Beli Skincare karena Racun TikTok Adalah Hal Bodoh

Beli Skincare karena Racun TikTok Adalah Hal Bodoh terminal mojok.co

Beli Skincare karena Racun TikTok Adalah Hal Bodoh terminal mojok.co

Saya mulai sedikit memahami dan mengenal tentang dunia per-skincare-an justru dari TikTok. Dari platform ini, minimal saya jadi tahu penggunaan basic skincare yang wajib, seperti rajin cuci muka, menggunakan moisturizer, dan sunscreen.

Selain itu, saya juga jadi mengenal jenis-jenis serum yang bervariatif, bermacam-macam kandungan dalam skincare, dan rentetan penggunaan skincare yang menurut saya cukup ribet. Step-nya di antaranya: double cleansing, toner, essence, serum, moisturizer, sleping mask, dan seterusnya.

Untuk menikmati semua perawatan itu, tentu kita nggak akan sanggup jika hanya mengandalkan budget pas-pasan. Pasalnya, harga skincare ini tergolong cukup mahal. Percayalah, ia bisa bikin isi dompet melarat.

Sederet pemahaman saya terkait keberagaman produk skincare ini tak lepas dari peran para skincare enthusiast. Begitu pun viralnya sebuah produk skincare, tak lepas dari peran mereka di dalam memberikan kesan positif di setiap ulasannya.

Namun, perlu dipahami bahwa setiap ulasan positif di dalam konten tersebut mutlak juga berlaku pada diri kita, itu jelas keliru. Dan sialnya, kawan saya punya pengalaman bodoh terkait hal ini.

Beberapa kali kawan saya membeli produk skincare karena kena racun TikTok. Ia berharap bisa mendapatkan kulit wajah yang lebih sehat. Namun, nyatanya itu berbanding terbalik dengan hasil yang ia peroleh. Bukannya malah bikin sehat dan cerah, beberapa produk skincare yang sempat viral dan jadi racun TikTok tersebut malah bikin wajahnya jerawatan. Bukan hanya kawan saya, sebetulnya banyak juga orang di luar sana yang saya temui melakukan kesalahan serupa.

Kesalahan mereka karena selalu ingin mengejar hasil lebih, tanpa mempertimbangkan keputusan yang mereka ambil. Ada semacam ketidakpuasaan dengan produk yang mereka gunakan saat ini. Padahal setiap produk skincare baru bekerja maksimal dalam rentang waktu tertentu.

Serum misalnya, bekerja dalam rentang waktu 6-8 minggu, moisturizer 2 minggu, retinol 10-20 minggu, eye cream 6-8 minggu, dan seterusnya. Sehingga, memakai skincare itu nggak seinstan harapan kita saat pengin memiliki kulit yang sehat.

Rasa ketidakpuasaan ini sebenarnya wajar, sesuatu yang alami dalam diri manusia. Namun, jika ketidakpuasaan ini nggak dilandasi dengan rasionalitas dan hanya mengendepankan hawa nafsu, jatuhnya adalah tindakan bodoh.

Mereka harusnya memahami jika setiap orang memiliki jenis kulit berbeda-beda. Satu produk skincare mungkin cocok di kulit si A, tapi bisa jadi nggak berlaku di kulit wajah si B. Selain itu, mereka juga harus pajam jika para skincare enthusiast ini membeiri tanggapan positif terhadap sebuah produk karena nggak terlepas dari suatu kepentingan.

Mungkin saja, mereka ini sudah di-endorse untuk ngasih kesan “W-O-W” pada produk itu, meskipun produk tersebut nggak bagus-bagus amat. Sialnya, karena termakan bujuk rayu, orang-orang seperti kawan saya ini lantas lebih mengedepankan hawa nafsu dan ikut membeli produk tersebut.

Jika hasilnya sesuai harapan tentu nggak akan jadi masalah. Namun, jika hasilnya memberi efek buruk, jatuhnya malah rugi dan harus mengikhlaskan duit ratusan ribu lenyap begitu saja. Padahal duitnya bisa dimanfaatin untuk hal yang lebih berfaedah.

Jadi, bagi kalian yang ingin membeli produk skincare, jangan asal membeli karena terpengaruh racun TikTok. Saran saya sebelum membeli, kalian harus pikirkan beberapa hal. Pertama, harus mengentahui apakah kandungan di dalam produk skincare sesuai dengan jenis kulit wajah kalian. Kedua, perhatikan kolom komentar untuk mengetahui respons terkait produk skincare dalam konten tersebut, apakah ada orang yang mengeluh setelah penggunaan produk itu atau nggak. Ketiga, jangan terlalu bernafsu untuk gonta-ganti skincare ketika kalian sudah menemukan skincare yang cocok di wajah kalian.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Exit mobile version