat bantuan

Dan, kalau toh ada warga yang menyambut kami dengan baik, bukan berarti segala sesuatunya berakhir happy ending. Justru, keramahan itulah yang jadi masalahnya. Soalnya, tak jarang keramahan yang ditunjukkan warga ini didasari atas kesalahpahaman. 

Banyak warga mengira bahwa pendataan yang kami lakukan ini adalah pendataan untuk pembagian bansos (bantuan sosial) atau pembagian BLT. Alhasil, warga pun menjadi sangat bersemangat menceritakan segala kesusahan hidupnya agar terlihat layak mendapatkan bantuan. Bahkan, ada yang sampai blak-blakan menanyakan kapan bantuan akan mereka terima.

Di sinilah momen paling canggung sekaligus bikin tidak enak hati bagi petugas. Kami harus pelan-pelan menjelaskan bahwa sensus ini murni untuk data statistik negara, bukan buat bagi-bagi sembako atau uang tunai. Seketika, raut wajah mereka dari yang tadinya sumringah berubah asem.

Kami jadi yang nggak enak sendiri. Nggak tahu kenapa. Aneh, memang.

Petugas sensus pusing, data tidak sesuai hingga aplikasi menguras emosi

Nggak enaknya jadi petugas sensus tidak melulu bersumber dari interaksi dengan warga. Data-data yang jadi pegangan kami juga seringkali ngajak gelut. Contoh, ada Kartu Keluarga (KK) warga yang belum diperbarui bertahun-tahun. 

Di atas kertas tertera nama anggota keluarga lengkap, tapi saat didatangi, anaknya sudah merantau, kakeknya sudah meninggal, atau pasangannya sudah bercerai. tapi namanya masih nangkring di satu lembar yang sama. Ketika ditanya kenapa tidak diperbarui, jawaban mereka kalau nggak “ribet” ya “nggak sempet”.

Belum lagi urusan warga kontrak atau kos-kosan yang alamat KTP-nya entah di mana, tapi aktivitas ekonominya ada di wilayah yang kami data. Sebagai petugas, kami dipaksa merapikan benang kusut ini sendirian.

Aplikasi pendukung yang seharusnya jadi alat tempur kami juga terkadang ikut-ikutan menguras emosi. Mendadak freeze atau crash-lah, server pusat yang mendadak down berjamaah, dan lain sebagainya. Sedih banget pokoknya kalau diceritain.

Untungnya, semua itu kini tinggal kenangan. Sudah lama saya tidak lagi ikut-ikutan mendaftar jadi petugas sensus. Sudah nggak boleh juga sama instansi saya saat ini. 

Lain cerita dengan kawan saya. Dia memang absen di rekrutmen petugas Sensus Ekonomi tahun ini karena jadwalnya yang bentrok dengan agenda dia yang lain. Tapi, di lain waktu, dia masih ingin mendaftar sebagai petugas sensus. Nggak ada istilah kapok. Seneng katanya bisa ketemu banyak orang dengan beragam karakter.

Penulis: Dyan Arfiana Ayupuspita
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Warung Madura Contoh Ideal Menjalankan Toko: Kejujuran, Barang Lengkap, dan Layanan Sat-Set Adalah Kunci.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version