Beratnya Hidup Menjadi Seorang Penderita Phobia Cicak

Artikel

Avatar

Di dunia ini ada seabrek phobia aneh. Ada yang takut terhadap hujan, Ada yang takut cinta, Ada yang takut sama tawa, ada juga phobia terhadap cicak.

Cicak? Mungkin phobia yang satu itu terdengar aneh. Tapi percayalah, phobia yang dimasukkan ke dalam golongan Herpetophobia (phobia terhadap reptil) itu benar-benar ada. Saya adalah salah satu penderitanya.

Phobia ini adalah termasuk phobia yang paling merepotkan. Mengapa?

Begini, Mas, Mbak. Jika kita phobia terhadap ketinggian, kita tinggal menjauhi tempat-tempat tinggi. Jika kita menderita Thalassophobia (phobia terhadap laut), kita tinggal menjauhi laut dan sejenisnya. Jika kita phobia terhadap wajah sendiri, kita tinggal menghindari cermin. Namun jika kita phobia terhadap cicak, kita tidak bisa berbuat apa-apa selain menabahkan hati. Karena cicak adalah hewan yang sulit dihindari. Sekalipun kita sudah sekuat tenaga menghindari dia, belum tentu dia mau menghindari kita.

Seperti kecoa dan tikus, cicak bisa dibilang sudah menjadi hewan peliharaan non resmi di tiap-tiap rumah. Dia juga bisa mendiami semua jenis bangunan. Habitatnya luas, mulai dari pelosok desa sampai kota besar. Dia juga termasuk hewan yang bisa ditemukan di hampir seluruh belahan dunia.

Rasa-rasanya cuma kutub saja daerah di bumi yang bebas dari cicak. Masalahnya, saya gak mau tinggal di kutub. Saya juga takut sama beruang kutub.

Mengurung diri di rumah juga bukan solusi tepat. Tidak ada bagian rumah yang aman dari jamahan cicak. Dengan tubuhnya yang (aduh, maaf saya gak bisa mendeskripsikannya, gemeteran) dia tetap bisa menyelinap masuk ke kamar tidur meski pintu dan jendela sudah tertutup rapat. Modus operandinya dengan menyelinap masuk lewat erang-erang atau celah di sudut-sudut plafon. Dan ketika saya lengah karena asyik dengan laptop, tiba-tiba dia merayap di dinding dekat saya sambil seolah-seolah berkata, “Cilukba, Kakaaak!”

Baca Juga:  Mengenal Bumilangit, Film yang Disebut-sebut Sebagai Kembarannya Avengers

Sungguh menyebalkan. But the most asem part is, sebelum saya sempat melontarkan kata-kata mutiara, semuanya mendadak gelap.

Penderitaan saya tak cuma di situ. Saat bertandang ke tempat lain, saya harus ekstra hati-hati. Saya juga nggak bisa bebas seperti tamu/pengunjung pada umumnya. Dan yang paling merepotkan adalah kalau kebelet pipis/BAB.

Saya tahu, menahan pipis/BAB sangat tidak baik buat kesehatan, bisa merusak organ dalam. Kalau kondisinya saya sedang bertamu ke tetangga atau belanja ke warung, mungkin tidak jadi soal. Ketika sudah nggak tahan, saya tinggal berlari pulang ke rumah.

Yang bikin pusing adalah kalau sedang berada jauh dari rumah. Dalam perjalanan ke luar kota, misalnya. Daripada ngompol atau kandung kemih pecah, saya tidak punya pilihan selain memakai toilet umum.

Di sinilah ketegangan dimulai. Sebelum nyelonong masuk kamar kecil, saya harus harus gebrak-gebrak pintu dulu untuk mengusir cicak. Saya juga harus tengak-tengok dulu memastikan cicaknya benar-benar minggat.

Memalukan memang. Pasti orang-orang berpikir, “Ini orang mau buang hajat apa mau marawisan, kok pakai acara gendang-gendangan segala?” Namun apa boleh buat,  kan nggak asik kalau saat sedang mengeluarkan cairan, eh tiba-tiba dia balik lagi dan saya pingsan.

Sudah?

Belum! Punya teman yang jahilnya kelewat batas juga berat. Dan punya teman yang jahilnya kelewat batas yang tahu bahwa saya takut cicak, membuat hidup saya terasa berkali-kali lipat lebih berat.

Pernah satu kali saya keceplosan di grup WA, menceritakan perihal phobia saya. Saya lupa bahwa beberapa member grup itu adalah manusia super-jahil. Akibatnya saya sering jadi korban kejahilan mereka.

Ngeprank kaum cicakphobia seperti saya ini gampang banget. Tidak perlu bertatap muka langsung juga bisa. Caranya dengan mengirim gambar cicak di grup WA saat saya tengah aktif mengobrol. Saya pasti auto-klenger.

Baca Juga:  Sekilas Norwegian Wood: Alternatif Bacaan di Usia 20-an

Ngetag nama saya di gambar cicak yang diposting di media sosial juga ampuh. Tapi itu lama. Kalau mau mendapat fast response, Anda bisa mengirimnya via Messenger atau japri WA–tapi itu khusus bagi yang hatinya sudah membatu saja.

Supaya tidak kena bully semacam itu lagi, saya menerapkan strategi baru: pundung. Saya mengancam akan keluar dari grup selama gambar binatang itu masih mangkal di sana.

Untungnya mereka sudah dewasa dan mau mengerti. Namun itu cuma sementara. Kadang-kadang mereka kumat lagi kalau ada yang memprovokasi. Dan saya harus siap-siap ngeblackout lagi.

Di tengah perkembangan dunia medis yang kian modern ini, saya selalu berharap mereka mampu menemukan obat anti-phobia. Jika berhasil, tentu saja ini akan menjadi hal yang melegakan buat orang-orang yang bernasib sama. Semoga saja keluhan saya didengar pemerintah. Siapa tahu mereka tergerak membuat terobosan mutakhir berupa jimat anti-phobia. Atau minimal jimat anti-cicak juga bolehlah.

BACA JUGA Belajar Menerima Penolakan Cinta dari Naruto atau tulisan Agung Setoaji lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
7


Komentar

Comments are closed.