Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Fesyen

Belajar Menjadi Feminis Dari Ibu yang Tidak Tahu Apa Itu Feminisme

Atik Soraya oleh Atik Soraya
27 September 2019
A A
feminisme
Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga:

Pemuda Pati Takut Menikah karena Standar Mahar Nggak Masuk Akal seperti Duit Ratusan Juta, Motor, bahkan Mobil

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat

Ibu saya lahir tahun 60-an, ia bukan seorang kutu buku yang berpikiran kritis. Ia hanya sosok perempuan yang kala itu hidup dalam kungkungan budaya patriarki ayahnya (baca: kakek saya). Hidupnya diatur penuh oleh kakek, dan ibu sebagai anak perempuan dari 9 bersaudara hanya bisa tunduk patuh dengan segala yang kakek arahkan walau ada banyak hal yang tidak sesuai dengan kemauan Ibu.
Ketika usia saya masih berada di bangku sekolah dasar, kekuasaan kakek sebagai laki-laki di keluarga besar saat itu terlalu kentara. Waktu itu saya tidak tahu kalau apa yang kakek lakukan dalam keluarganya adalah sebuah praktik patriarki sampai buku bacaan dan pengalaman serta diskusi menuntun saya untuk tahu sedikit hal soal patriaki. Sebuah sistem yang ada entah sejak kapan, terus mengakar dan diyakini oleh hampir seluruh masyarakat di seluruh dunia. Tidak terikat waktu, tidak pandang bulu, patriarki bisa dianut oleh siapapun.
Waktu terus berjalan, Ibu semakin bertambah usia, saya makin beranjak dewasa, dan kakek kembali ke tempat perisitirahatannya di samping yang Maha Kuasa. Sayangnya, Ibu masih tetap dibelenggu oleh kekuatan patriarki yang dilanjutkan oleh suaminya. Bapak sama kerasnya dengan kakek, mereka mungkin tidak banyak paham apa itu patriarki tapi apa yang mereka praktikan dalam keluarganya merupakan konsep patriarki secara murni.
Belum lagi soal beban ganda yang Ibu harus tanggung, menjadi asisten rumah tangga di salah satu rumah orang berduit di dekat rumah kami tidak melepaskan beban kerja yang ada di rumah sendiri. “Mengasuh” tiga orang kepala (bapak, saya, dan adik) bukan perkara mudah. Dan dengan sifat ego Bapak yang sangat tinggi, ibu jadi sosok perempuan terkuat yang pernah saya kenal.
Namun, ibu tidak berdiam diri. Ibu melawan dengan caranya sendiri. Saya pikir setiap anak terutama anak perempuan sepertinya akan menjadikan ibu sebagai role model. Begitupun saya, dan itu yang saya suka dari ibu. Dengan segala ketidaktahuan dirinya soal ideologi, kepolosan dirinya kalau ada sebuah sistem yang mendoktrin banyak otak, dan semua hal itu ada di kehidupan umat manusia, tapi ia bisa hidup dan melawan apa yang ia alami dengan versinya sendiri.
Saya bersyukur, ibu tidak melanjutkan praktik patriaki yang dianut oleh ayah dan suaminya. Karena seperti apa yang saya ungkapkan di alinea kedua, “Tidak terikat waktu, tidak pandang bulu, patriarki bisa dianut oleh siapapun.“
Dengan tidak melanjutkan konsep patriarki, bukan berarti Ibu mendeklarasikan diri sebagai seorang feminis. Ibu tidak mengerti apa itu feminisme, dia juga tidak paham kalau ada banyak perempuan yang bersatu turun ke jalan menyuarakan tuntutan untuk melindungi perempuan lain. Ia tidak bermain dengan perlawanan semacam itu. Sekali lagi, Ibu melakukannya dengan caranya sendiri.
Ibu mendobrak hal bobrok di lingkup yang sangat kecil, keluarganya. Secara tidak langsung, ia mengajarkan saya untuk melawan praktik tersebut lewat cara yang halus sekali. Ibu tidak mengetahui kalau apa yang ia lakukan, apa yang ia tanamkan pada saya sebagai anak perempuan satu-satunya yang ia miliki adalah sebuah konsep feminisme, dan itulah ibu.
Melalui cara yang lembut ia menguatkan saya untuk bisa terus menegakkan kepala ketika banyak orang yang sering meremehkan saya sebagai seorang perempuan miskin. Ibu tidak membiarkan tongkat estafet sistem bobrok patriarki itu berada di hidup orang lain, ia menghentikkannya. Dia sosok perempuan kuat yang membiarkan dirinya sebagai orang terakhir (di lingkungan keluarga) yang merasakan pahitnya berada dibawah bayang-bayang ideologi tersebut.
Dia membiarkan anak-anaknya menggapai apa yang disukai tanpa ada paksaan. Untuk ruang lingkup yang sangat kecil, Ibu mematahkan praktik patriarki tersebut. Saya ingat betul, ia menanamkan pada saya untuk bisa mandiri di atas kaki sendiri. “Harus lebih kuat dari Ibu, harus pintar cari uang sendiri supaya bisa menghidupi diri sendiri” Ibu sering mengucapkan kalimat tersebut saat ada banyak hal berengsek yang datang di hidup kami. Tentu feminis bukan hanya perkara pintar mencari materi di atas kaki sendiri, namun Ibu mengajarkan anak-anaknya untuk bisa keluar dari masalah yang paling membelit hidup keluarga kami.
“Jangan percaya pada siapapun, jangan menggantungkan hidup dengan manusia nanti kamu dikecewakan” ia mengajarkan saya untuk membuat keputusan sendiri, tanpa menggantungkan hidup dengan siapapun -termasuk laki-laki.
Ada satu yang makin membuat saya yakin kalau Ibu melawan patriarki dan seorang feminis. Ia pernah bilang, “sejahat-jahatnya Bapak, dia tetep Bapak kamu.” Ia tidak membenci laki-laki, ia tidak memusuhi laki-laki, ia melawan untuk sistem patriarki bukan laki-lakinya karena tidak terikat waktu, tidak pandang bulu, patriarki bisa dianut oleh siapapun.

Ibu hanya satu dari jutaan perempuan di seluruh dunia yang mendobrak sistem bobrok lewat cara sederhana dalam ruang lingkup yang sangat kecil. Namun ketahuilah, sekecil apapun usaha para feminis hal tersebut sangat berdampak bagi kehidupan umat manusia. (*)

BACA JUGA Pendengar Curhat yang Baik Adalah Mereka yang Tiap Curhat Nggak Kalian Dengerin atau tulisan Atik Soraya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 Februari 2022 oleh

Tags: FeminisFeminismeOrangtuaPernikahan
Atik Soraya

Atik Soraya

ArtikelTerkait

Bridesmaid di Pernikahan Nggak Wajib-wajib Amat, Kenapa Masih Drama Soal Seragam sih Terminal Mojok pager ayu

Pager Ayu, Sebuah Tradisi Mantenan Jawa yang Tergusur oleh Bridesmaid

11 September 2023
pernikahan di desa bedanya di kota hajatan mojok.co

Meluruskan Salah Paham Soal Pesta Pernikahan di Desa yang Bisa Berhari-hari

30 Maret 2020
Jangan Jadi Fotografer Pernikahan kalau Nggak Kuat Mental, Profesi Ini Bukan untuk Sembarang Orang

Jangan Jadi Fotografer Pernikahan kalau Nggak Kuat Mental, Profesi Ini Bukan untuk Sembarang Orang

14 September 2024
Song Joong Ki Umumkan Pernikahan, Netizen Mending Nggak Usah Ikut Campur deh Terminal Mojok

Song Joong Ki Umumkan Pernikahan, Netizen Mending Nggak Usah Ikut Campur deh

1 Februari 2023
Pemuda Pati Takut Menikah karena Standar Mahar Nggak Masuk Akal seperti Duit Ratusan Juta, Motor, bahkan Mobil Mojok.co

Pemuda Pati Takut Menikah karena Standar Mahar Nggak Masuk Akal seperti Duit Ratusan Juta, Motor, bahkan Mobil

7 Februari 2026
forward

Menghargai Kepedulian Orangtua Melalui Pesan WhatsApp yang Selalu Di-Forward Agar Anak Selalu Waspada

27 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi Mojok.co

Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi 

8 April 2026
Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta (Unsplash)

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

3 April 2026
Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua Mojok.co

Mojokerto, Kota yang Tak Pernah Move On dari Masa Lalunya dan Tak Bisa Lepas dari Apa-apa yang Berbau Majapahit

2 April 2026
Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

7 April 2026
Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak di Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd Mojok.co

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd

5 April 2026
Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

4 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM
  • Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”
  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.